ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 64. MENCARI KEYSHA


__ADS_3

"Sekarang Keysha ada di mana Dit? Aku takut dia kenapa-kenapa, soalnya saat ini hatinya sedang rapuh. Dia pasti shok dengan talak yang kau jatuhkan secara tiba-tiba."


"Padahal, selama ini kalian tidak pernah bertengkar bukan?"


"Mungkin dia pulang Lan. Aku pun tidak tahu dia saat ini ada dimana."


"Jadi, kamu biarkan dia pulang sendirian, sementara kamu antar wanita sialan itu!" seru Alan menaikkan nada omongannya.


Radit diam, dia memang salah. Tadi, tidak jadi mengejar Keysha dan malah membiarkan Meli menarik tangannya.


Alan kembali kesal, saat ingat Radit membiarkan Keysha pergi begitu saja, "Arkh... bagaimana kau Dit! Tega benar kamu! Ayo kita cari dia, mudah-mudahan saja Keysha memang pulang ke rumah."


Alan menarik tangan Radit, dia sangat khawatir, hingga marah dengan sahabatnya itu. Dan dia tidak peduli jika Radit meninggalkan mobil milik mamanya di cafe tersebut.


Saat ini Alan yang menyetir, berulang kali dia memukul stiur mobil dan karena tidak tahan, Alanpun meluapkan emosinya.


"Dengar Dit! Jika sampai terjadi apa-apa dengan Keysha, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku tidak menyangka, Radit sahabatku, bisa tidak bertanggung jawab seperti ini."


"Harusnya kamu bicarakan dulu masalah itu dengan Keysha di rumah, jangan main jatuhkan talak begitu saja! Atau kamu kembalikan Keysha kepada ibu secara baik-baik. Dia wanita berpendidikan Dit, setidaknya walaupun hati Key sakit, dia mungkin bisa paham dengan posisimu saat ini."


"Bukan dengan menjatuhkan talak di hadapan wanita yang menjadi penyebab kehancuran rumah tangganya!"


Saking marah dan kesal atas perbuatan Radit, tanpa sadar akhirnya Alan meluapkan semia perasaannya.


Untung saja, Alan tidak mengungkapkan rasa penyesalannya karena dulu telah mengalah demi Radit. Mengorbankan perasaan cintanya demi persahabatan.


Radit benar-benar menyesal, dia terlalu bodoh tidak memikirkan semuanya seperti yang baru saja Alan jabarkan.


"Maafkan aku Lan! Aku stres, mereka semua mendesakku! hingga aku tidak bisa berpikir secara jernih."


Alan menggelengkan kepala, lalu kembali memukul stiur mobil.


"Lan, coba kamu telepon Keysha. Jika aku yang telepon, nggak mungkin Key mau mengangkatnya."


Alan pun menuruti permintaan Radit, dia mencoba menghubungi Keysha.Tapi sayang, ponsel Keysha tidak aktif.


"Kamu lihat Dit, ponselnya tidak aktif!"


"Tambah kecepatan Lan! Kita harus secepatnya tiba di rumah!"


Alan menambah kecepatan mobil, diapun cemas karena Keysha tidak juga bisa di hubungi.


Mereka pun tiba di rumah, Radit buru-buru turun, dia menarik handle pintu dan ternyata tidak terkunci.


"Key...Key!" panggil Radit sambil berlari ke dalam kamar.

__ADS_1


Radit melihat ke sekeliling, tapi dia tidak menemukan Key ada di manapun. Sampai kamar mandi pun Radit geledah dan hasilnya juga sama.


Alan pun menyusul dan membantu Radit, mencari Keysha di ruangan lain, tapi hasilnya pun nihil.


Radit mendesah dan terduduk lemas di atas sofa, tapi kemudian dia teringat sesuatu. Radit pun berlari, kembali ke kamar, lalu membuka lemari pakaian Keysha.


"Dia sudah pergi Lan!" ucap Radit sambil menangis.


"Ayo kita ke rumah ibu!" ajak Alan.


"Ibu pasti murka terhadap ku Lan!"


"Pasti!"


Alan dan Radit pun kembali naik ke dalam mobil, mereka akan mencari Keysha di rumah ibunya.


Sesampainya di rumah ibu, Radit melihat sang mertua sedang membersihkan halaman, mencabut rumput-rumput liar.


