
Pesawat tujuan Malaysia sudah terbang, Keysha senang akhirnya sang Mama mengizinkan mereka pergi.
Alan sudah meminta sopir keluarganya untuk menjemput Radit dan Keysha. Dia memperkirakan satu jam lagi kedua sahabatnya itu akan sampai. Lebih baik menunggu, daripada Radit dan Keysha tiba duluan di sana.
Pak sopir yang menjemput sudah tiba di bandara. Dia menunggu di ruang kedatangan. Dan tidak menunggu lama, pesawat yang ditumpangi Radit dan Keysha pun mendarat.
Pak sopir membawa tanda pengenal, berupa tulisan nama Damar dan juga Nayla. Hingga keduanya dengan cepat bisa mengenali si penjemput.
"Selamat datang Aden dan Nyonya! mari, biar Saya yang membawa kopernya," ucap Pak sopir.
"Terimakasih Pak," ucap Keysha.
"Sama-sama Nya."
"Oh ya Pak, apakah rumah orangtua Alan jauh dari sini?"
"Lumayan jauh Den," jawab Pak sopir.
Alan menelepon Radit, dan dia bersyukur kedua sahabatnya telah tiba dan dalam perjalanan ke rumahnya.
Sekitar satu jam, barulah mereka sampai. Dengan ramah, orangtua Alan ikut menyambut kedatangan mereka.
"Akhirnya sampai juga kalian di sini," ucap Alan sambil memeluk Radit.
"Iya dong, mana mungkin kami tidak hadir."
"Apa kabar Key, sepertinya kamu rada kurus."
"Iya Lan, diet!" jawab Keysha. Padahal dia terbeban pikiran karena sikap orangtua Radit.
"Boleh, asal tetap jaga keseimbangan."
"Pasti!"
"Kamu tahu sendiri kan Lan, jika Key punya kemauan aku tidak bisa melarang."
"Nggak apa-apa Dit, dia hanya ingin tetap terlihat cantik di hadapan mu."
"Iya sih."
__ADS_1
"Ayo silahkan masuk, Lan ajak mereka ke kamar yang ada di paviliun, biar bisa beristirahat. Lagi pula di sana dekat taman, jadi udara akan lebih segar saat mereka membuka jendela."
"Iya Yah."
"Ayo kita ke sana."
Radit dan Keysha mengikuti Alan dan benar yang dikatakan oleh Ayah Alan, di sana ada sebuah taman kecil yang indah dan menghadap ke jendela paviliun.
"Jadi, akad nikah dilaksanakan jam berapa besok Lan?"
"Jam 10.00 Dit, kita akan berangkat dari sini pukul 08.00. Sekarang kalian istirahat dulu, nanti saat jam makan aku panggil kalian. Aku akan ke kamar dulu ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Kamu jangan mikirin pekerjaan saja Lan, apalagi nanti setelah menikah. Tetap luangkan waktu untuk istri, karena wanita lebih butuh diperhatikan," ucap Keysha.
"Jika dia nanti yang tidak memperhatikan aku bagaimana Key?"
Keysha terdiam, malah Radit yang menimpali, "Cari lagi! Masih banyak wanita yang pasti mau memberikan perhatian dan cintanya untuk kamu Lan. Kamu saja yang tidak menyadari hal itu atau memang kamu yang tidak mau."
Alan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu diapun pamit meninggalkan Radit dan Keysha agar bisa beristirahat.
"Seandainya bukan kamu yang mencintai Keysha Dit, mungkin saat ini akulah orang yang paling bahagia. Aku akan selalu meluangkan waktu untuknya," monolog Alan sembari menuju kamarnya.
Sekilas ayah mendengar hal itu dan beliau menghela nafas berat. Beliau baru tahu, jika Alan mencintai Key, istri temannya itu.
Di dalam kamar, Alan merebahkan diri. Dia membayangkan bagaimana rumah tangganya nanti. Menikah tanpa adanya cinta, apakah akan berhasil atau malah hancur.
Alan memijat kepalanya yang sakit, lalu diapun tertidur. Alan baru terbangun saat sang Mama memanggilnya untuk makan. Dan sang mama meminta Alan untuk memanggil kedua sahabatnya.
Di dalam kamar Key dan Radit masih berbincang, "Apa hadiah kita untuk pernikahan Alan Mas?"
