ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 16. MENENTANG PERNIKAHAN


__ADS_3

Akhirnya Radit dan Keysha menerima uang pemberian Alan dan besok Radit akan meminta seseorang dari kampung Keysha untuk menjemput Alan di bandara, agar dia bisa sampai tepat waktu.


Sementara di rumah kediaman orangtua Radit, mereka dihebohkan oleh kepergian Radit yang tidak pamit.


Bi Pipin yang di minta oleh Mama Radit untuk memanggil putranya agar makan siang bersama, berlari tergopoh-gopoh sembari membawa secarik kertas.


"Bu, gawat! Den Radit, Den Radit pergi!" ucap Bi Pipin yang datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Apa Bi? Radit kemana Bi?" tanya Mama Yuna panik.


"Ini Bu, Den Radit meninggalkan surat," ucap Bi Pipin sembari menyerahkan kertas yang ada di tangannya.


Di sana tertulis, jika Radit pergi menyusul Keysha ke kampung halamannya dan Radit akan melamar Keysha meski tanpa izin dari orangtuanya.


Mama Yuna marah, lalu beliau menunjukkan kertas yang bertuliskan pesan dari Radit kepada suaminya.


"Lihat ini anak laki-laki Papa, sudah berani dia terang-terangan menentang kita!"


"Kenapa dengan Radit Ma?"


"Papa baca ini! baru tadi pagi kita nasehati, eh...malah dia kabur, nekat mau melamar gadis itu! Mama bingung dengan jalan pikiran Radit, banyak gadis cantik yang sepadan dengan kita, malah si Key itu juga yang dia kejar! Entah apa yang telah gadis itu berikan kepada anak kita, hingga Radit begitu tergila-gila terhadapnya!"


"Tidak jera juga gadis itu, padahal kita sudah sering memperingatkan dia, tapi masih juga tidak diindahkan. Apa perlu kita memberinya pelajaran yang lebih keras lagi. Menjelekkan citranya agar dia tidak diterima kerja di manapun dan menyingkirkan keluarganya agar mereka meninggalkan provinsi ini!"


"Jadi, kita harus bagaimana ini Pa, coba Papa hubungi Radit dan suruh dia pulang, Papa ancam dia agar dia bisa memilih, kita atau gadis udik itu!" ucap Mama Yuna.


Papa Arsen pun mencoba menelepon Radit, tapi ponsel Radit tidak aktif.


"Anak ini keras kepala, ponselnya tidak aktif Ma, kita sekarang harus bagaimana?"


"Pokoknya kita harus mencegah pernikahan itu Pa, kita harus menyusul Radit atau papa blokir dulu semua Atm nya jadi dia tidak memiliki dana lagi, nggak mungkin kan dia menikah tanpa punya uang!" ucap Mama.

__ADS_1


"Biar tahu gadis itu, dia pikir bisa memperdaya kita, bisa memperalat Radit dan menguras uangnya."


"Baiklah Ma, Papa akan blokir Atm nya."


Papa Arsen pun menelepon pihak Bank untuk memblokir kartu Atm milik Radit yang pernah dia berikan.


Setelah itu Papa Arsen menelepon anak buahnya untuk mencari alamat Keysha di kampung dari data di sekolah tempat Keysha mengajar.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, hari ini juga, kalian harus mendapatkan alamat kampung gadis itu! Jika tidak, jangan harap kalian akan bekerja lagi denganku dan fasilitas akan aku tarik!" ancam Papa Arsen kepada anak buahnya.


"Bagaimana Pa! Apa papa yakin mereka bisa mendapatkan alamat gadis itu?" tanya Mama Yuna.


"Mama tenang saja, Papa yakin mereka akan mendapatkan alamat gadis itu di kampung. Sebaiknya Mama bersiap-siap, kita akan berangkat begitu mereka mengirim alamatnya."


"Bagaimana jika kita tiba di sana mereka sudah menikah Pa?" tanya Mama Yuna.


"Mudah-mudahan belum Ma, tapi jika memang sudah terlanjur kita akan pikirkan cara untuk memisahkan mereka."


