
Alan pun melajukan mobilnya menuju tempat kost-kostan, dimana Keysha dulu pernah tinggal. Dan Alan tidak akan balik ke Jakarta sebelum menemukan Keysha.
Meski tugasnya menumpuk, Alan tidak peduli, saat ini yang utama adalah melihat Keysha baik-baik saja.
Sesampainya di depan rumah kost-kostan, Alan celingukan, dia tidak melihat satu orang penghuni pun berada di luar.
Alan mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban, hingga datang seorang anak kecil menghampiri Alan.
"Om, semua orang sedang pergi. Kakak-kakak berangkat kerja, sedangkan ibu dan nenek membawa Bibi yang tadi pingsan, ke klinik."
"Siapa yang pingsan Dek?"
"Bibi yang baru saja ngontrak Om. Kata ibu, Bibi itu dulu pernah tinggal di sini."
"Kamu tahu siapa nama Bibi itu? Ciri-cirinya seperti apa Dek?"
"Bibi Key, orangnya cantik dan pakai jilbab Om."
"Ya Allah Key, apakah namanya Bibi Keysha? di bawa ke klinik mana Dek?"
"Iya Om, Bibi Keysha. Kliniknya tidak jauh dari sini Om. Di ujung jalan sana!" tunjuk si adek.
"Terimakasih ya Dek, Om mau kesana dulu, jenguk Bibi Key."
"Iya Om."
Alan memutar balik mobilnya, lalu diapun pergi ke klinik, yang bocah tadi tunjukkan.
Sesampainya di sana, Alan pun menemui perawat jaga dan menanyakan tentang keberadaan Keysha.
"Oh, ibu Keysha ya Pak? saat ini beliau sedang ditangani dokter. Beliau tadi pingsan cukup lama dan baru saja siuman."
"Boleh saya menemuinya Sus?"
"Apakah Anda suaminya Pak?"
"Saya temannya Sus!"
"Bapak silakan tunggu di depan sana, bersama kedua ibu itu. Mereka tadi yang membawa ibu Keysha ke sini."
"Oh, terimakasih ya Sus."
Alan pun mendekati kedua Ibu yang sedang menunggu Keysha keluar dari ruangan dokter.
"Permisi Bu, kenalkan saya Alan, teman Keysha. Kata si Adek kecil yang di rumah, ibu berdua lah yang menemukan Key ketika pingsan?"
"Benar Nak. Kamu tadi ke kost-kostan, cari Keysha?"
__ADS_1
"Iya Bu, saya temannya."
"Syukur deh kalau begitu. Kami sempat takut karena Key pingsan cukup lama. Apa dia sedang dalam masalah ya Dek? sepertinya Key tertekan dan dia menanyakan dua kamar kosong."
"Oh, kalau ada tolong ya Bu, saya akan bayar uang sewanya. Barangkali, satu lagi untuk ibu dan adik-adiknya."
"Pantas, Key tadi bilang, satu kamar minta ukuran yang besar."
"Tolong ya Bu, usahakan. Ini panjar dari saya, sisanya akan saya transfer. Saya minta nomor rekening Ibu dan jumlah yang harus Saya bayar."
Kemudian, ibu pemilik kost pun memberikan nomor rekening yang kebetulan tersimpan pada ponselnya.
Saat Alan sedang mentransfer sisa uang sewa untuk setahun kemudia, dokter pun keluar dan memanggil, "Siapa di sini keluarga dari ibu Keysha?"
"Saya Dok!" ucap Alan, lalu menghampiri dokter.
"Silakan masuk Dek! itu Keysha, kondisinya masih lemah. Terus, dia mengeluh perutnya sakit. Untuk sementara, saya beri obat magh. Tapi, jika tidak berkurang rasa sakitnya, lebih baik lakukan pemeriksaan di rumah sakit saja."
"Baik Dok, apa saya boleh menemuinya Dok?"
"Oh silakan! setelah lebih enakan, ibu Keysha sudah diperbolehkan pulang."
"Terimakasih Dok!"
Alan menuju ke ruangan Keysha di rawat, dia sedih saat melihat sahabat sekaligus wanita yang dia cintai terbaring lemah.
Keysha terkejut, saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Dia membuka mata dan Alan sudah berdiri di hadapannya.
