ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 50. KESABARAN ALAN


__ADS_3

Devia terus saja ngambek, meski Alan sudah berusaha menjelaskan kenapa dia melakukan hal itu.


Malah Devia tambah marah dan menuduh jika Key yang memprovokasi Alan.


Alan pun balik marah, dia tidak suka jika Devia menimpakan kesalahan dengan menuduh Keysha.


"Kamu jangan asal bicara Dev, Keysha melakukan hal itu karena dia peduli terhadap kebahagiaan kita. Aku sendiri tidak tahu jika dia menyamperin kamu. Bahkan harusnya kita berterimakasih, sebagai teman, dia dan Radit mau peduli terhadap kebahagiaan kita."


"Kamu bela saja dia Kak! Jangan-jangan kamu mencintai dia!" ucap Devia dengan nada tinggi.


Jantung Alan terasa berhenti berdetak, dia tidak menyangka jika Devia merasa curiga. Padahal, Alan tidak sedikitpun menunjukkan rasa cintanya terhadap Keysha kepada siapapun. Radit saja, tidak pernah merasa curiga.


"Apa mungkin wanita memang lebih peka, tapi Keysha sendiri bahkan tidak tahu jika aku sangat mencintainya," batin Alan.


Alan mendesah, lalu dia berkata, "Kamu jangan timpakan kesalahan kepada orang lain. Kita harusnya berkaca mereka bisa bahagia, kenapa kita tidak. Di awal saja kita sudah seperti ini bagaimana nanti?"


"Aku 'kan sudah bilang Kak, inilah aku! Aku paling tidak suka diatur-atur, apalagi disuruh berhenti berkarir!"


"Terserah kamu lah! Aku hanya ingin berusaha berbuat yang terbaik untuk kelanggengan rumah tangga kita. Jika kamu tidak mau berubah, ya sudah! Aku jalani sampai batas mana kesabaran ku bisa bertahan."


"Sekarang aku mau keluar, kamu mau ikut atau tidak. Mungkin saat ini, Ayah, Datuk dan para tamu sedang mencari kita."


Melihat Devia tidak bergerak dari tempatnya, Alan bergegas keluar. Dia merasa kesal, kenapa hari bahagia mereka mesti diwarnai dengan ketidak cocokan pendapat.


Ayah yang sempat melihat Alan, sudah membaur kembali ke pesta segera menghampirinya, "Kenapa Nak? Ayah lihat kamu sepertinya sedang ada masalah?"


"Eh, Ayah. Nggak ada apa-apa Yah, Alan hanya lelah."


"Kamu jangan membohongi Ayah. Wajah kamu tidak menunjukkan hal itu."


"Serius Yah, tidak ada masalah apapun."


"Kalau memang tidak ada masalah, kenapa Ayah tidak melihat Devia keluar bersamamu?"


"Dia lelah Yah dan saat ini sedang tidur. Ayo Yah, kita kesana. Lihat, para tamu sepertinya mau pulang dan mencari kita," ajak Alan.


Alan, ingin menghindari percakapan yang lebih jauh dengan sang ayah. Sangat kebetulan, karena tamu ingin pulang, hal itu menjadi alasan bagi Alan untuk lari dari perbincangan mereka.


Ayah pun menghampiri para tamu, begitu juga Alan. Ternyata hal itu tidak membuat ayah, berhenti bertanya.


Saat tamu mulai sepi, kembali ayah bertanya, "Jujurlah dengan Ayah Nak! Kamu anak Ayah, jadi Ayah lebih tahu, jika kamu saat ini sedang tidak bahagia."

__ADS_1


"Biasalah Yah, namanya juga masih baru, perbedaan pendapat pasti ada, tapi ayah jangan khawatir, nanti juga kami baikan."


"Syukurlah kalau begitu. Pokoknya, kalian harus sabar menghadapi apapun masalah dan kamu, harus pahami istrimu, dia kan lebih muda usianya darimu jadi butuh bimbingan."


"Iya Yah, mudah-mudahan saja aku bisa membimbing istriku. Aku juga ingin rumahtangga kami, aman damai serta langgeng hingga kami tutup usia."


"Bagus Nak! Kamu temani sana Nak Radit dan istrinya, ayah lihat, tadi mereka ke depan."


"Iya Ayah. Alan kesana dulu ya Yah."


Ayah pun mengangguk, dia cuma bisa berharap, rumah tangga anak-anaknya bahagia.


