
"Ngomong-ngomong dimana Key, Dit? Aku serius lho, ingin ngobrol dengan dia! Sebentar jadilah, aku mau pamit dengan sahabat ku," ucap Alan.
"Kamu telepon saja dia Lan, aku sedang tidak di rumah, aku ditugaskan oleh Papa ke Medan, besok baru pulang!" ucap Radit.
"Oh, ya sudah deh! tunggu kamu di rumah saja. Tidak baik menelepon istri orang saat suaminya tidak ada!" ucap Alan.
"Dasar lho, seperti dengan siapa saja! Aku percaya kamu Lan. Kamu bukan pagar yang suka makan tanaman 'kan?" tanya Radit.
"Jelas tidak, tapi aku tanaman yang suka makan pagarnya," jawab Alan sambil tertawa.
"Sudah dulu ya, besok malam aku telepon jika kamu sudah sampai rumah, sekarang aku mau lanjut, pacar-pacar cantikku sudah menunggu minta di periksa," ucap Alan.
"Kamu kebanyakan pacar sih, asal jangan satu istri nanti terabaikan," ucap Radit.
"Oh, kalau yang itu pasti aku istimewakan. Ya sudah ya, aku tutup, ini mereka sudah ada di hadapanku!" ucap Alan.
Radit pun mengiyakan, lalu diapun melanjutkan pekerjaannya.
Keysha sudah selesai mengajar, lalu dia memesan taksi untuk pulang ke rumah. Saat dia sedang menunggu taksi pesanannya tiba, rekannya pun kembali menawarkan tumpangan.
Pengalaman telah mengajarkan Key untuk lebih berhati-hati, dia tidak mau memancing masalah dengan kedua mertuanya. Apalagi saat ini Radit sedang tidak ada di rumah.
Key menolak dengan halus dan kebetulan taksi pesanannya pun sampai.
Sambil meminta maaf, Key pamit kepada rekannya itu dan dia bergegas masuk ke dalam taksi. Key pulang dan sampai rumah senja menjelang adzan berkumandang.
Melihat Keysha pulang, sang Mama memiliki ide lagi untuk mengusiknya.
"Key, bisakah kamu bantu Mama!" ucap Mama Radit.
"Bantu apa Ma?"
"Ini lho, tas Mamanya Melanie ketinggalan. Mama minta tolong, kamu antarkan deh, sekalian pergi ke supermarket belikan Mama susu untuk tulang. Badan Mama sakit semua Key, maklum sudah tua gampang lelah. Nanti Mama catatkan alamatnya!" ucap Mama Radit.
"Tapi Ma, aku izin Mas Radit dulu ya!"
"Oh kalau itu, nanti biar Mama saja yang telepon Radit. Dia pasti beri izin, lagipula di rumah tidak ada yang bisa Mama mintai tolong lagi. Papa juga sudah tidur, tadi kelihatannya sangat lelah, barangkali banyak pekerjaan tadi di kantor."
__ADS_1
"Baiklah Ma, tapi aku simpan tas dulu ya Ma dan sekalian sholat Maghrib, sebentar lagi adzan."
"Iya, pergilah. Tas, uang, catatan alamat serta kunci motor, Mama letak di sini ya, barangkali kamu mau naik motor. Mama mau rebahan di kamar barangkali bisa mengurangi rasa lelah!" ucap Mama Radit.
"Baik Ma!" ucap Keysha.
Key masuk ke dalam kamar, meletakkan tas kerja, lalu menarik handuk dan berniat membersihkan diri untuk melaksanakan ibadah Maghrib.
Setelah selesai, Key pun bergegas melaksanakan permintaan sang mertua. Walaupun sebenarnya dia lelah dan ingin istirahat, tapi Key tidak ingin membantah dan mengecewakan Mama Radit. Apalagi Mama yang minta izin langsung ke Radit, mana mungkin dia bisa menolak.
Key yang memang mahir menggunakan motor, memilih memakai motor biar cepat sampai, meski sebenarnya sangat beresiko karena hari sudah malam.
Jalanan masih ramai, jadi Key melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Tapi, ketika dia mulai memasuki jalanan sepi menuju kompleks perumahan elite yang ada di alamat, rasa takutnya pun muncul.
Suasana sangat lengang, hanya ada sesekali mobil yang melintas menuju ke arah kompleks, Key menguatkan hati harus bisa menyampaikan amanah sang mama karena untuk berbalik juga tanggung.
