ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 18. TEGUH DENGAN PENDIRIAN


__ADS_3

Radit melihat Sopir dan pengawal Papanya ada di luar, kemudian Radit menghampiri dan bertanya, "Mang!" sapa Radit sembari menepuk lembut pundak Mang Asep.


"Eh, Den Radit. Kami kesini bersama Bapak dan Ibu Den, beliau bingung mencari-cari Den Radit," jawab Mang Asep.


"Mamang lihat Papa dan Mama, bersama ibunya Keysha?" tanya Radit.


"Itu Den," tunjuk Mang Asep di warung kecil dekat parkiran.


"Terimakasih ya Mang, aku mau menemui Papa dan Mama dulu," ucap Radit.


"Ayo Key," ajak Radit.


"Aku takut Kak! Bagaimana jika mereka tidak mengizinkan kita menikah, aku takut kondisi ayah nanti ngedrop. Kakak lihat sendiri 'kan, Ayah begitu berharap atas pernikahan ini."


"Kamu jangan takut, aku akan bicara dengan Papa dan Mama."


Papa dan Mama Radit mengajak ibu ke warung untuk menyodorkan sejumlah uang dalam bentuk cek, dengan syarat ibu harus memisahkan Keysha dengan Radit dan membatalkan pernikahan mereka.


Saat Papa mengulurkan cek kosong yang sudah ditandatangani, Radit pun muncul dan berkata, "Papa! Radit bukan barang Pa, yang Papa bisa tukar dengan uang semau Papa!"


"Oh, kalian di sini! Baguslah biar jelas, Papa dengar kamu besok akan menikahi wanita itu, batalkan Dit! Kami tidak menyetujui pernikahan kalian! Apa sih yang membuatmu tergila-gila dan nekat seperti ini Dit?" tanya Papa Arsen.


"Pa! Ini sudah keputusan Radit, kami saling mencintai sejak lama. Jadi, Radit minta maaf, nggak bisa penuhi permintaan Papa. Radit mohon, restuilah pernikahan kami."


"Dengarkan perkataan Papa kamu Dit,


"Berapa uang yang kalian minta agar mau menjauhi anak Saya! Katakanlah atau tulis sendiri nilainya, berapapun yang kalian butuhkan. Tapi, setelah ini pergi jauh-jauh dari kami!" ucap Mama.


Keysha yang mendengar hal itu sangat terkejut, dia mendekati ibu dan berkata, "Mari Bu, kita pergi dari sini! Kita tidak berharga di mata mereka."

__ADS_1


Ibu pun bangkit dari tempat duduknya, mengikuti Keysha yang memegang lengannya.


"Oh ya, Maaf Pak, Bu, kalian salah orang, harga diri kami bukan untuk diperjualbelikan," ucap Keysha sembari meninggalkan tempat itu.


"Sombong sekali kalian! Kita akan lihat, harga diri kalian atau uang kami yang akan menang!" sahut Mama Yuna.


"Key, tunggu!" cegah Radit sembari menarik lengan Keysha yang beranjak pergi.


"Maaf Dit, sebaiknya pernikahan, kita batalkan saja. Aku tidak mau membuatmu menjadi anak durhaka yang menentang keinginan orangtuamu. Pergilah! aku akan kembalikan semuanya!" ucap Keysha.


"Tidak! Aku tidak akan mau membatalkan pernikahan kita, meski mereka tidak menganggapku lagi sebagai anak. Aku sudah dewasa dan aku bebas menentukan mana yang terbaik untuk masa depanku!" jawab Radit yang menggenggam lengan Keysha dan ikut pergi meninggalkan kedua orangtuanya.


"Radit!" teriak Tuan Arsen diikuti oleh Mama Yuna.


"Tunggu Dit! Jika kamu mengikuti wanita itu, hak waris akan Papa tarik dan semua Atm sudah Papa blokir. Mau kamu beri makan apa istri kamu nanti! Kamu tidak akan dihargainya lagi karena sudah tidak memiliki apapun termasuk pekerjaan!"


"Terimakasih Pa, Papa sudah melepaskan tanggung jawabku. Papa jangan khawatir, meski aku harus menjadi petani, aku pasti bisa menafkahi keluargaku," jawab Radit.


Radit tersenyum menatap para pengawal Tuan Arsen yang menghadangnya, lalu dia berkata, "Silahkan! Jika kalian ingin membuat keributan di sini! Aku tidak takut! tapi jangan salahkan aku jika hari ini juga berita tentang Tuan Arsen yang menganiaya dan membuat kerusuhan di rumah sakit akan tersebar, baik di semua media maupun....," Radit menghentikan ucapannya sembari menunjuk ke sekeliling mereka yang mulai ramai dengan orang-orang yang ingin tahu ada perdebatan apa di sana.


