
Radit bingung bagaimana mengembalikan kebahagiaan Keysha. Hatinya sakit saat melihat, Keysha selalu melamun.
Keysha pun jatuh sakit, dia tidak mau makan apapun dan muntah setiap kali mencium aroma makanan. Tubuh Keysha pun makin lemah, hingga membuat Radit khawatir.
Setiap kali Radit menawarkan pengobatan dan ingin membawanya ke rumah sakit, Keysha pun menolak.
Key tidak meinginkan apapun, saat ini yang ada di hatinya hanya rasa rindu bertemu dengan Alan.
Namun, hal itu tidak mungkin Key utarakan kepada siapapun, termasuk ibu. Karena rindunya kini sudah terlarang untuk Alan.
Ibu yang merasa khawatir melihat kondisi Keysha, meminta tolong kepada Radit agar membantu beliau membawa pulang Keysha.
Beliau ingin merawat Key dengan memanggil dokter datang ke rumah.
Keysha merasakan perutnya sakit, dia tidak mengkonsumsi apapun selain air minum. Setiap kali diisi, saat itu juga dia memuntahkannya lagi.
Ibu yang sudah berpengalaman merasa curiga, lalu beliau berkata, "Jangan-jangan kamu..."
"Jangan-jangan apa Bu?" tanya Radit penasaran.
"Nak Radit, sebaiknya kita cepat panggil dokter! Kita tidak bisa membiarkan Key terus seperti ini!"
"Iya Bu, Radit sudah hubungi, mungkin sebentar lagi juga sampai."
"Nggak usah Bu, Mas. Key hanya lelah, barangkali masuk angin, besok pasti sembuh."
"Key, kamu sebenarnya kenapa? ayo dong semangat, kamu makan ya!"
Keysha menggeleng dan berkata, "Tolong ambilkan air hangat saja Mas!"
"Tapi Key."
"Mas..."
Radit pun tidak bisa menolak dan akhirnya dia mengambilkan air hangat yang Key minta.
Sekitar tiga puluh menit dokterpun datang dan langsung memeriksa kondisi Keysha.
Radit sudah tidak sabar, begitu dokter selesai memeriksa, diapun bertanya, "Bagaimana Dok? Sebenarnya Key sakit apa?"
"Selamat Pak, istri Anda hamil. Kalau perkiraan saya tidak salah usia kandungannya saat ini 3 minggu."
Radit, ibu dan Keysha sendiri sangat terkejut, mereka tidak percaya dengan ucapan dokter.
"Ini pasti salah Dok? istri saya sudah di vonis tidak akan bisa hamil!" ucap Radit.
"Kenapa Pak, Bu? Kalau kalian merasa tidak yakin dengan hasil pemeriksaan saya, silakan bawa ibu Keysha ke ahli kandungan. Ini saya beri rujukan, Bapak bisa langsung kesana sore ini."
Radit tidak bisa berkata-kata, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apakah dia harus senang karena Key hamil atau dia harus sedih karena rencananya untuk kembali kepada Keysha terancam gagal.
__ADS_1
Ibu juga bingung, tapi beliau harus tegas dan memberikan keputusan untuk nasib anak dan calon cucunya.
Setelah dokter pergi, ibu pun meminta Radit dan Keysha untuk mendengarkan nasehatnya.
"Nak Radit, Keysha, semua ini ketentuan Allah. Jika Dia berkehendak, apa yang tidak mungkin bisa semuanya jadi mungkin."
Sejenak ibu menghela nafas lalu melanjutkan ucapannya, "Ini adalah darah daging Nak Alan, jadi dia wajib tahu. Perceraian ini juga tidak di perbolehkan, karena Keysha sedang mengandung anaknya."
"Tapi Bu!" jawab Radit.
"Nak Radit mau, anak ini lahir tanpa mengetahui siapa ayahnya. Nak, kita jangan terlalu egois, dia ada karena kesalahan kita juga."
"Bagaimana Key?" tanya ibu.
Keysha menangis sambil mengelus perutnya. Buah cintanya dengan Alan sudah tumbuh di rahimnya. Dia bahagia tapi bagaimana janjinya dengan Radit.
Radit yang melihat Keysha menangis pun berkata, "Key, menikahlah denganku dan aku akan menganggap dia sebagai anakku!"
Keysha tidak menjawab, dia malah semakin menangis.
Nak Radit, meskipun kalian nanti menikah, tapi Nak Alan harus tetap diberitahu. Ibu tidak mau menyembunyikan kebohongan.
Radit makin bingung, diapun bertanya kembali kepada Keysha, "Key, pandang aku! Kamu mau kan menikah denganku? Kita akan tetap memberi tahu Alan, tapi ku mohon Key, menikahlah denganku!"
Keysha tidak bisa menjawab, dia ingin membesarkan buah cintanya bersama Alan, tapi Keysha juga tidak ingin menyakiti hati Radit.
