ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 45. BERTENGKAR LAGI


__ADS_3

"Ma, nanti aku hubungi Tante Tia supaya menginap di sini untuk menemani Mama. Kami tidak mungkin tidak hadir Ma! Mama tahu 'kan, Alan sahabat karib kami dan keluarganya juga sudah seperti orangtua kami sendiri," ucap Radit.


"Tapi, aku Mama kamu Dit! Lebih penting mana, Mama atau temanmu?"


"Keduanya penting Ma, ini acara dia sekali seumur hidup, masa kami tega tidak menghadirinya. Sementara saat pernikahan kami, Alan menyempatkan diri hadir, meski pekerjaannya sulit ditinggal."


"Iya Ma, dia juga memberi kami uang yang banyak sebagai kado."


"Tapi keluargamu yang menikmati 'kan? bukan Radit!"


Keysha bungkam, dia tidak menyangka mama Radit sanggup berkata seperti itu. Rasanya Keysha hendak menangis, tapi dia harus tegar karena yang dikatakan sang Mama memang benar.


"Mama! orangtua Key adalah orangtuaku juga. Jadi tidak salah jika mereka menggunakan uang itu, lagipula Alan memang memberikannya untuk pengobatan ayah," bela Radit.


"Kamu saja yang tidak sadar Dit, dari dulu hanya menjadi ladang uang bagi mereka. Kamu selalu membantu keuangan mereka, sejak kalian masih kuliah, 'kan!" ucap Mama Radit bertambah marah.


Sang Papa yang mendengar suara ribut di luar segera keluar. Beliau tidak ingin, sampai Radit memutuskan pergi dari rumah, hanya karena sikap sang istri yang tidak bisa menahan emosi.


Jika Radit keluar dari rumah itu, mereka bakal sulit untuk memisahkan keduanya.


"Ada apa ini Ma? Kok ribut?"


"Ini anak Papa tidak sadar juga jika dia hanya dimanfaatkan!"


Keysha tidak tahan lagi, air matanya menetes. Hatinya sakit karena tuduhan Mama Radit.


"Ma, itu tidak benar. Key dan keluarganya tidak pernah memanfaatkan aku. Jika aku memberi mereka itu hal yang wajar dan itu tanggungjawab ku sebagai menantu dari anak tertua. Bukankah Papa juga gitu terhadap keluarga Mama!" ucap Radit membalikkan keadaan.


"Kamu... sekarang jadi anak durhaka ya! Sejak kenal dia, kamu terus saja melawan kami!" sahut sang Mama.


Radit hendak membantah lagi, tapi Keysha menghalanginya dengan menarik tangan Radit sambil berkata, "Sudah Mas, ucapan Mama benar. Aku dan keluargaku memang selalu menyusahkan Mas Radit."


"Tidak Key. Itu tidak benar, Mama salah paham dan harus segera di luruskan."


"Sudah, sudah! Ayo kita tidur, besok Papa akan berangkat pagi. Dan kamu Radit, pergilah! maklumi saja sikap Mamamu. Mengenai teman Mama di rumah, nanti Papa akan meminta sepupu kamu untuk kesini."

__ADS_1


"Iya Pa, aku juga akan menghubungi Tante Tia dan meminta tolong agar menginap di sini menemani Mama selama kita pergi."


"Bagus kalau begitu. Papa setuju denganmu. Ayo kita tidur Ma!" ucap Papa sambil menarik tangan istrinya.


Radit pun mengajak Key ke kamar, lalu dia menghempaskan jas kerjanya dengan kesal di atas sofa yang ada di sana.


"Mas, sabar!" ucap Keysha.


"Aku kesal Key, Mama tidak berubah juga. Mama selalu memojokkan kamu. Kamu istriku Key dan bukan musuh Mama! Kenapa namaku tidak juga bisa menerima dan menghargai mu!"


"Nggak apa-apa Mas, mudah-mudahan suatu saat hati Mama terbuka dan bisa menerimaku."


"Maafkan aku Key, aku membawamu ke rumah yang seperti neraka!"