Bagi warga yang mengenal Tuan Arsen, mereka berbisik-bisik, bahkan ada yang ingin berkenalan dengan pengusaha sukses serta terkenal dermawan itu, yang beritanya sering berseliweran di media sosial dan juga surat kabar.


Tuan Arsen lalu memberi kode kepada para pengawalnya agar menyingkir dan pergi dari sana.


Senyum Radit semakin melebar saat melihat para pengawal menyingkir dari jalannya. Lalu, Radit mengajak Keysha dan Ibu untuk kembali ke ruangan ICU tempat ayah di rawat.


Sementara, Tuan Arsen dan Mama Yuna memutuskan untuk kembali ke penginapan. Mereka ingin menenangkan hati dulu sembari mencari cara untuk membatalkan pernikahan putranya.


Keysha mengantarkan ibu terlebih dulu ke ruang ICU, lalu Key pamit, dia ingin berbicara empat mata dengan Radit.

__ADS_1


Ibu memberi keduanya kesempatan untuk membicarakan tentang rencana pernikahan sore nanti. Beliau menyerahkan keputusan kepada Keysha mau lanjut atau membatalkannya.


Keysha mengajak Radit duduk di sebuah bangku yang ada di ruang tunggu pasien. Kemudian, Keysha mulai membuka percakapan, "Dit, kenapa kamu keras kepala? Mereka orangtuamu, ridho mereka adalah ridho sang pemberi kehidupan. Aku tidak mau membuatmu menjadi anak durhaka. Mungkin kita memang ditakdirkan tidak berjodoh," ucap Keysha.


"Durhaka yang bagaimana Key? Kamu gadis baik, taat beribadah, dan sayang terhadap orangtua, apalagi yang kurang untuk mereka. Apa karena harta dan status sosial kamu yang tidak setara, hingga mereka jadikan alasan untuk menolakmu?"


"Mungkin mereka memiliki pilihan calon istri yang lebih sempurna Dit. Jadi, cobalah pahami mereka."


"Lantas siapa yang akan memahamiku Key? Aku telah bersabar menunggu, hingga kamu bisa menerima cinta ku, hampir 8 tahun Key! Kini hanya tinggal menunggu hitungan jam saja, kamu sah menjadi istriku dan kamu malah setuju dengan mereka agar aku membatalkannya? Maaf Key, itu tidak akan aku lakukan, kecuali maut datang menjemputku," ucap Radit sembari menatap lekat wajah Keysha.


Keysha menarik nafas berat, dia bingung, bagaimana nasib rumah tangganya kelak, jika orangtua Radit masih saja tidak meridhoi pernikahan mereka.


Karena hubungan pernikahan bukan hanya menyatukan antar dua orang, melainkan menyatukan dua keluarga.


"Radit menggenggam tangan Keysha, lalu dia berkata lagi, "Sudahlah Key, kamu jangan lagi khawatir. Suatu saat nanti, mereka pasti bisa memahami kita dan ikhlas menerimamu menjadi menantu."


"Apalagi, jika mereka sudah mengenalmu lebih dekat, Papa dan Mama pasti akan menyayangimu lebih dari rasa sayangnya terhadapku," hibur Radit, meski dalam hatinya, dia belum yakin.


"Yuk kita kembali ke dalam, aku akan menelepon seseorang untuk pergi ke bandara. Pasti, saat ini Alan sudah berangkat dan kita juga harus segera bersiap untuk acara pernikahan nanti," ajak Radit.


Keysha tidak membantah lagi, dia membulatkan tekad untuk siap menjadi istri Radit, meski tanpa restu dari keduanya.


Radit dan Keysha beranjak dari tempat itu dan masuk ke dalam untuk menemui ibu.


Ibu yang melihat keduanya datang, harap-harap cemas. Beliau menunggu keputusan dari anak dan calon mantunya itu.


"Bu, kami sudah putuskan akan tetap menikah, meski tanpa kehadiran dan restu dari kedua orangtuaku," ucap Radit.


"Ibu hargai keputusan kalian Nak, tapi ingat! Walau bagaimana pun sikap mereka, jangan membenci ataupun dendam, keduanya tetap orangtua kalian dan kejarlah restu mereka, meski nanti kalian telah menikah," nasehat ibu.

__ADS_1


"Iya Bu, terimakasih telah memahami dan memaafkan orangtua Radit dan terimakasih telah mengizinkan Radit untuk masuk, menjadi bagian dari keluarga Ibu!" ucap Radit.


Radit lega dan sekarang hatinya semakin mantap untuk tetap melanjutkan pernikahannya dengan restu dari kedua orangtua Keysha.


__ADS_2