
Radit bertekad pergi menyusul Keysha, dia mengendarai mobilnya menuju kampung Babakan Bandung.
Selain menjenguk ayah Keysha, Radit juga bermaksud ingin mengajukan lamaran, meminta izin menikahi Keysha meski papa dan mamanya tidak setuju.
Walaupun hal itu menyalahi janjinya terhadap Keysha, tapi Radit akan mencoba, memohon agar Keysha mau memahami posisinya saat ini.
Radit hanya berharap niat baiknya itu, akan memberi semangat hidup bagi Ayah Key, yang menurut dokter, harapan hidupnya sangatlah kecil.
Dan setidaknya, jika Radit sudah menjadi bagian dari keluarga itu, dia bisa membantu menopang kebutuhan hidup mereka.
Jika cuma Keysha yang menanggung beban hidup keluarganya, tentu sangat berat, apalagi saat ini Key hanya seorang guru honorer di sekolah menengah atas.
Sementara lamarannya untuk menjadi seorang dosen, baru bisa dipastikan diterima atau tidaknya saat tahun ajaran baru nanti dimulai, sekitar sebulan lagi.
Dalam perjalanannya, Radit baru teringat dengan Alan, yang besok akan tiba di Indonesia.
Dia harus segera mengabarkan bahwa mereka tidak mungkin bisa berkumpul di tempat biasa, karena keluarga Keysha sedang terkena musibah.
Jika pun Alan tetap berangkat, dia harus menyusul Radit dan Keysha ke kampung halaman Key.
Saat Radit menelepon, ponsel Alan sedang tidak aktif. Jadi, Radit hanya meninggalkan pesan agar Alan segera menghubunginya.
Sebelum masuk ke perkampungan, Radit terlebih dulu membeli satu set perhiasan terbaik dan membeli seperangkat pakaian untuk Keysha karena bisa di pastikan Keysha pulang hanya membawa pakaian sederhana saja.
Masalah nanti lamarannya diterima atau ditolak, bagi Radit itu urusan belakang, setidaknya dia sudah mencoba.
Sementara Keysha sudah tiba di kampung halamannya dan dia masih harus naik ojek, untuk masuk ke dalam perkampungan di mana keluarganya tinggal.
Saat ini keysha ingin menemui Bapak kepala desa, untuk berkonsultasi, apakah perawatan ayahnya bisa mendapatkan keringanan dengan membuat surat keterangan tidak mampu dari kantor desa.
Keysha bingung harus bagaimana, karena saat ini dirinya hanya memiliki sedikit uang, sementara biaya pengobatan sang ayah sangatlah besar.
Sebagai anak tertua, Keysha lah yang bisa ibunya harapkan minimal menanggung biaya makan untuk adik-adiknya selama ibu dan ayahnya berada di rumah sakit.
__ADS_1
Sementara sang ibu meminta Keysa agar menggadaikan atau menjual saja rumah mereka, karena itu jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang yang banyak untuk biaya pengobatan dan kebutuhan lainnya.
Keysha tentunya keberatan, dia tidak bisa bayangkan, dimana lagi keluarganya akan tinggal jika rumah mereka sampai di jual.
Namun, Keysha juga bingung bagaimana caranya dia bisa mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat.
Ingin bercerita ke Radit tapi Keysha takut, takut menyusahkan Radit di dalam keluarganya.
Karena jumlahnya besar, Keysha menduga, Radit pasti akan mempergunakan uang perusahaan Papanya yang kapan saja bisa diketahui mereka dan efeknya orangtua Radit bisa melakukan hal buruk terhadap Keysha dan keluarganya.
Padahal Radit memiliki penghasilan sendiri dari perusahaan pribadinya yang tidak diketahui Keysha, dan selama ini hasilnya dia tabung serta Radit pergunakan untuk membantu keysha secara diam-diam.
Keysha membolak-balik ponselnya, ingin menelepon dan meminta tolong kepada Alan, tapi akhirnya dia urungkan karena malu.
Selama ini Key juga sering meminjam uang untuk dikirim ke kampung, tapi Alan tidak pernah mau jika uangnya Keysha kembalikan. Hal itu tentunya di luar sepengatahuan Radit, karena Keysha sudah tidak enak menyusahkan Radit terus.