Mendengar hal itu, Key menutup mulut Radit dengan jarinya, lalu dia berkata, "Nggak baik ngomong gitu Mas."


Radit memandang Key, lalu dia menghapus sisa air mata yang ada di mata indah sang istri.


"Aku dan keluargaku hanya memberikan kesedihan untukmu, maafkan aku Yang."


Keysha menggeleng lalu mencium pipi Radit, lalu berkata, "Cukup Mas, Mas tidak salah dan apa yang Mama katakan memang benar. Sejak dulu aku selalu menyusahkan Mas Radit."


Key pun menangis dalam pelukan Radit. Dia tidak mau pertengkaran terus terjadi antara Radit dengan sang mama hanya gara-gara dirinya.


"Sudah jangan menangis lagi. Minggu depan kita pindah dari sini ya! Kita akan tinggal di rumah kita sendiri. Ayo tersenyum, aku tidak suka melihat istriku menangis. Kamu jelek jika menangis!"


"Rumah kita Mas? Bukankah itu untuk Ibu dan adik-adik? Apa kita akan tinggal bersama mereka?"


"Eh, keceplosan lagi 'kan?"


"Rencana ingin membuat surprise jadi gagal deh!"


"Tapi ya sudahlah, nanti Mas buat surprise yang lain lagi. Kita akan tinggal di rumah kita sendiri, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah ibu."


"Yang benar Mas, Mas beli rumah juga untuk kita?"

__ADS_1


"Tentu dong Sayang. Mana mungkin aku biarkan kamu menangis terus. Kita akan keluar dari sini, barangkali setelah itu, Mama akan menyadari sikapnya."


"Aku tidak ingin jadi anak durhaka Key, yang selalu bertengkar dengan Mama karena perbedaan pendapat."


"Kita akan memulai yang baru. Aku ingin membahagiakan kamu Key. Barangkali dengan tinggal terpisah dari Mama kamu bisa cepat hamil. Aku ingin melihat mu melahirkan buah hati kita Key. Apa kamu juga menginginkan itu Key?"


"Tentu Mas, aku sangat ingin bayi kita hadir di sini," jawab Key sambil mengelus perutnya.


"Terimakasih Sayang. Aku sangat mencintai kamu," ucap Radit sambil mencium kening Keysha.


"Aku juga Mas. Aku beruntung menjadi istri Mas Radit."


Keduanya pun kembali berpelukan, tapi tiba-tiba mereka tertawa, saat mendengar cacing dari dalam perut mereka bersuara.


"Ayo kita makan! Kenapa tadi kita tidak singgah beli makanan ya Key?"


"Iya Mas. Ya sudah aku masak dulu ya."


"Tidak usah Sayang, kita pesan saja via online. Aku tidak mau kamu kecapean dan kita gagal berangkat besok."


"Ya sudah kalau itu mau Mas, kita mau makan apa ya Mas. Aku sepertinya ingin lontong malam saja. Sudah lama tidak makan lontong, jadi rindu sama ibu."


"Beberapa hari lagi ibu akan tinggal dekat kita, jadi kamu tidak akan merasa kesepian lagi. Adik-adik juga akan menjadi temanku bermain catur."


"Iya ya Mas. Terimakasih sekali lagi ya Mas."


Kemudian Radit memesan makanan dan sambil menunggu kurir datang, mereka pun mandi bersama. Rasanya keringat sudah sangat lengket di badan masing-masing.


"Setelah selesai mereka pun memakai pakaian santai, merebahkan diri melepas lelah.


Tidak lama, kurir pun datang mengantar pesanan mereka.


Radit mengambil peralatan makan, lalu dia menyajikan makanan untuk sang istri. Malam ini Radit sengaja yang melayani Keysha.


Mereka pun makan dengan lahap dan Key begitu menikmati lontong yang sejak kemaren dia pingin makan.

__ADS_1


Entah mengapa belakangan ini, dia merasa aneh, seleranya datang tiba-tiba dan rasanya begitu puas saat keinginannya tercapai. Padahal dulu dia tidak terlalu suka dengan makanan bersantan.


Bersambung....


__ADS_2