Begitu telepon tersambung, Radit pun berkata dengan dingin, "Datanglah ke Bandung sekarang juga, aku tunggu kamu di cafe biasa!"
"Hallo Dit, hallo...ada apa Dit? aku tidak bisa!" jawab Alan.
"Pokoknya aku tunggu kedatanganmu! selambat-lambatnya 3 jam dari sekarang!"
"Aku nggak bisa Dit, saat ini aku sudah di bandara Soekarno Hatta, aku akan melanjutkan kuliah di luar."
"Baiklah, jika kamu tidak mau datang, jangan salahkan jika anakmu akan memanggilku Papa!" ucap Radit sambil memutus panggilan teleponnya.
Keysha yang mendengar hal itupun makin terisak, dia tahu bagaimana perasaan Radit sekarang. Pastinya hati Radit sangat sakit, saat mengetahui kenyataan yang membuat rencananya menjadi gagal.
Radit menghampiri Keysha, lalu dia mengatupkan kedua tangannya sambil berkata, "Maafkan aku Key, karena keegoisan ku semua ini terjadi. Anak itu tidak salah, jadi tidak pantas jika dia yang harus menanggung kesalahan ku."
"Aku akan mencintaimu selamanya Key. Tapi, Kamu dan anak itu berhak bahagia. Aku yakin Alan pasti datang dan rujuklah kembali dengan dia," ucap Radit sambil menangis.
"Aku pergi dulu Key, jika Alan tiba, aku akan membawanya kesini."
Raditpun pergi sambil menghapus air mata. Saat ini dia benar-benar telah kehilangan Keysha untuk selamanya.
Sambil mengemudikan mobilnya dengan kencang, Radit menuju cafe di mana dia meminta Alan datang.
Radit melampiaskan rasa kecewa dan kesedihannya dengan memukul stiur berulangkali.
__ADS_1
Kesalahan orangtua dan kebodohannya telah membuat Radit kehilangan Keysha untuk selamanya.
Alan masih tidak percaya dengan perkataan Radit, tapi jujur dia sangat bahagia. Apapun yang bakal terjadi, dia tidak akan melepaskan Keysha lagi.
Dengan berlari, Alan keluar dari bandara, lalu dia mencari taksi yang akan mengantarnya ke Bandung.
Radit pun sudah menghabiskan beberapa gelas jus, pikirannya kacau dan rasanya dia ingin menjerit mengeluarkan beban di hati.
Pemilik cafe merasa heran, melihat penampilan Radit yang kacau, tapi mereka tidak berani menegurnya dan hanya memberikan apapun yang Radit pesan.
Alan sudah sampai di Bandung, dia tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya. Sesampainya di cafe tempat biasa mereka nongkrong, Alan pun langsung masuk dan mencari keberadaan Radit.
Radit melihat arloji di tangannya, lalu dia menatap ke pintu masuk dan saat melihat Alan, Radit pun bangkit menghampirinya.
"Dit, sebenarnya ada apa?" tanya Alan.
Radit langsung memberikan tinjunya ke perut Alan hingga membuat Alan terhuyung. Dia tidak menyangka akan mendapatkan ucapan selamat datang berupa pukulan dari sahabatnya.
Setelah itu Radit pun langsung memeluk Alan dan menangis tergugu hingga membuat Alan makin bingung.
"Maafkan aku Lan, aku sahabat yang paling egois!"
"Dit, katakanlah ada apa?"
Radit tidak menjawab, lalu dia menarik Alan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Kamu yang stir Dit! Kita ke rumah Ibu!"
Alan pun tidak banyak bertanya, diapun sedih melihat kehancuran hati sahabatnya.
Sepanjang jalan hanya suara klakson mobil saja yang terdengar, sedangkan keduanya diam dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
Setibanya di rumah ibu, Radit pun langsung membawa Alan menemui Keysha yang saat ini masih terbaring.
Keysha menatap kedatangan Alan dengan mata sayu dan Alan pun sedih melihat kondisi Key yang tampak pucat dan begitu lemah.
Radit yang melihat keduanya hanya diam dan saling tatap, langsung memegang tangan Alan dan juga tangan Keysha.
Lalu, Radit pun menyatukan tangan keduanya sambil berkata, "Rujuk dan berbahagialah bersama calon anak kalian. Maafkan kesalahan ku selama ini Lan, Key...Aku telah menjadi penghalang takdir cinta kalian."
Alan menarik tubuh Keysha dan mendekapnya erat. Keduanya pun menangis, tangis bahagia, karena takdir telah mempersatukan mereka kembali.
Ibu dan Radit juga ikut menangis. Meski saat ini hati Radit hancur, tapi dia harus ikhlas demi kebahagiaan dua hati sahabatnya.
Terimakasih atas semua dukungan kalian para sobat, lebih dan kurang aku mohon maaf dan aku tunggu kalian di karya-karya ku yang lain ya....See you🙏😘
__ADS_1