"Hemm, apa kita belikan saja tiket bulan madu ya. Tapi Devia katanya hanya dua hari di sini? Apa bisa melakukan perjalanan bulan madu?"
"Begini saja, tiket ke Australia dan penginapan di sana, jadi Alan bisa bulan madu sambil mendampingi Devia bekerja."
"Bagus juga ide kamu Sayang. Berbicara bulan madu, kita kapan ya? Kita 'kan belum melakukan perjalanan bulan madu?"
"Kita sudah setiap malam bulan madu Mas, meski tidak melakukan perjalanan," ucap Key, hingga membuat Radit gemas dan mencium sang istri.
"Bagaimana jika kita cari waktu dan pergi bulan madu ke Australia juga Key, pasti seru bisa sama-sama dengan Alan dan Devia."
__ADS_1
"Ih, maunya Mas, bagaimana dengan Mama? Pergi sebentar saja sudah keberatan apalagi pergi bulan madu!" ucap Keysha sambil menutup mulutnya.
"Maaf ya Mas, bukan aku menjelekkan Mama."
"Tidak apa-apa Key, memang benar yang kamu katakan."
"Ya sudah, kapan-kapan kita atur waktunya Mas, meski bulan madu di tempat yang dekat saja," ucap Key yang ingin menyemangati Radit.
"Serius Yang, yes...kita berangkat bulan madu," ucap Radit sambil memeluk Keysha.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu. Keysha langsung menutup mulutnya. Dia yakin, orang yang ada di luar pasti mendengar percakapan mereka tadi.
Radit membuka pintu dan ternyata Alan yang ada di luar, Keysha memerah wajahnya, dia malu terhadap Alan.
Alan tersenyum lalu berkata, "Aku mengganggu ya, ibu meminta kalian untuk makan bareng."
"Tidak kok Lan, kami hanya sedang bercanda. Sebenarnya ingin ikut bareng kamu sama-sama berbulan madu, tapi Mama susah, tidak bisa kami tinggal terlalu lama."
"Oh, dengan senang hati, ayo kita atur waktunya. Biar seru, kita sama-sama bulan madu," basa-basi Alan.
Sebenarnya, Alan tidak akan sanggup apabila menyaksikan kemesraan Radit dan Keysha.
Tadi saja, hatinya sempat sakit, Alan cemburu saat mendengar keduanya bercanda diiringi tawa, yang terdengar begitu mesra di telinga Alan.
"Okelah Lan, nanti kami rembukkan dulu dengan Mama, mudah-mudahan saja Mama mau mengerti dan memberi izin kami untuk pergi berbulan madu bersama kalian."
Alan pun mengangguk, lalu dia kembali mengajak Radit dan Key, karena ibu dan ayah sudah menunggu mereka di ruang makan.
Ketiganya bergegas dan benar saja, ayah dan ibu sedang menanti mereka.
"Ayo Nak Alan, Nak Key...kita makan sama-sama. Ibu masak kesukaan kalian. Tadi Alan request memasak, katanya kalian suka dendeng dan cah kangkung," ucap Ayah sambil menerima piring berisi nasi yang diberikan oleh ibu.
"Alan bisa saja, kami jadi merepotkan ibu," ucap Keysha sungkan.
"Enggak kok Nak, ibu senang kalian bisa datang. Kapan-kapan main ke sini lagi ya, agar kita bisa keliling Malaysia. Saat ini waktunya tidak tepat dan kalian juga cuma dua hari di sini. Seminggu lagi baru pulang ya, biar kita bisa atur waktu untuk jalan-jalan," ucap ibu Alan.
"Maaf Bu, kami nggak bisa. Setelah pulang dari sini, kami langsung ke kampung Key untuk menjemput ibu serta adik-adik. Mereka akan pindah, biar bisa dekat dengan kami. Dan kami bisa ikut memperhatikan pendidikan adik-adik," jawab Keysha.
"Oh, baguslah kalau begitu. Maaf ya, ayah dan ibu tidak bisa ikut kesana saat ayah kamu sakit dan meninggal Nak!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa Bu. Alan sempat datang dan menjenguk ayah sebelum beliau meninggal, itu saja sudah membuat kami sangat bersyukur."
Bersambung.....