"Darimana kamu tahu aku di sini Lan?"
"Aku mencarimu, kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku Key? Apa aku bukan sahabatmu lagi?"
"Bukan begitu Lan, aku hanya ingin sendiri, menenangkan hati dan pikiranku. Kamu sudah tahu 'kan? Pasti Mas Radit sudah cerita."
"Alan hanya mengangguk, lalu bertanya, "Apa dengan pergi secara diam-diam, semuanya bisa selesai Key? Kami mencemaskanmu.
"Tolong Lan, jangan katakan ke siapapun, ika aku ada di sini." Aku ingin menenangkan diri. Setelah tenang, aku pasti kembali," mohon Keysha.
"Baiklah, tapi kamu harus janji, akan selalu menjaga kesehatan. Aku nggak suka, melihat sahabatku, terbaring seperti ini!"
"Iya, aku janji Lan."
"Oh ya, aku tanya dokter dulu ya, apa kamu sudah boleh pulang atau belum."
Keysha pun mengangguk, lalu dia berkata, "Aku sudah nggak apa-apa kok Lan, pasti dokter beri izin."
Ternyata benar ucapan Keysha, dokter pun mengizinkan dia untuk pulang.
__ADS_1
Setelah Alan membayar biaya perobatan, merekapun pamit kepada Dokter.
Alan mengantar Keysha ke tempat kost dan sepanjang perjalanan, dia melihat Keysha murung.
"Yang sabar ya Key! Aku tahu, bagaimana perasaan mu saat ini."
"Aku nggak nyangka saja Lan. Rasanya seperti mimpi, jika ingat, betapa sakit. Bagaimana mungkin Mas Radit mentalak aku di depan calon istrinya itu."
"Yang sabar ya Key."
"Yang terpenting sekarang, kamu jangan sedih lagi. Ingat, tetap jaga kesehatannu."
"Baiklah Lan, terimakasih. Kamu memang sahabat terbaikku."
"Sama-sama Key. Aku senang akhirnya bisa menemukanmu. Besok, aku akan kembali ke Jakarta, kamu harus janji hubungi aku jika butuh teman bicara."
"Terimakasih Lan. Bismillah, aku pasti baik-baik saja. Semua akan kembali seperti dulu meski tanpa Mas Radit."
"Kita sudah sampai Key. Ayo, masuklah! Aku tunggu di sini dan akan pergi setelah kamu masuk."
Keysha pun mengucapkan terimakasih, lalu dia bergegas masuk sambil melambaikan tangan kepada Alan.
Kesedihan masih terpancar jelas di wajahnya hingga membuat Alan pun merasa sedih.
Sesuai janjinya, Alan tidak akan mengatakan kepada Radit atau yang lain jika dia sudah bertemu Keysha.
Di rumah sakit, Radit duduk termenung sambil menjaga sang papa yang terbaring, dia tidak bisa pergi mencari Keysha karena permintaan sang Mama.
Mama meminta Radit untuk menjaga Papanya. Sementara sang Mama pulang, berganti pakaian serta mengajak Tante Ira untuk menemaninya kembali ke rumah sakit.
Rasanya, Radit ingin berteriak, kenapa hidup ini tidak adil baginya. Di saat dia ingin mencari Keysha, ada saja yang menghalangi.
Alan menelepon Radit dan dia mengatakan jika belum menemukan Keysha. Saat ini Alan, sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Begitu tiba di rumah sakit, Alan pun langsung masuk ke ruang rawat papa Radit dan menemui sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaan Papamu Dit? Apa ada yang serius?"
"Kita masih menunggu keputusan dokter, Lan! saat ini yang bisa dilakukan hanyalah bersabar dan berdoa."
"Kamu harus kuat ya. Aku minta maaf Dit, besok harus balik ke Jakarta, karena tugasku sudah menumpuk. Aku akan usahakan akhir pekan kesini lagi, mudah-mudahan Keysha bisa kita temukan."
"Hidupku kacau Lan, aku nggak tahu lagi harus bagaimana. Semangat ku sudah pergi bersama dengan Keysha."
Alan memeluk Radit, dia hanya bisa memberi saran dan dukungan agar Radit tetap kuat serta sabar dalam menjalani cobaan hidupnya yang sangat berat.
Bersambung.....
__ADS_1