
Keluarga Alan sudah bersiap, hari ini mereka akan datang ke rumah Datuk untuk menentukan tanggal pernikahan Alan dan Devia.
"Lan, ayo buruan! Kita tidak boleh telat, bukankah siang ini Devia akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan pekerjaannya?"
"Iya Bu sebentar, pasienku ada yang mau melahirkan, aku mau minta tolong Dokter penggantiku dulu," ucap Alan.
Alan mencoba menghubungi rekan dokter obgyn, tapi mereka tidak bisa karena mereka juga sedang menangani operasi. Hanya tinggal satu orang lagi yaitu dokter Hans yang belum bisa dihubungi karena sedang cuti.
"Bu, seandainya Dokter Hans juga tidak bisa, mau tidak mau aku yang harus berangkat. Ini darurat Ma, harus segera dilakukan penanganan. Karirku dipertaruhkan di sini.
"Bagaimana kamu Lan? untuk masa depan mu juga harus diutamakan, jangan hanya memikirkan pekerjaan saja!" ucap ibu.
"Bu, biarkan Alan melakukan tugasnya dulu. Dia tidak bisa mengabaikan tanggungjawab meski untuk urusan pribadinya," ucap Ayah.
"Begini saja, Ayah dan Ibu berangkat duluan, aku akan melakukan operasi dulu, setelah itu baru menyusul," pinta Alan.
"Baiklah Nak, begitu juga baik, daripada kita semua terlambat," ucap Ayah.
"Iya Yah, secepatnya Alan akan kesana setelah selesai melakukan operasi."
"Tapi Lan, kamu telepon dulu Devia agar tidak kecewa," pinta Ibu.
"Iya Bu. Alan berangkat dulu ya Yah, Bu," pamit Alan.
Dengan terburu-buru Alan berangkat, dia mengutamakan tugas profesi diatas kepentingan pribadinya.
Kondisi pasien yang sudah pecah ketuban mengharuskan Alan untuk segera melakukan tindakan operasi.
Alan, sudah tiba di rumah sakit dan dia langsung bersiap untuk masuk ke ruang operasi, karena sebelumnya dia sudah menginformasikan kepada para perawat untuk mempersiapkan semua kelengkapan operasi.
Lampu di luar ruang operasi sudah menyala, pertanda kegiatan operasi sedang berlangsung. Keluarga pasien berharap-harap cemas, menunggu kelahiran anak dan keselamatan sang ibu.
Sementara, orangtua Alan sudah tiba di rumah Datuk. Mereka meminta maaf karena Alan tidak bisa ikut karena ada operasi darurat.
__ADS_1
Datuk dan istri faham akan profesi calon menantunya, tapi Devia sepertinya kurang senang dengan kabar tersebut. Dia merasa disepelekan oleh Alan.
"Nak, tolong maafkan Alan ya! Dia sudah berusaha mencari dokter pengganti tapi semua memiliki tugas masing-masing sedangkan satu orang dokter bedah sedang cuti dan tidak bisa dihubungi," jelas ibu.
"Ya sudahlah Tan, mau bagaimana lagi. Jika tahu begini, lebih baik aku tadi berangkat dengan penerbangan pertama. Aku sengaja mengundur keberangkatan dan menunda syuting demi Alan, tapi apa yang kudapat, Alan malah tidak datang," ucap Devia kecewa dan pergi meninggalkan Ibu Alan menuju kamarnya.
"Maafkan sikap Devia ya Mbak, dia terbiasa semua harus sesuai kemauannya," ucap ibu Devia.
"Biasalah Jeng, namanya anak muda, terkadang ego lebih besar ketimbang logika."
"Mari Mbak kita bergabung ke depan, barangkali ada yang ingin Datuk bicarakan tentang kapan pastinya pernikahan akan dilaksanakan," ajak Ibu Devia.
Setelah mereka berkumpul Datuk meminta Ibu untuk memanggil Devia, lalu ibupun segera ke kamar sang putri dan menyampaikan pesan tersebut.
Dengan wajah yang kurang bahagia, Devia pun duduk di hadapan orangtua Alan.
"Begini Mas, kita langsung saja ke inti pembicaraan, walaupun Nak Alan tidak hadir tapi dia sudah menyerahkan keputusan kepada kita, jadi tidak masalah jika kita tentukan sekarang kapan pernikahan mereka akan kita laksanakan."
