ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 44. KESEMPATAN TERAKHIR


__ADS_3

Ibu mendekati Alan yang sedang menyendok makanan, lalu beliau berkata, "Apa Devia tidak mau punya anak Lan?"


"Enggak Bu, Alan tadi cuma bercanda," ucap Alan yang tidak mau sang ibu kepikiran.


"Oh, syukurlah. Ibu takut, kalian tidak mau memberi kami cucu. Kami ingin kalian secepatnya memberi kami cucu biar rumah ini nantinya ramai tidak seperti kuburan."


"Ah Ibu, masa rumah kita di bilang kuburan?"


"Memang benar kan? Kamu sibuk di klinik dan ayah juga sibuk di kantor. Nah, tinggal Ibu sendirian di rumah sama Cimoy." Cimoy adalah kucing kesayangan Ibunya Alan.


"Iya Bu, doakan saja agar Allah cepat memberi momongan dalam rumahtangga Alan nanti."


"Iya Nak, Ibu akan terus mendoakan agar rumah tangga kalian bahagia."


"Ibu nggak ikut makan?"


"Nggak ah, masih kenyang. Kamu makan yang banyak, daging bagus untuk meningkatkan hormon, biar lusa kamu joss dan langsung jadi."


"Ah...ibu ada saja. Iya ini Alan makan yang banyak," ucap Alan yang ingin menyenangkan hati ibunya.


Padahal dalam batin Alan, semua akan percuma jika Devia tetap bersikap cuek, hingga membuat mutnya hilang untuk mendekati ataupun melakukan hubungan suami istri nantinya. Apalagi, cinta di hati Alan masih besar untuk Keysha.


"Hei kok melamun! ayo tambah lagi," tegur ibu sambil menambahkan rendang ke piring Alan.


Alan pun menghabiskan makanannya, lalu pamit kepada ibu, dia ingin pergi kembali ke klinik. Hari ini terakhir dia bekerja sebelum hari pernikahannya.


Klinik Alan buka sampai jam 10 malam, di sana ada dua dokter spesialis yang bertugas secara bergantian melayani pasien jika Alan tidak masuk.


Saat Alan tiba, banyak pasien mengantri. Kemudian diapun segera membantu rekannya untuk melayani pasien yang lain.


Para pasien senang, karena para dokter dan perawat melayani mereka dengan ramah. Apalagi Alan, ketidak hadirannya di sana selalu di pertanyakan oleh ibu-ibu hamil tersebut.


Bahkan terkadang para ibu hamil sengaja meminta Alan agar bersedia berfoto bersama mereka. Para ibu itu berharap anak yang mereka kandung, akan pintar dan tampan seperti sang dokter.


Alan tidak ingin mengecewakan para pasiennya. Selagi masih dalam batas wajar, diapun menuruti permintaan mereka.


Setelah semua pasien terlayani, Alan segera menemui rekannya dan dia pamit karena mulai besok tidak masuk hingga seminggu ke depan.

__ADS_1


Mereka mengucapkan selamat dan berjanji akan datang ke acara pernikahan.


Alan pun meninggalkan klinik, dalam perjalanan dia mendapat telepon dari Radit. Radit mengabarkan jika besok mereka berangkat.


Akhirnya Alan akan bertemu dengan kedua sahabat baiknya lagi. Dan hal yang paling membuat hatinya gembira, dia akan bisa melihat Keysha sebelum dirinya menikah.


Ini kesempatan terakhirnya, melihat wanita yang masih dia cintai dan mungkin setelah ini Alan akan lebih menjauh dengan mengganti nomor kontaknya, agar mereka tidak bisa berkomunikasi lagi, baik dengan Radit maupun dengan Keysha.


Alan ingin benar-benar melupakan Keysha untuk selamanya. Jika mereka masih sering kontak dan bertemu meski sesekali, seumur hidup mungkin Alan tidak akan bisa melupakan cintanya itu. Alan berharap setelah itu bisa belajar mencintai Devia dan hanya fokus dengan karir dan rumahtangganya saja.


Radit sudah pulang menjemput sang Mama, tapi dia belum melihat sang istri sejak dia tiba.