Saat key diperjalanan menuju kantor desa, seseorang memanggilnya dari kejauhan.
Keysha menoleh, dia melihat Rima, anak gadis tetangga sebelah rumah berlari mengejarnya. Keysha pun berhenti dan Rima dengan nafas ngos-ngosan berkata, "Mbak sekarang juga harus ke rumah sakit! Ayah Mbak, Ayah kondisinya bertambah parah. Kata ibu, aku harus mencari Mbak, karena Mbak harus menemui Dokter.
"Apa Dek! ayah sadar 'kan?" tanya Keysha panik.
"Sadar Mbak. Tapi aku kasihan melihat ayah, beliau mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya dan kesulitan bernafas."
Keysha menangis, dia bingung harus berbuat apa, tapi dia harus kuat karena tanggungjawab keluarganya saat ini ada di pundaknya.
"Ayo Dek kita balik ke rumah sakit, tapi kita cari ojek atau becak dulu ya."
"Itu Kak ada betor!" tunjuk Rima ke becak bermotor yang sedang melintas.
Untung saja becak tersebut kosong penumpang, jadi mereka bisa langsung naik dan meminta untuk diantar ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Rima langsung mengajak Keysha ke ruang rawat ayah, tapi ayah sudah tidak ada di sana.
__ADS_1
Rima lalu bertanya kepada salah satu keluarga pasien yang satu ruangan dengan ayah dan mereka mengatakan jika ayah dibawa ke ruang ICU karena keadaan bertambah parah.
Keysha sangat cemas, lalu diapun menarik tangan Rima agar segera mengantarnya ke ruang ICU.
Benar saja, diluar ruangan, Keysha melihat ibunya sedang menangis, menunggu kabar dari Dokter.
Adik lelaki Keysha yang baru lulus SMA menemani ibunya di sana, sedangkan dua orang lagi masih belum pulang dari sekolah.
Melihat Keysha datang, sang ibu langsung memeluknya dan Keysha pun tidak bisa lagi menahan isak tangis.
Rima yang melihat hal itupun ikut menangis, dialah selama ini yang sering membantu dan menemani ibu saat Keysha tinggal di kota.
Keysha melepaskan pelukannya ketika mendengar Dokter memanggil keluarga pasien atas nama ayahnya.
Sambil menghapus air mata, Keysha mendekat dan dokter meminta keysha untuk masuk ke ruangannya karena ada hal yang akan dokter sampaikan tentang kondisi sang ayah.
Sesampainya di ruangan, dokter mempersilakan Keysha duduk, lalu beliau menjelaskan secara detail kondisi ayah yang harus segera di operasi.
Dan dokter memberitahu jumlah biaya yang harus Keysha siapkan untuk operasi tersebut.
Selambat-lambatnya operasi harus segera dilaksanakan lusa. Jika terlambat, dokter angkat tangan, beliau tidak bisa menjamin kondisi ayah bakal membaik.
"Air mata yang tadinya sudah kering, kini membasahi wajah Keysha lagi, dengan suara gemetar Keysha berkata, "Saya akan usahakan Dok, mudah-mudahan saya bisa mendapatkan dana secepatnya."
Kemudian Keysha pamit, dia berjalan gontai keluar dari ruangan dokter.
Keysha tidak langsung menemui ibunya, dia duduk di bangku tunggu tempat para pengunjung biasa menunggu antrian berobat.
Keysha mau tidak mau, harus mengesampingkan rasa malunya, dia lalu mencari nomor kontak Alan. Keysha akan meminta tolong, meminjam uang dari Alan.
Panggilan Keysha tepat saat Alan mengaktifkan ponselnya. Alan sedang mengecek panggilan dan juga pesan masuk. Saat Alan hendak menghubungi Radit, panggilan dari Keysha pun masuk.
Alan segera menerima panggilan tersebut tapi kali ini Key tidak berani menggunakan panggilan video, melainkan menggunakan panggilan biasa. Keysha malu, dia tidak mau Alan sampai melihat matanya yang sembab karena kebanyakan menangis.
__ADS_1