
"Jam berapa kamu dari rumah Lan? Memangnya Devia tidak menyiapkan sarapan?"
"Sudahlah Dit, nggak usah bahas dia lagi. Sudah yuk kita sarapan. Oh ya, jam berapa pesawat kalian berangkat?"
"Jam 2, kamu sendiri bagaimana? Jadi menyusul Devia?"
"Entahlah, aku pikir matang-matang dulu lah Dit. Ayo kita makan dulu, itu nasi soto pesananku sudah datang. Ini pedagangnya asal Indo lho!"
"Wah...kalau begini kangen nasi soto yang dijual di sekolah jadinya."
"Iya, makanya aku ajak kalian kesini."
"Silakan Mas!" ucap pelayan.
"Terimakasih ya Mas," jawab Alan dan Radit serempak.
"Ayo Key, dimakan sotonya. Kalau dingin nanti nggak enak."
"Iya, terimakasih Lan."
Merekapun menikmati soto dengan lahap, sambil berbincang-bincang tentang masakan-masakan di sekolah dulu yang mereka suka.
"Oh ya Dit, aku tadi malam berpikir, jika hubungan aku dan Devia begini terus, mungkin aku akan kembali ke Indo saja. Nggak tega jika sampai orangtuaku ataupun orangtua Devia tahu. Aku akan coba berkarir di Jakarta, kebetulan teman-teman yang dulu satu kampus, memintaku untuk bekerja sama mendirikan rumah sakit."
"Bagus itu Lan, jadi kita bisa sering ketemuan. Bandung-Jakarta, wah asyik 'kan."
"Doakanlah, semoga niatku terlaksana. Biarkan saja Devia dengan egonya."
"Iyalah, kita hanya bisa berdoa semoga hatinya terbuka. Kalau nggak bisa juga, bagus nambah atau cari ganti Lan, bukankah teman wanita kita dulu banyak yang naksir kamu. Aku dengar si Tari juga menjadi dokter dan masih single lho, cocok kan satu profesi dan mungkin bisa saling memahami."
"Kamu Dit, masa baru nikah sudah harus nambah atau cari ganti, apa kata orang nanti dan mau dikemanakan muka kedua keluarga besar kami."
"Iya nih, Mas Radit kasi saran nggak benar."
"Lho...nggak benar apanya Yang? Ini masalah kebutuhan batin lho, daripada Alan terjerat wanita penghibur? Lagipula, pasti Alan menginginkan anak kan? Nggak mungkin dia akan menunggu sampai Devia berhenti berkarir yang nggak jelas berapa lama lagi harus menunggu."
Alan mendesah, dia jadi teringat kejadian malam tadi bersama Devia.
"Hei, kenapa melamun? benarkan yang aku katakan?"
"Sudah Mas, kasihan tuh Alan. Kalau menurutku, coba saja kamu tinggal di Australia untuk beberapa waktu, siapa tahu Devia berubah. Kalau tidak juga baru kamu ambil keputusan lain Lan, lanjut atau stop!"
__ADS_1
"Iya Key, nanti aku pikir lagi deh. Yuk aku antar kalian, sekalian ada yang mau aku bicarakan dengan ibu. Nanti biar aku saja yang antar kalian ke bandara. Tapi, sebelum itu, kita singgah dulu ya ke pusat oleh-oleh. Aku ingin titip buat adik-adik kamu Key. Oh ya, jadi mereka pindah?"
"Jadi dong Lan, biar Keysha tidak sedih lagi, bisa dekat terus dengan ibu. Lusa kami akan jemput mereka, lagipula adik-adik sudah harus masuk ke sekolah yang baru."
"Alhamdulillah jika begitu. Kasihan juga bila ibu dan adik-adik terus tinggal di kampung, sementara ayah sudah tidak ada."
"Iya Lan," jawab Keysha.
"Ayo kita berangkat," ajak Alan.
Merekapun pergi ke pusat oleh-oleh, Alan membelikan baju khas Malaysia untuk ibu dan membelikan adik adik Key aneka coklat dan makanan lainnya.
"Sudah Lan, jangan banyak-banyak, itu sudah cukup," ucap Keysha.
"Nggak apa-apa lho Key, ayo kita ke bagian sepatu, kamu ingat kan, ukuran kaki mereka?"
"Nggak usah Lan."
"Nggak apa-apa Sayang, rezeki jangan di tolak."
