
"Key, pulanglah! biar Mas yang keluar dan tinggal di apartemen, sampai kita menikah lagi.
"Nggak usah Mas. Key biar di kost-kostan saja, untuk menghindari gunjingan dan fitnah. Setelah kita menikah lagi, barulah Key akan kembali ke sana."
"Baiklah jika itu mau kamu Key. Sekarang aku antar kamu kembali ke kampus ya."
"Nggak Mas, Key naik taksi saja ya. Mas sebaiknya fokus ke pekerjaan lagi. Key dengar Mas telah mengabaikan semua perusahaan. Jangan sampai jerih payah Mas Radit hancur hanya karena masalah kita."
"Terimakasih atas nasehat kamu Key. Mas sekarang pasti semangat, demi masa depan kita. Semangat Mas adalah kamu Key, jika kamu pergi semua tidak ada artinya lagi."
Keysha mendesah, dia tahu cinta Radit begitu besar untuknya. Tapi, kasih sayang orangtua juga penting baginya. Jika mereka tidak ikhlas melepas sang putra, bagaimana kebahagiaan putranya akan sempurna. Yang ada hanya rasa tertekan, hingga hidup mereka tidak akan pernah tenang.
"Kenapa kamu diam Key, apa yang kamu pikirkan?"
"Papa Mama, Mas. Kapan mereka bisa ikhlas menerima ku?"
Radit mendesah, dia sendiri tidak bisa meluluhkan hati orangtuanya. Papa mamanya telah buta oleh harta, hingga tidak bisa menillai jika mereka sesungguhnya telah mendapatkan menantu yang sempurna, raga serta hatinya.
"Mudah-mudahan pintu hati mereka segera terbuka ya Mas. Karena aku tidak mungkin bisa jadi wanita sesempurna yang orangtua Mas Radit inginkan."
"Iya. Maafkan mereka ya Key."
"Key berangkat dulu ya Mas. Bu, Key ke kampus dulu ya."
"Iya Nak, hati-hati di jalan ya. Ibu doakan kalian bisa kembali bahagia."
"Aamiin," jawab Key dan Radit berbarengan.
Mereka pun pergi ke tujuan masing-masing. Dan saat ini Radit sedang merenung di kantornya. Radit masih menimbang-nimbang siapa calon pilihan yang bisa dan mau menikahi Keysha, serta nggak akan mengkhianati perjanjian mereka nanti.
Akhirnya Radit kepikiran tentang Alan, toh Alan adalah sahabat karib mereka, yang bisa di harapkan kesetiakawanannya.
Radit tersenyum karena telah mendapatkan jalan keluar. Siang ini Radit akan langsung ke Jakarta untuk menemui Alan, sahabatnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Radit pun bersiap untuk berangkat. Dia tidak memberitahu siapa pun tentang kepergianya kali ini.
Radit ingin memastikan dulu kesedihan Alan, baru akan memberitahu Keysha dan ibunya.
__ADS_1
Dengan bersemangat, Radit menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit di mana Alan membuka praktek.
Alan yang sedang menangani pasien, sangat terkejut saat seorang perawat datang memberitahu jika Radit sedang menunggunya di luar ruangan.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Alan buru-buru keluar. Dia sangat senang Radit datang berkunjung.
Saat melihat Alan, Radit pun menghampiri dan memeluk Alan sambil mengucapkan selamat karena Alan telah berhasil memiliki sebuah rumah sakit besar meski masih kongsi bersama teman-temannya.
"Kamu apa kabar Dit, semua baik-baik saja kan? Bagaimana dengan Key, apa kamu sudah bertemu dengan dia?"
"Sudah Lan dan aku senang Lan, akhirnya kami bisa baikan."
"Maksudmu, kalian kembali menikah? Tapi Dit...!"
"Belum, masih sepakat rencana akan balikan. Nah inilah masalahnya Lan, makanya aku mau minta tolong sama kamu. Cuma kamu yang bisa aku harapkan dan yang pasti tidak mungkin mengkhianati teman."
"Maksudmu apa Dit? Apa yang bisa aku bantu?"
"Nikahilah Keysha Lan, cuma kamu harapan kami, agar bisa kembali."
Alan sangat terkejut, dia tidak menyangka jika Radit akan meminta hal itu darinya. Alan merasa sedang diuji dengan ujian yang sangat berat.