"Eh, Nak Radit. Nak Alan apa kabar? Kapan datang Nak? Sedang liburan ya Nak?"


"Sudah dua hari dan sekarang Alan menetap di Jakarta Bu. Maaf Bu, belum sempat mengunjungi ibu," ucap Alan sambil menyalam tangan Ibu Keysha.


"Key kenapa tidak ikut Nak? Apa dia sedang sibuk di kampus?"


Radit dan Alan saling pandang, berarti Keysha tidak pulang ke rumah ibu.


"Ayo masuk Nak, biar ibu buatkan minum. Adik-adik juga belum pulang karena mereka ada kegiatan ekstrakulikuler hingga pulang sore."


"Nggak usah repot-repot Bu! Alan hanya mampir, kami mau ke kampus Key. Besok Alan kembali ke Jakarta Bu, jadi singgah ke sini dulu."


"Terburu-buru sekali Nak, tinggallah beberapa hari lagi."


"Lain waktu Alan kesini lagi Bu."


"Bu, kami pamit dulu ya, mau jemput Key," ucap Radit.


"Iya Nak, kalian hati-hati ya. Salam buat Key ya Nak!"


"Iya Bu."


Keduanya pun bergegas, hanya tinggal kampus harapan mereka untuk menemukan Keysha.


Alan melajukan mobil dengan kencang, pikirannya tidak tenang sebelum menemukan Keysha.


Sesampainya di kampus, Radit dan Alan langsung menuju ke ruangan dosen, mereka menanyakan tentang Keysha.

__ADS_1


Tapi pihak kampus malah mengatakan jika Key, pamit pulang sejak pagi karena ada urusan penting. Bahkan rekan Key menceritakan tentang kaki Keysha yang terluka karena pecahan gelas.


Mereka pun pamit, dan kini keduanya bertambah khawatir, tidak tahu harus kemana mencari Keysha.


"Bagaimana ini Lan! Kemana lagi kita akan mencari Key Lan?"


"Apa kamu tidak mengenal teman-teman seprofesi Key, barangkali dia ke rumah mereka."


Radit menggeleng, "Key tidak pernah pergi kemanapun Lan, selain ke kampus. Setelah kami menikah dia menjauh dari teman-temannya."


"Kamu Dit!"


Alan kembali kesal, tapi dia berusaha meredam emosinya. Alan harus tetap berkepala dingin agar bisa berpikir bagaimana menemukan Keysha sebelum malam tiba.


Saat keduanya masih pusing kemana mau mencari Key, hape Radit pun berdering.


Mamanya menelepon, memberitahu jika Meli tadi datang kerumah dan dia marah-marah karena Radit mengabaikannya.


Akibat perbuatan Meli, Papanya pun masuk rumah sakit, karena terkena serangan jantung.


Radit pun yang tidak tega mendengar mamanya menangis, berjanji akan datang untuk menjenguk sang papa.


Setelah Radit menutup panggilan, Alan pun bertanya, "Siapa yang sakit Dit?"


"Papa Lan, kata mama terkena serangan jantung."


Alan menghela nafas berat, lalu dia berkata, "Pergilah! jenguk beliau, walau bagaimanapun itu orangtuamu. Biar Key aku yang akan mencarinya. Jika sudah ada kabar, nanti aku beritahu."


"Coba telepon lagi Lan, barangkali ponselnya sudah aktif!" pinta Radit.


Alan pun mencobanya kembali dan hasilnya masih sama.


"Masih belum aktif Dit."


"Baiklah Lan, aku ke rumah sakit dulu, jika kondisi papa tidak terlalu mengkhawatirkan, aku akan menelepon mu. Kita akan mencari Key sampai ketemu."


"Iya Dit."


"Kamu pakai saja mobil ini, biar aku naik taksi ke rumah sakit."


"Iya. Sabar ya Dit," ucap Alan sambil menepuk pundak sahabatnya.


Radit pun memanggil taksi, lalu diapun menuju rumah sakit tempat papanya di rawat.


Alan masih bingung mau kemana mencari Keysha. Tiba-tiba dia teringat dengan tempat kost, di mana Keysha dulu tinggal.

__ADS_1


Lalu Alan berpikir, barangkali Key saat ini tinggal di sana, untuk menenangkan diri. Karena Key cukup akrab dengan pemilik kost beserta para pekerjanya.


Bersambung.......


__ADS_2