"Bagaimana Devia, jika pernikahan kalian kita laksanakan dua minggu lagi, dua hari setelah kamu pulang dari Australia," ucap Datuk.
"Terserah para orangtua saja, Via ikut mau ayah."
"Baiklah Mas, Devia telah setuju. Mengenai persiapan akan kita mulai secepatnya. Mas tinggal sampaikan kepada Alan."
"Oke Datuk, acara seserahan lamaran akan kami bicarakan dulu dengan Alan, selambat-lambatnya minggu depan," ucap Ayah.
"Sekarang semua sudah ditetapkan, tinggal kesiapan anak-anak kita untuk mengatur jadwal pekerjaan mereka masing-masing," ucap Datuk.
"Iya, Datuk benar. Saya akan bicara dengan Alan agar dia mulai besok ambil cuti, jadi kejadian seperti ini tidak akan terulang. Nggak lucu saja jika pas acara akad dia harus buru-buru pergi menangani operasi," ucap ibu yang merasa bersalah dan malu.
"Tante benar, pokoknya aku tidak mau ditinggalkan di pelaminan gara-gara belain pasien."
"Iya Nak, maafkan Alan ya."
__ADS_1
"Via...Alan 'kan tidak sengaja, kamu juga harus paham dengan profesi yang calon suami kamu geluti begitu juga dengan Alan yang harus memahami profesi kamu."
Devia terdiam, dia masih kecewa dengan Alan. Dan untuk mengembalikan mut sang putri, ibu meminta Devia agar mengajak ibu Alan melihat-lihat album pemotretan yang pernah dia lakukan. Sementara ibu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan bersama kedua pembantu.
"Ayo Tan," ajak Devia.
"Panggil saja ibu Nak! biar terdengar lebih akrab. Toh sebentar lagi kamu jadi anak kami."
"Iya Bu."
Dengan antusias, Devia menceritakan pengalamannya selama menjadi model. Ibu Alan mengakui jika Devia sangat cantik dan berbakat dalam dunia modeling.
Hanya yang masih mengganjal di hati beliau adalah foto Devia yang hanya mengenakan bikini dengan berbagai pose bahkan ada model pria ikut berfose di sana.
Jika sudah menjadi istri Alan, beliau yakin, Alan pastinya tidak akan setuju, aurat inti istrinya diumbar seperti itu.
Ibu hanya bisa berharap, menantunya nanti akan bisa menempatkan diri, mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak pantas demi menjaga harkat dan martabat suami.
Melihat sang ibu mertua masih terpaku memandang fotonya, Devia bertanya, "Kenapa Bu? itu foto saat aku menjadi ambasador dari pakaian renang," ucap Devia.
"Nak, maaf jika ibu ikut campur. Jika nanti kamu sudah menikah dengan anak ibu, sebaiknya job yang seperti ini nggak usah lagi di terima."
"Memangnya kenapa Bu, toh cuma foto doang, aku tidak melakukan hal yang buruk 'kan?"
"Memang tidak Nak, tapi lihatlah teman foto kamu seorang pria dan sebaiknya bagian dalam tubuh kita sebagai wanita, hanya kita peruntukkan kepada suami, jangan untuk publik. Masih banyak 'kan Nak, job lain yang bisa kamu ambil."
"Tapi Bu, hal itu menantang keberanian kami sebagai model dan yang pasti bayarannya sangat besar untuk satu kali kontrak pemotretan," terang Devia.
Kemudian Devia berkata lagi, "Dari situlah namaku mulai melejit Bu, para pengusaha berebut memintaku untuk menjadi ambasador dari produk-produk mereka."
"Aku tidak ingin pernikahan menghambat karirku Bu. Karena aku yakin karirku masih bisa meningkat dan untuk 10 tahun kedepan pamorku masih bisa bertahan, tidak kalah dengan para pendatang baru di dunia akting dan permodelan," ucap Devia yang menunjukkan bahwa dia masih berambisi dalam karirnya.
Mendengar ucapan Devia, ibu menjadi ragu, apakah putranya bisa menerima dan apakah Alan bisa hidup bahagia atau tidak, jika beristrikan wanita ambisius seperti Devia.
__ADS_1