"Papa juga, apa untungnya bagi kita, coba jika Radit menikah dengan anak teman Papa, usaha kita bisa makin sukses dengan dukungan promosi dari relasi-relasi bisnisnya."


"Ya sudah Pa, Mama mau bersiap dulu, membereskan beberapa pakaian untuk bekal ganti kita di jalan!"


"Iya Ma, Papa juga mau telepon kantor agar sekretaris Radit sementara menghandle pekerjaan dan mengosongkan jadwal untuk beberapa hari kedepan. Dasar anak ini merepotkan saja! Seenak hatinya kabur meninggalkan tanggungjawab!" omel Papa Arsen.


Mama masuk ke dalam kamar, menyiapkan koper dan memilih beberapa pakaian yang akan mereka bawa, sedangkan Papa setelah memberitahu sekretaris, lalu meminta sopir kantor ke rumah untuk mengantar mereka mencari Radit.


Radit tidak peduli orangtuanya datang mencarinya atau tidak, yang terpenting dia sudah memberitahu dimana dirinya berada.


Jika mereka masih menginginkan dia kembali, mau tidak mau mereka harus menyetujui pernikahannya.


Apabila orangtuanya tetap dengan pendirian mereka maka Radit tidak akan kembali ke perusahaan sang Papa, dia akan mengembangkan perusahaannya sendiri dan mendukung Keysha dengan karirnya.

__ADS_1


Semua urusan pernikahan sudah selesai, tinggal pelaksanaan saja besok sore setelah Alan tiba.


Para saksi dan perias pengantin juga sudah dihubungi, hanya satu yang masih mengganjal di hati ibu yaitu pihak besan kenapa tidak menghubungi mereka. Walaupun tidak bisa datang, setidaknya mereka menelepon untuk memberi restu.


"Ada apa Bu, apa yang ibu pikirkan?" tanya Keysha.


"Iya Bu, jika ada masalah katakan saja, barangkali Saya bisa membantu," timpal Radit.


"Maaf ya Nak, ibu cuma ingin tahu, kenapa orangtua kamu tidak menelepon, memberi restu untuk pernikahan kalian," tanya ibu.


Radit mendesah dan Keysha pun tidak berani menatap wajah ibunya karena dia berharap, Radit yang akan menjelaskan.


"Maafkan Radit ya Bu, sebenarnya Papa dan Mama menentang hubungan kami, tapi Radit sudah tinggalkan pesan jika mereka memang Sayang sama Radit, mereka pasti akan datang."


"Pantas jika mereka tidak setuju Nak, kami tidak sepadan dengan keluarga kamu," ucap Ibu.


"Bu, hal ini bukankah sudah kita bahas. Radit mencintai Keysha dan Radit siap menanggung resiko apapun termasuk diusir dan tidak dianggap anak lagi oleh papa mama."


"Kalau itu keputusan mu Nak, ibu tidak bisa menghalangi lagi. Ibu hanya mohon, sayangi dan lindungilah Keysha serta usahakan agar kalian tidak memutuskan tali silaturahmi dengan orangtua kamu," pinta ibu.


"Iya Bu," ucap Radit.


"Bu, kami keluar dulu ya. Key, harus menyiapkan pakaian untuk besok," pamit Keysha.


"Iya Nak, pergilah. Maafkan ibu ya, kami tidak bisa membantu kalian untuk melaksanakan pernikahan yang layak seperti orang-orang," ucap ibu sedih.


"Bu, bisa menikah dengan Key dan mendapatkan restu dari Ibu dan Ayah saja sudah merupakan anugerah terbesar dalam hidup Saya. Saya janji Bu, nanti disaat kami bisa mendapatkan restu dari Papa Mama dan Ayah juga telah sembuh, kami akan menggelar resepsi," janji Radit.


"Bagaimana Key?" tanya Radit.


"Yang terpenting, bisa mendapatkan restu dari Papa Mama kamu saja sudah cukup bagiku Dit. Jadi, dana resepsi bisa kita gunakan untuk keperluan lain, misal membeli rumah atau minimal mengontrak rumah," ucap Keysha.

__ADS_1


Ibu dan Radit pun akhirnya setuju dengan pemikiran Keysha.


__ADS_2