
"Bu," sapa Keysha yang baru tiba.
"Eh, kamu dari mana Nak? Sini, makan roti bareng ibu. Kamu sejak tadi belum makan, ini teman kamu yang bawa," ucap Ibu.
Keysha tahu siapa orang yang di maksud oleh ibu, tapi dia tidak melihat Radit ada di sekitar tempat itu.
Kemudian Keysha pun bertanya, "Apakah Radit yang memberi ibu roti ini?"
"Benar Nak, Nak Radit calon suamimu," ucap ibu yang membuat Keysha terkejut. Karena seingat Keysha, dia belum pernah menceritakan kepada ibu atau siapapun selain Alan tentang hubungannya dengan Radit.
"Darimana ibu tahu jika Radit calon suami Key?" tanya Keysha.
"Nak Radit yang mengatakan, bahkan dia sudah mengajukan lamaran kepada ibu dan saat ini, dia sedang berbicara dengan Ayah," jawab Ibu.
Kemudian, ibu berkata lagi, "Nak Radit besok akan menikahimu di hadapan ayah sebelum operasi dilakukan."
"Apa Bu!" berita ini yang paling membuat Keysha terkejut.
"Iya, kenapa kamu tidak cerita ke ibu? Berita baik kamu sembunyikan dari kami. Untung Nak Radit orangnya baik dan supel, dia tanpa malu dan tanpa ragu langsung mengatakan niatnya datang menyusul kamu kesini."
Tenggorokan Keysha terasa tercekat, hingga dia tidak bisa berkata apapun. Keysha sendiri baru tahu, jika besok hari pernikahannya.
"Kenapa kamu diam Nak! Kamu beruntung punya calon suami yang sangat baik, ramah dan juga kaya. Oh ya, biaya operasi ayah sudah nak Radit lunasi, ini bukti pembayarannya," ucap ibu sembari menyerahkan selembar kuitansi ke tangan Keysha.
Keysha hanya berdiri mematung, dia masih tidak percaya jika Radit begitu nekat ingin menikahinya secepat ini dan yang pasti Keysha tahu, izin menikah belum Radit dapatkan dari kedua orangtuanya.
"Key, kamu kenapa? Kamu tidak mencintai Nak Radit ya? Apa ibu harus menolak lamaran Nak Radit?" tanya ibu.
Keysha tidak menjawab pertanyaan dari ibu, dia duduk sambil menggenggam kuitansi yang ada di tangannya.
"Kalau memang kamu menolak, biar ibu masuk ke ruangan Ayah. Ayah terlanjur senang Key, saat ibu tadi memberitahukan kabar ini, makanya ayah meminta Nak Radit masuk. Ayah ingin mendengar langsung kesungguhan Nak Radit untuk menikahimu."
Melihat Keysha tidak menjawab, ibu jadi merasa bersalah, kenapa tadi terburu-buru memberitahu ayah dan tidak menunggu Keysha datang untuk menanyakan pendapatnya dulu.
__ADS_1
Ibu berbicara dengan suster dan minta izin untuk masuk menemui ayah. Begitu ibu memegang pegangan pintu dan hendak masuk, Keysha berdiri dan langsung memegang lengan ibunya, lalu dia berkata, "Jangan Bu, biarkan ayah berbicara dengan Radit. Jika Ayah dan Ibu setuju, Key juga setuju."
Ibu mengucap syukur, karena beliau juga tidak tega mengecewakan ayah yang tadi terlihat sangat bahagia saat mendengar cerita ibu tentang lamaran Radit.
Ibu memeluk Keysha sembari berkata, "Kamu ikhlas Nak! Ibu nggak mau jika kamu menikah karena terpaksa, apalagi demi biaya operasi ayah. Ayah pasti tidak akan setuju jika kamu menikah hanya demi menyelamatkan nyawanya dan kamu sendiri tidak bahagia."
"Key ikhlas Bu, memang rencana pernikahan ini sudah pernah Radit dan Key bicarakan. Key hanya terkejut saja, karena tidak menyangka jika Radit datang melamar Key secepat ini," jawab Keysa.
"Terimakasih Nak, kalian telah memberikan kabar gembira di saat ayah hampir kehilangan harapan. Mudah-mudahan rumah tangga kalian nanti selalu diberi keberkahan dan kebahagiaan."
"Aamiin, ayo Bu kita duduk lagi, perut Key lapar, sepertinya roti yang Radit bawa rasanya enak."
"Iya Nak, memang enak. Ibu saja sudah habis dua potong. Ini, makanlah, kamu harus makan, jangan sampai besok, pengantinnya malah sakit."
Keysha mengucap bismillah sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan dia memantapkan hati untuk pernikahannya besok.