Dengan perasaan cemas, Radit menghubungi Keysha dan ternyata Key masih berada di kampus, menyelesaikan tugas karena mulai besok dan tiga hari kedepan dia sudah izin, tidak masuk untuk mempersiapkan keberangkatan ke acara pernikahan Alan.


Radit meminta Keysha untuk menunggu di sana sampai dia datang menjemput. Tanpa mengganti bajunya Radit langsung pamit kepada sang mama.


Tapi, mama Radit keberatan, lalu beliau berkata, "Manja sekali istrimu! Apa dia tidak tahu jika suaminya capek. Kan jam segini masih ada taksi, ngapain juga musti kamu yang pergi menjemput. Apa dia pikir kamu itu robot, nggak punya rasa capek!"


"Ma, Key itu istri Radit dan Radit ikhlas menjemputnya meski lelah. Ini kewajiban Radit sebagai suami untuk melindungi dan memberikan rasa aman serta nyaman kepada Keysha. Hari sudah malam, Radit berangkat Ma!" ucap Radit tanpa menunggu komentar dari sang Mama.


Radit mengkhawatirkan Sang istri, dia tidak ingin Keysha pulang menggunakan taksi atau ojek online.


Keysha sudah menutup laptopnya dan dia merapikan meja sebelum keluar meninggalkan ruangan.


Di pintu keluar Key bersama beberapa orang dosen lain, sama menunggu jemputan.


Seperti biasa, rekan yang rumahnya searah, menawarkan tumpangan. Tapi Key menolak dengan halus. Keysha tidak mau membuat suaminya cemburu dan dia menghindari ocehan sang mertua yang bisa saja mengambil kesempatan dalam situasi tersebut.


Saat ini hanya tinggal Key dan satu temannya saja di sana. Dan yang menjemput temannya juga sudah tiba.


Key cemas karena Radit belum juga tiba, tapi dia berusaha tenang dan memutuskan duduk ngobrol bersama security kampus yang bertugas menjaga pos gerbang.


Tidak lama, Radit pun tiba dan Key pamit serta berterimakasih karena Abang security sudah menemaninya sampai Radit tiba.


Radit membunyikan klakson, pertanda dirinya juga pamit saat Key sudah masuk ke dalam mobil.


"Hanya tinggal kamu saja Key?"

__ADS_1


"Iya Mas. Untung masih ada Abang security, jadi tidak takut."


"Maaf ya, gara-gara menjemput Mama, kamu jadi terabaikan."


"Nggak apa-apa Mas. Besok jam berapa kita berangkat?"


"Penerbangan siang Key, hanya itu tiket yang ada," jawab Radit.


"Alan sudah Mas beritahu?"


"Sudah. Besok, sopir ayahnya yang akan menjemput kita."


"Oh, syukurlah. Mas sudah bicarakan ini dengan Mama dan Papa?"


"Belum, rencananya malam ini."


"Apa mereka akan mengizinkan kita berangkat Mas?"


"Entahlah, tapi kita akan tetap berangkat. Nggak enak dengan Alan dan juga keluarganya."


"Oh..."


"Kenapa? Kamu takut mereka tidak mengizinkan kita berangkat?"


Keysha cuma mengangguk, entah mengapa, fillingnya mengatakan jika sang mama akan menghalangi kepergian mereka.


Keduanya diam, Radit juga memikirkan hal yang sama. Dia kali ini terpaksa akan menentang jika kedua orangtuanya melarang mereka pergi.


Mereka pun tiba di rumah, mama dan papanya baru saja masuk kamar. Radit mengetuk pintu kamar, karena malam ini juga dia harus meminta izin.


Saat pintu di buka, sang mama pun bertanya, "Ada apa Dit?"


Radit mau pamit Ma, besok jam 9 pagi kami berangkat ke bandara. Kami akan menghadiri pernikahan Alan."


"Apa! Kalian mau ke Malaysia? kenapa mendadak. Jadi bagaimana dengan Mama, besok Papa kamu juga keluar kota. Apa kalian tega membiarkan mama tinggal sendirian di rumah?"


Keduanya terdiam, lalu saling pandang, ternyata dugaan mereka benar. Entah disengaja sang mama atau memang hanya kebetulan saja.

__ADS_1


__ADS_2