ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 52. KECEWA


__ADS_3

Tidak lama Devia pergi, datang seorang kurir mengantar pesanan dan kali ini Datuk yang menerima. Melihat paket yang datang ditujukan kepada Alan/Devia, Datuk pun segera mencari menantunya tersebut.


Datuk mengetuk pintu kamar dan Alan pun langsung membukanya.


"Nak, ini ada paket untuk kalian, lho Devia kemana Nak?"


"Pergi ayah, dia ingin membeli oleh-oleh buat temannya. Besok Devia sudah harus kembali ke Australia."


"Hah...anak itu! Susah sekali menasehati dia, masa kamu diabaikan terus."


"Biarlah Yah, kita berdoa saja, semoga Devia segera diberi hidayah."


"Ya sudah, kalau kamu bosan di kamar, ayo ngobrol dengan kami di teras belakang Nak!"


"Terimakasih Yah, Alan mau istirahat, tadi malam kurang tidur karena di luar banyak nyamuk."


"Maafkan Ayah ya Nak dan juga Devia, mungkin kami yang salah mendidiknya."


"Nggak ada yang salah Yah, lingkungan pekerjaan barangkali yang membuat dia seperti itu."


"Ayah ke belakang dulu ya Nak, jika butuh apa-apa, kamu panggil saja Bibi. Jangan sungkan di sini, toh ini rumah kamu juga."


"Iya Ayah!"


Alan pun menutup pintu setelah ayah mertuanya pergi. Lalu, dia membolak-balik bungkusan paket yang ada di tangannya.


"Apa ini, yang Devia maksud, kecil sekali. Apa ya isinya? Devia, Devia...buat aku penasaran saja," ucap Alan.


Alan pun tidak sabar untuk membukanya dan dia mengambil gunting agar lebih mudah.


Setelah bungkusnya terbuka, Alan terkejut dan hatinya sangat kecewa. Ternyata, Devia menawarkan kenikmatan malam pertama dengan syarat yang paling tidak disukai oleh para pria.


Alan kesal dan dia melempar pengaman itu ke lantai. Untuk apa dia punya istri, jika harus membuang benihnya di luar juga.


Daripada hatinya sakit melihat barang itu ada di kamar, lebih baik Alan membuangnya keluar. Alan pun memutuskan untuk pergi, dia akan mengajak Radit serta Keysha jalan-jalan.


Alan membuang pengaman itu ke tempat sampah, lalu dia pamit kepada Bibi akan ke klinik.


Alan melajukan mobilnya dengan hati yang masih tidak karuan. Hampir saja dia menabrak pengemudi becak.


Setelah meminta maaf, Alan pun melanjutkan perjalanan ke klinik. Setibanya di sana, dia menelepon Radit dan meminta mereka datang kesana. Dari klinik, mereka akan pergi jalan-jalan.


Radit dan Keysha saling pandang, mereka menduga, pasti Alan dan Devia sedang ada masalah. Merekapun bersiap dan harus segera berangkat untuk menghibur sahabatnya itu.


Tapi Radit dan Keysha tidak memberitahu ayah serta ibu Alan, takut mereka kepikiran dan khawatir. Alan harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa kedua orangtua ikut campur.


"Yah, kami keluar dulu ya! Kami mau lihat-lihat bagaimana suasana Kuala Lumpur. Lusa kamu sudah harus pulang, jadi waktu untuk jalan-jalan sangat sedikit."

__ADS_1


"Pergilah Nak, maafkan kami ya tidak bisa menemani kalian. Alan juga harus bersama Devia karena cuma tinggal besok waktu untuk mereka bersama."


"Iya Yah, nggak apa-apa. Kami paham, lain waktu kami pasti kesini lagi untuk mengajak ayah dan ibu jalan-jalan.


Setelah pamit, Radit dan Keysha memesan taksi, lalu mereka menuju ke alamat klinik Alan.


Sesampainya di sana, mereka melihat Alan termenung, duduk sendirian di dalam ruangannya.


"Pengantin baru kok malah melamun di sini?"


"Eh, kalian sudah sampai. Masuklah!"


"Bagus banget dekor klinik kamu ya Lan," ucap Keysha sambil matanya melihat ke sekeliling.


"Aku minta tolong teman yang kerjanya khusus mendekor, baik interior maupun eksterior."


"Oh, pantas."