Alan sangat ragu akan dirinya sendiri. Berbagai pertanyaan muncul dibenak Alan, akankah dia sanggup menjalani permintaan Radit? dan apakah dia tidak akan menjadi teman yang egois serta pengkhianat?"
Kepala Alan pun pusing memikirkan hal itu. Satu sisi mungkin dia akan bahagia karena berhasil mendapatkan cintanya dan juga berkesempatan mendapatkan istri yang baik seperti Keysha.
Tapi, untuk apa semua itu kalau hanya sementara. Dan pada akhirnya akan membuat hatinya terluka.
"Kenapa kamu diam Lan? Apa kamu tidak bersedia menolong kami? Please Lan, cuma kamu pria yang aku percaya untuk menitipkan belahan jiwaku," mohon Radit sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Dit, apa kamu yakin aku tidak akan berkhianat?"
"Aku yakin Lan, kamu sahabat yang paling mengerti kami. Nggak mungkin kamu sanggup untuk mengkhianati aku dan Keysha."
"Tapi Dit, seperti kamu tahu bagaimana kondisi hubunganku dengan Devia kan? Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan."
"Jadi yang aku takutkan, seandainya aku mendapatkan kebahagiaanku bersama Key dan aku tidak ingin melepaskannya, bagaimana Dit?"
__ADS_1
Radit terdiam, tapi kemudian diapun menjawab, "Tidak mungkin Lan, aku yakin kamu bukan pengkhianat. Kamu teman terbaik dan tersetia yang pernah aku kenal."
"Kita berteman bukan sehari dua hari, tapi sudah puluhan tahun. Jadi, aku kenal siapa dan bagaimana dirimu dari siapapun."
"Dit, carilah orang lain. Aku takut nggak akan sanggup menjalani amanahmu. Aku nggak mau pertemanan kita rusak Dit."
"Tolonglah Lan, nggak ada calon lain. Aku harap kamu pikirkan dulu Lan, masih ada waktu untuk berpikir sampai masa Iddah Key berakhir."
"Apakah Keysha tahu hal ini Dit?"
"Belum. Jika kamu sudah setuju, baru aku akan beritahu dia Lan."
Alan menggeleng, dia dihadapkan pada pilihan yang sulit.
"Bagaimana Lan? tolong pertimbangkan ya, demi aku dan Keysha. Kalau menurutku, Devia dan orangtua kita masing-masing tidak perlu diberitahu, toh pernikahan ini hanya pernikahan siri dan tujuannya hanya sementara. Kita hanya butuh saksi. Dan mengenai wali nikahnya bisa adik Key atau wali hakim."
Alan mendesah, lalu dia berkata, "Beri aku waktu untuk berpikir Dit dan aku akan sholat istikharah untuk meyakinkan hatiku, apakah aku sanggup atau tidak memegang amanah darimu."
"Terimakasih Lan, setidaknya kami punya harapan. Apapun keputusanmu nanti aku berharap itu pasti yang terbaik."
Radit memeluk Alan, dia tahu ini sangat berat, tapi Radit tidak punya pilihan lain, selain menumpukan harapan kepada sahabat baiknya itu.
Dalam hatinya Radit berkata, seandainya pun Alan berkhianat, dia akan ikhlas. Setidaknya Key, jatuh ketangan pria yang dia tahu sangat baik.
Radit menghela nafas lega, dia kembali memeluk sahabatnya dan berkata, "Maafkan aku Lan, aku selalu menyusahkan mu."
"Kamu bukan hanya teman bagiku Dit, tapi saudaraku. Ayo kita pergi cari makanan, perutku lapar nih," ajak Alan.
"Pasienmu bagaimana Lan?"
"Aku sudah hubungi Dr. Brian dan minta tolong untuk melanjutkan tugasku hari ini."
"Syukurlah kalau begitu. Ayolah kita cari makanan, aku juga lapar."
"Sebentar Dit, aku ganti baju tugasku dulu dan ambil dompet."
"Sudah begitu saja, keren kok! Masalah dompet, nggak perlu lah, aku yang traktir. Ayo kita berangkat!"
__ADS_1
"Oke sobat."
Keduanya pun pergi dengan tertawa, meski beban berat masih ada di hati masing-masing.