Sekarang dan kedepannya cinta Key hanya untuk Radit, dia harus bisa menutup perasaannya rapat-rapat dan yang pasti harus berusaha keras untuk melupakan Alan, agar perasaannya itu tidak akan menjadi duri dalam pernikahannya nanti.
Radit memberitahu ayah jika dia dan Key sudah berteman sejak sekolah dan terakhir mereka satu kampus walau beda jurusan.
Kemudian Radit juga menjelaskan jika telah mencintai Key sejak lama, hanya saja Key baru memberinya jawaban beberapa hari lalu.
Ayah merestui niat Radit dan ayah menekankan bahwa beliau tidak menjual Keysha hanya demi mendapatkan biaya operasi untuknya. Beliau memilih mati daripada mengabaikan kebahagiaan putrinya.
Radit menjawab ucapan ayah dengan tenang, "Pak, Saya tidak membeli putri Bapak, Saya tulus mencintai Keysha dan Saya ingin menjadikannya pendamping hidup serta ibu dari anak-anak kami nantinya."
Kemudian Radit berkata lagi, "Orangtua Key juga orangtua Saya, jadi Saya juga memiliki kewajiban yang sama terhadap Bapak dan ibu seperti halnya Keysha."
Ayah tersenyum mendengar jawaban Radit, kemudian beliau memegang tangan Radit dan berkata, "Ayah titip Key kepadamu, tolong bahagiakan anak ayah. Seandainya lusa hanya jasad ayah yang keluar dari ruang operasi, ayah mohon jadilah pelindung untuk Key dan ketiga adiknya."
"Insyaallah Ayah, Radit akan mengambil alih tanggungjawab ayah, jika sampai hal itu terjadi. Tapi, Radit juga mempunyai satu permohonan, Ayah harus semangat. Ibu, Key dan adik-adik, mereka semua masih membutuhkan Ayah."
"Terimakasih Nak, ayah percaya sama kamu. Insyaallah Ayah akan semangat," ucap Ayah sambil menepuk-nepuk punggung tangan Radit.
__ADS_1
"Sama-sama Yah, Radit keluar dulu ya Yah."
Ayah pun mengangguk, kemudian beliau berkata, "Tolong panggilkan Key ya Nak, ayah ingin bicara dengan dia," pinta Ayah.
"Iya Ayah," jawab Radit.
Kemudian Radit pun pamit sembari mengucap salam. Keysha yang melihat Radit keluar dari ruang ICU, segera menghampirinya, "Bagaimana keadaan Ayah ku Dit?"
"Ayah tampak lemah. Ayah ingin bicara denganmu Key, masuklah! Beliau sudah menunggumu," pinta Radit.
Keysha pun mengangguk, lalu dia masuk untuk menemui Sang Ayah.
Ayah yang melihat kehadiran Keysha pun tersenyum, lalu beliau bertanya, "Apa kabarmu Nak, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Key baik-baik saja Yah dan Key sedang libur mengajar. Untuk pengumuman penerimaan dosen, mungkin sekitar 3 mingguan lagi. Doakan Key ya Yah, agar di terima menjadi dosen di sana."
"Ayah selalu mendoakan mu Nak, dan mendoakan adik-adik mu, agar kalian berhasil meraih cita-cita serta hidup bahagia di dunia dan akhirat."
Keysha pun memeluk sang ayah, kemudian dia berkata, "Ayah harus semangat, biar cepat sembuh. Key sayang Ayah," ucap Keysha sembari menitikkan air mata.
"Ayah juga Sayang kalian semua. Oh ya Nak, besok kamu akan menjadi seorang istri, berbaktilah terhadap suamimu dan sayangilah orangtuanya sebagaimana kamu menyayangi Ayah dan ibu."
"Kami tidak bisa memberikan apapun untuk pernikahan kalian, hanya restu dan doa yang bisa Ayah dan ibumu berikan. Semoga rumahtangga kalian selalu dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan, hingga maut yang akan memisahkan."
"Tapi ingat Nak, Cobaan dalam setiap rumah tangga itu pasti ada. Jadi, kalian harus perbanyak sabar, karena obat dari segala kesusahan adalah kesabaran."
"Terimakasih Yah, Insyaallah Key akan ingat semua pesan Ayah. Ayah sekarang harus istirahat, biar besok bisa menjadi wali pernikahan kami dan agar lusa operasi Ayah bisa berjalan dengan lancar."
Sebelum meninggalkan ruangan, Key menyelimuti Sang Ayah, lalu dia mencium tangan tua Ayahnya sembari berkata, "Sekarang, Ayah harus tidur, Key keluar dulu ya Yah," pamit Keysha.
Keysha pun keluar dari ruang ICU, saat ini yang bisa mereka lakukan hanya memperbanyak doa agar Allah mengangkat semua penyakit dan memberi kesembuhan kepada Sang Ayah.
Bersambung.....
__ADS_1