"Key akhirnya menyerah, memang sih ketiga adiknya minta dibelikan sepatu karena sepatu mereka koyak."
Alan tidak lupa memberikan oleh-oleh juga untuk orangtua Radit, meski Alan tahu bagi mereka itu tidak ada nilainya.
Alan cuma beralasan jika Devia sedang sibuk mempersiapkan keberangkatannya.
Radit dan Key pun bersiap-siap, sebentar lagi, Alan akan mengantar mereka ke bandara.
Setelah pamit dengan ibu dan ayah mereka pun berangkat. Dalam perjalanan menuju bandara, Devia pun menelepon. Awalnya Alan malas mengangkat, tapi akhirnya dia berpikir dirinya masih punya tanggungjawab sebagai suami.
"Hallo Kak, Kakak dimana? Aku berangkat jam 3 sore ini lho, jadi siapa yang akan mengantar aku ke bandara?"
Mendengar hal itu, Alan menarik nafas, dia tidak menyangka dirinya cuma dibutuhkan hanya sebagai sopir.
Radit dan Key geleng-geleng kepala, mereka makin prihatin melihat nasib Alan.
"Iya, nanti aku yang antar. Saat ini aku sedang menuju bandara, mengantar Radit dan Keysha."
"Oh, ternyata Kakak mengabaikan aku hanya demi mereka. Aku istrimu Kak! dan mereka cuma teman!" ucap Devia, lalu menutup panggilannya.
"Maaf ya Dit, Key...kalian jangan ambil peduli apa yang Devia katakan. Persahabatan kita lebih dari apapun. Devia saja yang tidak mengerti bagaimana arti sebuah persahabatan."
__ADS_1
"Aman Lan, kamu nggak apa-apa kok," jawab Radit.
"Kalau kamu mau balik nggak apa-apa Lan, biar kami naik taksi. Mungkin dia ingin kalian menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatannya."
"Nggak Key, aku antar kalian dulu, baru pulang."
Merekapun akhirnya tiba di bandara, Alan membantu mengeluarkan kotak yang berisi oleh-oleh, lalu Radit dan Keysha pamit.
"Selamat jalan Dit, salam untuk Papa Mama ya dan tolong sampaikan ucapan terimakasih atas kadonya."
"Iya Lan, aku tunggu kedatanganmu ya, kabari saja jika jadi pindah ke Jakarta."
"Pasti!"
"Oh ya Lan, semoga semuanya baik-baik saja ya, dan Devia bisa berubah menjadi istri yang baik."
"Terimakasih Key, salam buat ibu dan adik-adik. Kalian hati-hati ya!"
Setelah itu Radit dan Key masuk untuk check-in, sedangkan Alan pulang ke rumah Datuk.
Sesampainya di rumah, Datuk ternyata telah menunggu Alan. Beliau ingin membicarakan sesuatu kepada Alan.
"Duduk Nak, Ayah ingin kita berbincang. Sore ini, Devia berangkat, tapi Ayah lihat rumah tangga kalian sedang tidak baik, kamu malam tadi menginap di mana Nak? Kata mang Arief kamu keluar tadi malam."
"Iya Yah, Alan terpaksa tidur di klinik, karena ada pasien darurat mau melahirkan."
"Apa tidak ada dokter lain Nak, kok mesti kamu yang lagi cuti diusik."
"Namanya tanggungjawab Yah, kapanpun dibutuhkan harus siap."
"Apa kalian bertengkar lagi?"
"Nggak kok Yah. Oh ya Yah, Devia dan ibu kemana kok sepi?"
"Devia ada di kamar, sejak pagi dia tidak keluar kamar bahkan makan saja minta bibi yang antar."
"Mungkin dia sedang tidak enak badan Yah. Kalau begitu, Alan ke kamar dulu ya Yah, mau lihat keadaan Devia."
"Pergilah! tapi ingat Nak, jika ada masalah, selesaikan. Jangan malah pergi menghindar. Ayah siap membantu memecahkan masalah kalian."
"Benar kok Yah, nggak ada apa-apa. Alan ke kamar dulu ya Yah!"
__ADS_1
Alan pun meninggalkan Datuk, dia tidak ingin mengikut campurkan orangtua ke dalam masalah rumah tangganya. Sebisa mungkin, Alan akan menyelesaikannya sendiri.