ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 56. JEBAKAN


__ADS_3

Radit risih Meli selalu nempel kemanapun dia pergi. Meski Meli punya kepentingan dalam proyek kali ini tapi Radit merasa wanita itu ganjen, penggoda.


Namun Radit tidak bisa menghindar karena sang papa malah mendukung semua yang Meli lakukan.


Meli memang gadis yang cantik tapi bukan tipe selera Radit.


"Mas Radit, ayo dong kita keluar lihat suasana pasar malam, bosan di rumah terus. Lagipula, sebentar lagi mas Radit akan pulang 'kan?"


"Aku sedang malas Mel, aku ngantuk," ucap Radit sambil menguap.


Radit merasa aneh malam ini, dia sangat ngantuk berat, hingga sulit untuk membuka mata. Kepalanya juga pusing dan dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Radit merasa rindu dengan belaian Keysha.


Meli tersenyum melihat Radit seperti itu, dia melihat ke arah kamar yang terbuka, papa Radit memberi kode dari sana.


Meli membalas kode tersebut, lalu memapah Radit. "Aku bantu kamu ke kamar ya Dit, kelihatannya kamu sangat lelah."


Radit hanya bisa menurut dan berjalan menuju kamar di mana papanya ada di sana.


Setelah Meli membaringkan Radit, papa Radit pun mengangguk, memberi tanda oke sambil pergi keluar kamar.


Malam ini Meli harus berhasil dengan rencananya, selain mendapatkan hadiah uang besar dia memang menyukai Radit dan ingin menikah dengannya.


Meli memulai aksinya, dia melepaskan sepatu dan pakaian Radit satu persatu.


Setelah itu, diapun membuka pakaiannya sendiri, hingga keduanya tidak mengenakan sehelai benangpun.


Radit yang hilang kesadarannya karena obat, menurut saja dengan apa yang Meli lakukan.


Meli berbaring di samping Radit dan menjelajahi seluruh tubuh Radit. Hingga tak ayal lagi, Radit yang rindu belaian sang istri pun membalas perlakuan Meli.


Malam itu terjadilah hal yang terlarang, Radit merenggut keperawanan Meli.


Meli tersenyum puas, rencananya bersama Papa Radit berhasil. Ini akan mempermudah jalannya memiliki Radit.


Pagi harinya, Radit terbangun dan dia merasa tubuhnya sakit semua. Ketika dia membuka selimut dan hendak turun dari ranjang, Radit sangat terkejut melihat dirinya tidak memakai apapun dan dia melihat Meli ada di dalam selimut juga tidak mengenakan apapun.


"Meli bangun, apa yang kau lakukan disini!" ucap Radit sambil buru-buru mengenakan celananya.


Meli mengerjapkan mata, lalu dia menjerit, pura-pura kaget saat melihat tubuhnya tidak mengenakan apapun.


Jerit tangis pun terdengar hingga membuat Radit panik, lalu dia membekap mulut Meli agar tidak ada yang mendengar.

__ADS_1


"Diam, diam Mel! Sekarang jelaskan apa yang terjadi. Kenapa kau ada di sini! Ini tidak mungkin Mel, aku tidak mungkin melakukan hal tidak senonoh terhadap mu! Aku mencintai istriku dan tidak mungkin berkhianat!" ucap Radit.


"Tapi, buktinya apa Mas! Mas telah mengambil kesucian ku. Lihat ini!" tunjuk Meli pada seprai yang ada noda darahnya."


"Ini tidak mungkin, kamu menjebakku kan Mel! brengsek!"


"Enak saja Mas Radit ngomong begitu, Mas yang mulai dan memaksaku untuk masuk ke sini. Coba Mas ingat-ingat!" ucap Meli sambil terus menangis.


Radit mencoba mengingat tapi kepalanya makin sakit, dia tidak bisa mengingat apapun.


Dengan kasar Radit menjambak rambutnya sendiri, lalu berkata, "Ini tidak mungkin, aku tidak mungkin mengkhianati Keysa!"


Tangis Meli makin kencang dan dia berkata, "Pokoknya Mas harus tanggungjawab, nggak bakal ada pria yang mau denganku. Aku sudah tidak perawan."


"Diam! tolong diam Mel, aku tidak mungkin menikahimu, aku punya istri Mel dan aku mencintai dia."


"Mas jahat!" teriak Meli sambil berteriak. Dia membalur tubuhnya dengan selimut lalu hendak keluar.