"Hei...kenapa kalian malah duduk di sini?" sapa Alan hingga membuat Radit dan Keysha menoleh.


"Lho...kenapa kamu malah kesini Lan. Bagaimana dengan Devia? Apa dia menyadari kesalahannya?" tanya Radit.


Alan menggeleng, "Berat! Dia terlalu egois. Tapi, ya sudahlah! ini jodoh yang telah Allah kirim untukku. Jadi, aku harus lebih bersabar dan terus berusaha agar Devia bisa berubah."


"Sabar ya sobat. Kamu pasti bisa melalui semua cobaan."


"Ayo kita ke dalam, kalian belum mencoba manisan 'kan? Enak lho rasanya, itu pemberian dari temanku, makanankhas Melayu, namanya halua."


"Is, pasti asam Lan? Aku kurang suka asam," jawab Keysha.


Key pun menggeleng.


"Belum Lan, mungkin Allah belum mempercayai kami."


"Ke dokter kandungan DIT, biar kalian diperiksa dan diberi obat penyubur. Atau aku yang akan memeriksa kalian?"


"Mau sih, tapi kami nggak mau mengganggu kalian Lan. Ini hari bahagiamu, masa iya harus kerja. Lain waktu saja Lan. Kapan-kapan, kami akan kesini lagi, jika dokter kandungan di Indonesia tidak juga berhasil menangani kami."


"Baiklah, aku tunggu kabar baik dari kalian."


"Keysha sedih, jika sudah menyinggung masalah anak."


Radit yang melihat hal itu, lalu berkata, "Jangan terlalu dipikirkan Sayang. Inshaallah, suatu saat kamu pasti akan mengandung juga."


"Maafkan aku Ya Key, jadi membuat kamu sedih," ucap Alan merasa bersalah.


"Nggak apa-apa Lan, mungkin memang akunya saja yang kurang subur, atau karena kami berdua kecapean."

__ADS_1


"Kemungkinan itu bisa saja, tapi yang pasti harus melakukan tes kesuburan."


"Sebentar ya, aku ambilkan kalian manisan haluannya. Pasti bakal nagih, karena tidak asam sama sekali."


Kemudian Alan beranjak dari duduknya, dia berjalan menuju hidangan yang tertata di tempatnya.


Alan mengambil sepiring manisan beserta tiga garpu, dia juga ingin menikmati halua tersebut.


Makan sepiring bertiga, mengingatkan Alan akan kenangan semasa di sekolah.


"Ayo, cobalah Key! Kamu bakal nagih."


Keysha pun mencoba halua tersebut dan benar saja, dia tidak mau berhenti menikmatinya.


Radit yang melihat hal itupun menelan liurnya. Dia jadi penasaran dan ingin ikut mencobanya.


Mereka bertiga makan manisan sambil berbincang dan tertawa. Kenangan-kenangan saat di sekolah kembali terbayang.


Ketiga sahabat itu tidak memperhatikan jika disudut ruangan ada sepasang mata


keakraban mereka.


Alan, sejenak lupa dengan masalahnya, dia terhibur dengan candaan dan tawa mereka.


Ternyata yang memperhatikan mereka adalah Devia dan dia mencebikkan bibirnya lalu menggerutu kembali ke kamar.


Sampai pesta usai, Devia tidak menampakkan dirinya lagi. Radit dan Key, kembali ke rumah bersama keluarga Alan. Sementara, Alan yang tadinya ingin mengajak Devia ke kamar hotel yang sudah dia booking menjadi hambar.


Alan sudah tidak bersemangat dan dia putuskan untuk tidur di rumah mertuanya saja.


Saat Alan hendak masuk ke kamar, dia terkejut karena pintu kamar dikunci dari dalam.


Sudah beberapa kali Alan ketuk, tapi tidak dibuka juga, akhirnya Alan putuskan untuk tidur di sofa ruang tengah.


Untung saja kedua mertuanya sudah masuk ke dalam kamar.


Menjelang subuh, Alan bangun agar tidak kepergok sang mertua. Lalu, dia mencoba membuka pintu kamar, tapi masih terkunci.


Kemudian Alan masuk ke kamar mandi yang menuju ke dapur. Alan membersihkan diri, berwudhu, lalu pergi ke masjid.


Alan hanya memakai pakaian yang dia kenakan malam tadi. Rencananya, jika kamar tidak dibuka juga oleh Devia, Alan akan pergi ke pasar untuk membeli pakaian dan langsung pergi ke klinik, menenangkan diri.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2