
Alan sudah bersiap untuk kembali ke Malaysia. Tapi, sebelumnya, dia meminta Radit dan key untuk menemani dirinya pamit kepada ayah dan ibu.
Mereka pun bergegas kembali ke rumah sakit dan Alan di izinkan oleh dokter untuk bertemu ayah tapi tidak boleh terlalu lama. Soalnya, ayah harus istirahat menjelang operasi.
"Yah, Alan mau pamit. Alan minta maaf nggak bisa menunggu dan menemani Ayah hingga selesai di operasi."
"Kenapa terburu-buru Nak, bukankah kalian belum sempat jalan-jalan gara-gara ayah di sini."
"Sebenarnya ingin lama Yah, tapi ada pekerjaan yang mendesak."
"Selamat ya Nak, kamu sekarang sudah jadi dokter. Kalian bertiga memang hebat, Ayah salut dan Ayah sangat bersyukur, Keysha memiliki kalian."
"Ayah titip Key Nak Alan, tetaplah jadi teman baik Key, meski saat ini sudah ada Nak Radit yang akan selalu mendampingi dan menjaganya. Tapi jujur Nak, Ayah masih ragu dengan keluarga Nak Radit."
"Maksud Ayah?" tanya Alan.
"Mata tua Ayah melihat, ada kepura-puraan, orangtua Nak Radit sepertinya belum ikhlas atas pernikahan ini."
"Sebenarnya, Ayah sadar sih, kami memang tidak sebanding dengan mereka. Sangat tidak pantas, Key bersanding dengan Nak Radit. Tapi, apa mau di kata, Nak Radit dan Key bersikeras tetap melangsungkan pernikahan. Mudah-mudahan saja rumah tangga mereka bahagia dan tidak ada perseteruan keluarga setelah Ayah pergi," pesan Ayah.
"Ayah jangan khawatir, Radit pasti bisa mengatasi semua masalah Yah. Radit sangat mencintai Key dan dia pasti akan melindungi Key, jika keluarganya memang mengusik kebahagian mereka," ucap Alan yang ingin menenangkan ayah.
"Walaupun begitu, Alan janji Yah, akan selalu menolong Key bila dia mendapatkan kesulitan," janji Alan.
"Terimakasih Nak! Ayah jadi lebih tenang. Ayah yakin, umur Ayah tidak akan lama lagi, jadi Ayah ingin Ibu, Key, dan adik-adiknya hidup bahagia meski dalam kesederhanaan."
"Ayah harus yakin, kebahagiaan akan menyertai kehidupan Kay, ibu dan juga adik-adik. Alan permisi ya Yah, ayah harus tetap semangat," ucap Alan sembari mencium tangan Ayah.
Setelah pamit, Alan diantar oleh Radit dan Keysha ke bandara. Keduanya titip salam untuk orangtua Alan dan kali ini mereka mohon maaf, tidak bisa membawakan oleh-oleh.
Alan melambaikan tangan, selamat tinggal untuk cintanya, dia hanya bisa berharap kebahagiaan akan selalu datang untuk Keysha.
__ADS_1
Radit dan Key pun meninggalkan bandara, mereka kembali ke rumah sakit untuk menemani ibu dalam persiapan operasi Ayah.
Sesuai jadwal, Dokter meminta perawat untuk membawa Ayah ke ruang operasi, tapi sebelumnya Ayah meninggalkan pesan untuk ibu, Keysha dan juga putra putrinya yang lain.
Ayah juga memegang tangan Radit, beliau menyerahkan semua tanggungjawab kepada anak menantunya itu.
Hari ini semuanya berharap-harap cemas karena apa yang dilakukan ayah sepertinya janggal, mereka merasa ayah hendak pergi dan tidak akan pernah kembali.
Lampu ruang operasi telah menyala, pertanda tindakan operasi telah dimulai.
Keysha mondar-mandir di depan pintu ruang operasi, sedangkan ibu terus saja berdoa untuk keselamatan ayah.
Radit menghampiri Keysha dan dia memeluknya sembari berkata, "Duduklah Sayang, semua pasti akan baik-baik saja."
Keysha malah menangis, dia tidak yakin, apalagi melihat ayah yang menurutnya hari ini begitu berbeda, baik dari sikap, dari kata-kata serta kondisi fisiknya.
Namun, sebagai manusia harus tetap berusaha, melakukan yang terbaik demi kesembuhan.