Radit mengejar Meli tapi terlambat, dari balik pintu yang sudah terbuka sedikit muncul sang Papa, "Radit! Apa yang kalian lakukan! Kamu tidur dengan Meli!" seru Papa lalu melayangkan tamparan ke pipi Radit.


Radit terhuyung, lalu meraba pipinya sambil menahan sakit.


"Lepaskan Radit, lepaskan! Papa malu, kau telah mencoreng muka Papa di hadapan orangtua Meli!"


"Tapi Pa, ini cuma salah paham! Radit akan jelaskan."


"Mas Radit jahat Om, dia tidak mau bertanggungjawab padahal dia telah merenggut semuanya. Kalau Om nggak percaya, boleh lihat seprai itu!" tunjuk Meli.


Papa Radit pura-pura berjalan ke arah tempat tidur dan Radit pun mengikuti sang Papa.


"Radit tidak sadar Pa, Radit nggak ingat kenapa kami bisa tidur bersama. Kepala Radit sakit, dan tadi malam sangat mengantuk, eh...jadi seperti ini."


"Papa nggak mau tahu, kamu harus bertanggungjawab. Kamu harus menikahi Meli. Nanti Papa yang akan bilang kepada Papanya."


"Ini nggak mungkin Pa, bagaimana dengan Keysha. Radit mencintai Key dan tidak mungkin menceraikan dia."


"Jadi kamu mau lari dari perbuatanmu, kamu bisa dituntut Dit, jika Meli dan Papanya tidak terima."


Meli kembali bersandiwara, dia menangis, papa Radit pun berkata, "Pokonya papa nggak mau tahu, jika kau tidak bertanggungjawab, papa sendiri yang akan mengatakan hal ini kepada Keysha."


"Tolong Pa, tolong beri aku waktu. Aku akan pikirkan dulu."

__ADS_1


"Baiklah. Besok, papa nggak mau tahu, kamu sudah harus memberi Meli keputusan!"


"Mel, berpakaianlah! Sebaiknya kamu pulang dulu. Masalah Radit dan pekerjaan biar Om saja yang tangani. Biar sopir yang antar kamu. Pokoknya kamu jangan takut, Radit pasti akan bertanggung jawab."


Setelah mengatakan hal itu, Papa Radit keluar dan Meli pun buru-buru mengenakan pakaiannya.


Sementara Radit, hanya terduduk lemas di atas tempat tidur. Dia tidak habis pikir, kenapa semua itu bisa terjadi.


Meli keluar dari kamar dan Papa Radit mengacungkan jempol, dia senang karena rencana mereka berhasil.


Kemudian Papa Radit memerintahkan seorang sopir untuk mengantar Meli pulang.


Radit membersihkan dirinya, dia merasa kotor dan sangat bersalah kepada Keysha karena telah mengotori rumah tangga mereka.


Selesai mandi, Radit kembali termenung, dia masih tidak habis pikir kenapa dirinya tidak ingat sama sekali.


Saat Radit masih bengong, terdengar ponselnya berdering, ternyata dari Keysha. Radit ragu untuk menerima panggilan, tapi dia tidak mau Key khawatir dan dirinya juga rindu Keysha.


Dengan gugup, Radit mengucap salam dan Key merasa heran. Setelah menjawab salam, Keysha pun bertanya, "Mas Radit sakit?"


"Ti-tidak Key, hanya lelah."


"Hari ini nggak ke proyek Mas?"


"Rencana sebentar lagi, inisedang bersiap."


"Kalau lelah istirahat saja Mas, bilang ke Papa, pasti Papa mengerti. Toh kalau Mas Sakit, Papa juga yang akan susah di sana."


"Iya. Mas rindu Key!"


"Key juga rindu mas. Apa nggak bisa dimajukan pulangnya Mas, biar Mas bisa istirahat di rumah."


"Nanti coba Mas bicarakan dengan Papa. Sekarang, Mas mau ke proyek dulu ya! Kamu nggak ke kampus?"


"Hari ini libur Mas, besok baru ada kelas."


"Oh, ya sudah Mas berangkat dulu ya. I love you."


"Aku juga mencintai Mas."


Radit memberikan ciuman jarak jauh, rasa bersalah membuat Radit tidak berani berlama-lama berbicara dengan Keysha. Padahal, biasanya Radit sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa berlama-lama ngobrol untuk melepas rindu.

__ADS_1


__ADS_2