
Setelah Alan dan Radit selesai makan, keduanya pun berpisah ke arah tujuan masing-masing. Alan kembali ke rumah sakit dan Radit balik ke Bandung.
Keysha menjalankan aktivitas seperti biasa dan kembali ke kost-kostan untuk melepas lelah.
Orangtua Radit kini berusaha mendekati Radit, mereka meminta maaf atas kesalahan selama ini. Dan papa memintanya untuk kembali mengurus perusahaan.
Radit sudah memaafkan mereka, walau bagaimanapun salahnya orangtua, anak tetap harus berbakti kepada mereka.
Tapi Radit untuk saat ini belum bisa kembali ke perusahaan sang papa, dengan alasan ingin menenangkan diri.
Radit jujur ke mereka, jika dia telah memiliki dua perusahaan yang saat ini di jalankan oleh teman-temannya.
Papa sebenarnya sudah tahu sejak lama dan beliau tidak mempermasalahkan hal itu. Toh perusahaan miliknya suatu saat juga akan menjadi milik Radit.
Mereka tidak berani memaksa Radit lagi dan berjanji akan meminta maaf kepada Keysha.
Namun, Radit tidak mengatakan jika dia dan Keysha sudah berencana akan menikah lagi suatu hari nanti.
Radit menghabiskan hari-harinya di rumah, sambil memeriksa laporan keuangan perusahaannya.
Setiap hari, Radit pun menelepon Key untuk menanyakan kabar dan sekedar menanyakan sudah makan atau belum. Radit sangat merindukan Keysha, tapi dia tidak bisa mendekapnya.
Terkadang, dia melihat dan mengikuti Key dari kejauhan hanya untuk melepas rindu. Karena, itu permintaan Keysha selama mereka belum kembali menikah.
Masa iddah Keysha sudah hampir selesai, tapi Alan belum juga memberinya keputusan. Radit bingung, dia tidak punya calon lain untuk bisa dimintai tolong.
Besok, Radit akan kembali menemui Alan untuk menanyakan tentang keputusannya, menolak atau menerima untuk menikahi Keysha sebagai istri siri yang Radit titipkan dan akan dia ambil setelah waktunya tiba.
Saat ini, ternyata Alan sedang stres menghadapi sikap Devia. Mereka belakangan seringkali bertengkar via telepon dengan masalah yang sama.
Alan memohon agar Devia mengalah demi para orangtua yang terus mendesak ingin segera memiliki cucu, tapi Devia tetap pada pendiriannya.
Bahkan Alan telah mengancam akan menikah lagi, tapi Devia malah menantangnya.
Devia mengatakan Alan tidak akan mungkin berani melakukannya, karena Devia tahu Alan merupakan tipe suami setia dan lebih memikirkan perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Alan juga tidak mungkin tega menyakiti perasaan para orangtua, dengan mengajukan perceraian, yang akan membuat hubungan baik kedua keluarga menjadi rusak.
__ADS_1
Mendapatkan tantangan seperti itu, Alan jadi ingat dengan permintaan Radit. Mungkin dengan menerima tawaran itu, Alan akan bisa merasakan kebahagiaan berumah tangga meski hanya sesaat. Apalagi, orang yang akan Alan nikahi sebagai istri siri, adalah wanita yang sangat dia cintai.
Malam ini, Alan melaksanakan sholat istikharah, dia memohon petunjuk kepada Allah tentang keputusan yang akan dia ambil.
Akhirnya Alan memantapkan hati, dia akan menerima Key sebagai istri sirinya.
Selain ingin menolong keduanya, Alan juga ingin merasakan kebahagiaan hidup bersama Keysha, meski hanya sesaat.
Kini rasa cintanya terhadap Keysha menarik kuat hati Alan, agar dia menelepon Radit dan menerima permintaan sahabatnya itu.
Dengan mengucap bismillah, Alan menghubungi nomor Radit dan Radit pun tersenyum saat melihat siapa si pemanggil.
Radit pun buru-buru menerima panggilan dari Alan, dan dengan bersemangat, diapun bertanya, "Kamu mau menolong kami kan Lan?"
"Sabar dong Dit!"
"Aku sudah melakukan sholat istikharah dan aku putuskan tidak..."
"Stop Lan. Sudahlah jika kamu tidak bisa. Maaf, aku sudah merepotkanmu."