"Hari ini libur klinik Lan?" tanya Radit yang melihat klinik sepi."


"Iya Dit, setiap tanggal merah libur dan sabtu setengah hari."


"Oh, kenapa kamu malah kesini jika libur Lan? Memangnya istrimu kemana?"


"Dia pergi mencari oleh-oleh buat temannya. Aku suntuk di rumah! Kacau semua."


"Tadi malam, sudah baikan pun percuma Dit, sama saja."


"Kamu tidak dilayani?"


"Ya, begitulah. Nggak tahu bisa panjang atau nggak rumah tanggaku nanti. Semakin kesini, Aku jadi tidak yakin."


"Sabar Lan, kamu harus bisa merubah Devia. Pelan-pelan dia pasti akan berubah."


"Bagaimana mau merubahnya jika kami terpisah?"


"Ikuti saranku kemaren dan kamu sambil cek lokasi, jika memungkinkan pindah klinik ke sana."


"Berat Dit, lagipula aku kasihan dengan ayah ibu. Mereka cuma punya aku 'kan?"


"Mereka pasti paham Lan, itu juga demi kebahagiaan rumah tanggamu. Mengalah untuk menang."


"Jika sudah aku ikuti, tapi tidak mengalah juga bagaimana?"


"Cari lagi!" jawab Radit hingga di senggol lengannya oleh Keysha.


"Kamu Dit, memangnya menikah itu semudah membalikkan telapak tangan?"

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi Lan, kita hidup berumah tangga bukan untuk sehari dua hari tapi untuk selamanya. Jika Devia tidak bisa menjadi partner yang baik, untuk apa bertahan. Yang ada kamu akan sengsara seumur pernikahan."


"Entahlah Dit. Mungkin aku ikuti saran kamu dulu. Lusa aku akan menyusul dia ke sana sambil melihat prospek untuk karirku."


"Nah, ini baru teman kami."


"Semangat ya Lan, mudah-mudahan masalah mu segera ada penyelesaiannya."


"Iya Key. Terimakasih atas saran kalian. Hanya dengan kalian aku bisa bicara."


"Ya sudah, daripada pusing terus, ayo kita bersenang-senang, waktu kami tinggal sebentar di sini Lan, lusa kamu berangkat, kami juga pulang."


"Iya, ayolah. Mau kemana kita. Cari makan dulu ya, aku lapar."


"Oke, ayo. Biar aku yang nyetir mobil. Kamu sedang pusing, aku takut kita malah celaka."


"Terserah kamu Dit, mana yang terbaik."


Kemudian tiga sahabat itupun bergegas naik ke mobil, Key duduk di bangku belakang, sementara Alan di depan bersama Radit.


Mereka mencari restoran yang suasananya enak untuk bersantai. Alan ingin menenangkan pikiran sambil bercanda ria dengan Radit dan Keysha.


Sedang asyik mereka menikmati makanan sambil mengobrol, telepon Alan berdering.


Alan hanya meliriknya saja, tanpa berniat untuk menjawab panggilan.


Ponsel Alan berulang kali berdering tapi dia malah mengecilkan volumenya.


"Siapa Lan? Kenapa nggak kamu angkat?"


"Devia, biarlah aku lagi malas ngomong. Ayo kita lanjut makan."


"Oh, barangkali dia sudah pulang Lan, dan melihat kamu tidak ada di rumah. Ini kan jam makan, mungkin dia akan mengajak makan siang bareng."


"Kamu bilang mau ajak makan bareng? Lihat ini status yang dia unggah!"


"Radit dan Keysha melihat Devia sedang makan bareng bersama teman-temannya dan yang paling parah teman cowok Devia ada yang merangkulnya, saat mereka berpose."


"Sabar Lan, mungkin dia mau perpisahan dengan teman-temannya sebelum berangkat. Dia 'kan jarang-jarang pulang."


Alan mendesah, dia semakin kecewa, Devia punya waktu buat teman-temannya, tapi tidak untuknya.


"Ayo kita jalan! Kali ini aku yang bayar, pengantin duduk anteng dalam boncengan."


"Bisa saja kamu Dit. Tapi nggak apa-apalah, sesekali merasakan uang hasil menang tender."


"Nah, itu maksudku. Berbagi rezeki, sebelum proyek di mulai, biar berkah kedepannya."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2