Key, menemui Suster yang baru keluar, tapi Suster mengatakan hanya dokter yang berhak untuk menjelaskannya.
Tidak lama dokter pun keluar, menghampiri Keysha dan mengatakan mereka gagal. Tadi, operasi sempat berhasil tapi tiba-tiba kondisi ayah memburuk dan akhirnya tidak bisa diselamatkan.
Keysha memeluk ibu sambil menangis, kini terbukti firasatnya benar, ayah telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Tubuh Keysha luruh kelantai dan untung saja Radit tanggap, dia menarik dan memeluk tubuh Key sebelum menyentuh lantai.
Keysha pingsan, adik-adik menangis, ibu juga terduduk lemah menahan kesedihannya.
Selesai sudah perjanjian hidup berumahtangga bersama ayah dan kini yang tertinggal adalah kenangan dan pesan-pesan beliau agar ibu menjaga dan membesarkan anak-anak dalam kebaikan.
Radit menggendong Key, lalu meletakkan Key di tempat tidur pasien dan dia meminta perawat untuk memanggilkan dokter. Radit tahu betapa sedihnya Keysha, perjuangannya untuk pengobatan sang Ayah berakhir tidak sesuai harapan.
__ADS_1
Key mengerjap-ngerjapkan mata, dia sudah sadar dari pingsan dan saat ini yang dia lihat semua memakai pakaian putih.
"Dimana aku?" tanya Keysha yang masih lemah.
"Kamu pingsan cukup lama dan sekarang masih di rumah sakit," jawab dokter.
"Dok, ayah Saya masih hidup 'kan? Saya ingin bertemu ayah," ucap Key sembari berusaha hendak bangkit.
"Kamu yang sabar Dek, semua ini sudah digariskan oleh Allah dan setiap kita pasti akan mendapatkan giliran kematian, walau tidak ada seorang pun yang tahu kapan gilirannya masing-masing tiba."
Key kembali menangis, tapi suster mencoba menenangkannya. Bersamaan dengan itu Radit muncul dan dia mengatakan jika mereka harus segera pulang untuk mengurus proses pemakaman sang Ayah.
Saat ini, jenazah sang Ayah sudah dibawa pulang dengan mobil ambulans rumah sakit. Radit sudah mengatur semuanya dengan dibantu oleh adik laki-laki Keysha.
"Ayo Sayang kita pulang! Kasihan almarhum Ayah jika kamu seperti ini terus. Kamu harus ingat pesan beliau, sekarang kitalah penopang untuk ibu dan adik-adik, jadi kita musti kuat," ucap Radit mengingatkan.
"Kamu anak tertua harus menjadi contoh dan panutan bagi adik-adik, mereka saat ini juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan," ucap Radit lagi sembari mendudukkan Keysha di kursi roda dan mendorongnya ke luar rumah sakit menuju parkiran.
Ibu dan adik-adik yang berada di mobil ambulans bersama jenazah Ayah, masih menangis terisak-isak, hingga merekapun tiba di rumah duka, rumah yang telah ayah tinggalkan sebagai kenangan semasa hidup beliau.
Perawat pria, sopir dan para tetangga membantu menurunkan jenazah dan meletakkan jenazah Ayah di kasur yang terletak di ruang depan. Para tetangga sudah menyiapkan semua keperluan sejak mereka menerima kabar duka tersebut.
Para tetangga, kerabat dan pentakziah lain sudah berkumpul di rumah duka saat Keysha dan Radit tiba.
Radit meminta tolong kepada Pak Kadus untuk mengatur proses pengurusan jenazah dengan dibantu oleh bilal mayit dan para asistennya.
Jenazah ayah siap untuk di mandikan setelah kegiatan mengaji selesai. Petugas yang memandikan jenazah pun meminta keluarga untuk membantunya.
Proses demi proses pengurusan jenazah telah selesai dilakukan dan tiba saatnya untuk mensholatkan lalu membawa jenazah ke pemakaman.
Keysha dan ibu berusaha tegar, mereka ke pemakaman setelah selesai ikut mensholatkan jenazah.
__ADS_1
Kini, ayah telah terbaring di tempat tinggalnya yang baru, hanya amal dan doa dari istri serta anak-anaknya yang sholeh lah yang akan menolong Ayah di kehidupan setelah kematiannya itu.