Alan heran, kenapa Radit begitu sensitif hingga secepatnya menutup panggilan sebelum Alan menyelesaikan ucapannya.
"Bagaimana ini Key, siapa lagi orang yang bisa menolong kita. Alan tidak bisa dan nggak mungkin 'kan aku memilih sembarangan orang untuk menikahimu," monolog Radit.
Alan kembali menelepon dan Radit malas mengangkatnya. Tapi, karena panggilan Alan sudah puluhan kali masuk, akhirnya Radit pun mengklik tanda terima panggilan.
"Hallo, ada apa lagi Kan?"
"Kamu kenapa Dit? Aku 'kan belum selesai berbicara dan kamu, sudah main putuskan saja. Aku tidak menolak permintaan mu Dit!"
"Apa Lan! Aku tidak salah dengar? Kamu serius Lan?"
"Hemm, aku serius Dit! Aku akan menikahi Keysha."
"Alhamdulillah, akhirnya jalan agar aku kembali kepada Keysha terbuka juga. Terimakasih Lan, terimakasih. Kamu memang sahabat dan saudara terbaikku."
Radit sangat senang, lalu dia berkata lagi, "Baiklah Lan, besok aku akan temui Keysha untuk mengatakan hal ini. Setelah Key setuju, kami akan segera menghubungimu, menentukan kapan waktu yang tepat untuk pernikahan kalian."
__ADS_1
"Oh ya Lan, aku rasa akan lebih baik, jika acara pernikahan kalian kita adakan di rumah ibu saja."
"Terserahlah Dit, kamu atur saja. Aku ikut rencana kalian."
"Oh ya Lan, setelah kalian menikah, apakah kamu bisa cuti dan tinggal di sini!"
"Aku usahakan Dit, sekalian aku ingin menenangkan diri. Aku capek terus-terusan bertengkar dan menghadapi keegoisan Devia."
"Oh syukurlah Lan, aku tidak mau kamu membawa Keysha pergi dari kota ini. Aku bisa gila, jauh dari dia. Setiap hari hanya melihat dia dari kejauhan saja, sudah membuatku tersiksa."
"Baiklah Dit, aku akan bicarakan dengan teman-temanku, mereka pasti paham, karena mereka tahu bagaimana saat ini kondisi perkawinan ku, bahkan mereka selalu mendesak agar aku menikah lagi."
"Jadi, kamu cerita ke mereka tentang rencana pernikahan ini Lan?"
"Tidak Dit, setidaknya aku pamit ke mereka karena ingin menghindari Devia yang katanya seminggu lagi akan ada pemotretan di Jakarta."
"Mungkin aku akan ambil waktu istirahat satu bulan. Tapi, aku ada satu permohonan Dit, tolong izinkan aku, satu bulan bersama Key tinggal di suatu tempat yang tidak ada satu orang pun akan menemui kami termasuk kamu."
"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya bahagia memiliki istri yang hanya fokus memperhatikan ku, tanpa memikirkan pekerjaan atau yang lainnya. Walaupun itu hanya satu bulan. Bagaimana Dit?"
"Apa tidak bisa ditukar dengan permintaan yang lain Lan?" tanya Radit yang jelas merasa takut dan keberatan.
"Nggak Dit, hanya itu yang aku inginkan, karena aku nggak pernah dan tidak akan mungkin selamanya dapatkan hal itu dari Devia."
Radit sejenak terdiam, dia tidak punya pilihan lain. Radit pun sebenarnya merasa iba, melihat ketidak beruntungan Alan dalam hal berumahtangga.
Mungkin, saat ini kesetiakawanannya juga sedang di uji, apakah dia sanggup berkorban, membagi sedikit kebahagiaannya dengan ikhlas untuk sahabat yang telah rela berkorban demi kebahagiaan seumur hidup Radit dan Keysha.
"Baiklah Dit, aku setuju. Tapi kumohon jangan bawa Key keluar provinsi. Aku akan atur, kalian tinggal di sebuah villa yang ada di Bandung ini."
"Iya," jawab Alan.
Radit pun kembali berterimakasih, mereka sudah merencanakan, mempertimbangkan dan akhirnya memutuskan.
Kini, hanya tinggal menunggu takdir yang akan menentukan, langkah, pertemuan dan juga jodoh dari ketiga sahabat itu di masa datang.
Bersambung.....
__ADS_1