Saat Key mulai memasuki gerbang kompleks, barulah merasa tenang dan security juga menyambutnya dengan ramah.
"Mas, Saya mau tanya, benarkah Mama Melanie tinggal di kompleks sini?" tanya Keysha.
"Memangnya ada keperluan apa ya? Bisa tolong tunjukkan kartu identitas Mbak, karena di sini tidak sembarang orang asing masuk!"
"Oh gitu ya Mas, sebentar ya!"
Kemudian, Keysha mengeluarkan KTP dari dalam tasnya dan dia langsung dipersilakan masuk, sedangkan KTP bisa diambil saat hendak keluar dari kompleks.
Key kembali melajukan motornya, lalu dia mengikuti petunjuk yang Mas security katakan.
Ternyata benar yang dikatakan security tersebut, rumah orangtua Melanie paling besar diantara rumah lain. Keysha merasa minder, pantaslah jika mereka tadi menghina dan mengatakan jika dirinya gembel.
Yang membuat Key tidak habis pikir, kenapa Radit memilih dirinya dan menolak Melanie yang jelas statusnya lebih dari keluarga Arzen.
Key menghentikan motor tepat di depan pagar rumah dan dia ternganga saat melihat pintu terbuka sendiri tanpa disentuh dan Key tidak melihat satu penjagapun ada di sana.
Dengan ragu Key melangkah masuk dan semakin berjalan ke dalam dia melihat pemandangan yang sangat indah.
__ADS_1
Rumah yang dikelilingi kaca menunjukkan kemegahan dekorasi serta isi yang merupakan barang-barang mewah membuat Key menghentikan langkah.
Tiba-tiba pintu kaca terbuka, tapi Key belum juga melihat ada orang di sana.
Akhirnya Key memberanikan diri mengucap salam dan terdengar suara seorang wanita menjawab salam, lalu memintanya masuk.
Wanita setengah baya datang menghampiri, sambil mempersilakan Key untuk duduk.
Mata Keysha membulat, baru kali ini dia melihat rumah yang dalamnya megah seperti istana.
"Bu, Saya mau mengembalikan tas Melanie yang tertinggal di rumah mertua Saya, apakah Melanie nya ada di rumah atau Saya titipkan saja kepada ibu?" tanya Keysha.
"Tunggu Nyonya dan Nona saja, itu pesan mereka!Sebentar lagi juga turun!" ucap wanita tersebut yang ternyata seorang pembantu.
Key pun menunggu sambil memperhatikan sekeliling dan terlihat si empunya rumah turun dari atas tangga berulir dengan gaya mereka yang menunjukkan rentetan emas di pergelangan dan jari tangan keduanya.
Melihat pemandangan tersebut Key menduga, jika keduanya memang sudah tahu tentang kedatangannya kesana.
"Ma, ternyata istri Radit yang datang! Kebetulan sekali, aku masih penasaran seberapa hebatkah dia hingga Radit berani menolakku!" ucap Melanie.
"Jelas kalah sama kamu princess, dia mah hanya...eits!" Ucap Mamanya Melanie lalu menutup mulut dan tidak meneruskan perkataannya.
"Radit buta barangkali ya Ma, atau memang dia yang pakai guna-guna pelet, hingga orang seperti Radit bisa salah menentukan pilihan!"
"Tanya langsung tuh sama orangnya mumpung ada disini!" ucap Mama Melanie sambil menunjuk ke arah Keysha.
Keysha yang mendengar cemoohan dan fitnah dari Mama dan anak tersebut merasa geram, dia mengepalkan kedua tangan, rasanya ingin meremas mulut keduanya.
Tapi Key masih menyabarkan hati, karena tindak kekerasan akan merugikan dirinya jika mereka membuat laporan.
"Maaf Nyonya, saya kesini hanya membawa amanah Mama, mengembalikan tas kalian yang tertinggal. Dan ini tasnya, sekarang saya permisi," ucap Keysha sambil berbalik hendak pergi.
"Hei tunggu! Enak sekali kamu main pergi saja, jika isi dalam tas kami ada yang hilang bagaimana!" ucap Melanie.
"Coba kamu periksa dulu Lan!" ucap Mama Melanie.
Melanie pun memeriksa tas bagian luar lalu mulai memeriksa satu persatu isinya.
__ADS_1
Bagaimanakah kelanjutan kisahnya? ikuti terus ya guys dan jangan lupa dukungannya. Terimakasih 🙏