
Saat Alan masuk ke kamar, Devia sudah selesai berkemas.
"Oh, pulang juga Kakak!"
"Ayo, aku antar. Tapi kita ke rumah ibu dulu, mereka tadi menanyakanmu!"
"Mana sempat! Siapa suruh kakak pergi, kalau tidak pagi tadi kita bisa pamit dengan mereka. Sekarang aku tidak bisa, nanti ketinggalan pesawat!"
"Penerbangan malam kan masih ada!"
"Nggak bisa Kak, aku bilang nggak ya nggak. Titip salam saja buat mereka, jika nanti sudah sampai biar aku telepon mereka."
"Terserah kamu lah, aku hanya ingin para orangtua meridhoi keberangkatan mu."
"Mereka pasti paham," ucap Devia sambil menarik kopernya.
Kemudian Devia pamit kepada ayah ibunya dan mereka berpesan agar Devia berhati-hati di sana.
Ibu menanyakan kapan Devia akan kembali, malah Devia mengatakan mungkin di atas 3 bulan baru kembali karena ada penambahan pekerjaan.
Alan hanya menghela nafas, keputusan seperti itupun Devia tidak meminta pendapatnya.
"Nak Alan saja yang kesana, sebulan sekali atau bila perlu perdua minggu, sekalian bulan madu," ucap ibu.
"Mana bisa bulan madu Bu, pemotretan biasanya siap hampir tengah malam, setelah itu aku istirahat dan besoknya gitu lagi, hingga habis kontrak."
"Masa nggak bisa off barang 2 atau 3 hari Dev?" tanya Ayah.
"Nggak Yah, nanti bakal kena denda dan aku nggak mau citraku buruk hingga menghambat karirku."
"Usahakanlah Nak, kasihan suamimu."
"Lihat nanti lah Yah! Aku berangkat dulu ya Yah, Ibu."
"Hati-hati ya Nak," ucap Ibu dan Ayah Devia.
"Ayo Kak, nanti aku telat."
Alan menarik koper Devia lalu memasukkannya ke dalam bagasi. Merekapun segera berangkat.
Setibanya di bandara, Devia berkata, "Apabila Kak Alan mau kesana telepon dulu, takutnya aku sedang ada dilokasi lain!"
"Hemm."
"Aku berangkat ya Kak," pamit Devia sambil memeluk Alan.
Alan membalas pelukan Devia seperlunya saja, perasaannya hambar, apalagi karena kejadian malam tadi.
Devia pun meninggalkan Alan dan Alan kembali pulang ke rumah Datuk. Hari ini dia akan pamit dan tinggal di apartemen yang tidak jauh dari kliniknya.
Datuk awalnya keberatan, tapi karena alasan Alan yang tengah malam terkadang ada panggilan darurat, maka dengan berat hati mereka pun melepas kepergian Alan.
Sebulan berlalu, Alan berdiri di balkon apartemennya, sambil memandang kejauhan. Pikirannya sedang bingung dengan keputusan apa yang akan dia ambil.
__ADS_1
Tawaran pindah ke Jakarta sudah positif, tapi dia juga masih memikirkan kelanjutan rumah tangganya.
Akhirnya Alan mengambil keputusan untuk pergi ke Australia dulu sambil pamit kepada Devia jika dia akan pindah ke Jakarta.
Klinik yang ada akan dikelola oleh para sahabat Alan dan Alan akan meminta Ayah untuk mengontrolnya.
Alan bergegas memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam koper dan hari ini juga dia akan bertolak ke Australia tanpa pamit kepada siapapun.
Rencananya Alan ingin memberi kejutan kepada Devia dan bila sudah tiba di sana baru menelepon para orangtua.
Untung saja siang nanti ada penerbangan ke sana dan masih ada tiket untuk Alan.
Alan memesan taksi untuk mengantarnya dan tidak lama panggilan penumpang mengharuskan Alan masuk ke dalam pesawat.
Dalam lamunannya, Alan berharap ada kerinduan Devia untuknya karena sebulan sudah mereka tidak bertemu.
Radit sudah pindah ke rumah barunya begitu pula ibu dan adik-adik Keysha. Key sangat senang akhirnya bisa mandiri tanpa aturan dari orangtua Radit yang membuatnya stres.
Awalnya orangtua Radit menentang, tapi Tante Ira menasehati sang Mama. Mereka bisa berkunjung ke rumah Radit, jika rindu.
Ternyata Tante Ira punya rencana, dia memberitahu ke Mama Radit jangan terlalu memaksa jika ingin berhasil memisahkan keduanya.
Tante Ira minta sang kakak untuk bersabar, karena dia yang akan melakukan pendekatan terhadap Keysha.
Semua di buktikan oleh Tante Ira, saat Radit berangkat ke luar kota untuk mengurus bisnisnya, diapun menawarkan diri untuk menemani Keysha di rumahnya.
Radit dan Keysha tidak menyadari jika bahaya mengancam.
Tante Ira terus memasukkan obat ke dalam makanan dan juga minuman Keysha. Dia sengaja memasak saat Keysha sedang repot dengan kegiatan kampus.
Keysha merasa sedih, karena tidak kunjung hamil, sementara desakan ingin punya cucu terus saja datang dari keluarga Radit.
Tante Ira pura-pura memberi dukungan jika dia ada di pihak Keysha. Dan selalu bilang sabar, nanti pasti ada masanya Key akan hamil.
Keysha menangis saat mama mertuanya datang dan mendesaknya.
"Kamu harus paham Key, Radit itu penerus keluarga kami, jadi untuk apa menikah jika tidak juga mendapatkan keturunan. Kamu pasti yang mandul, sebaiknya kalian periksa intensif, kami ingin tahu hasilnya."
"Jika kamu mandul, aku minta tolong tinggalkan Radit. Kami tidak ingin Radit menyia-nyiakan hidup dengan wanita yang tidak bisa memberinya keturunan."
Mendengar pengomongan yang pedas membuat Keysha tidak kuasa menahan tangis. Apalagi Mama Radit mengatakan jika mereka sudah memiliki calon istri untuk Radit.
Melihat Key menangis, Tante Ira menghiburnya, dia mengedipkan mata kepada Mama Radit.
"Sabar Mbak, ini juga bukan maunya Key, dia juga kepingin jadi ibu. Mbak nggak boleh seperti ini dong! Lihat, Key sampai menangis!"
"Biar dia tahu, ini adalah karma, sejak dulu kami tidak setuju Radit menikah dengannya, akhirnya apa! Sial rumahtangganya."
"Iya Ma, nanti kalau Mas Radit pulang kami akan periksa ke Dokter."
"Ini kartu nama dokter kandungan yang bagus. Mama mau kalian ke sana barangkali setelah itu kamu bisa hamil."
"Oh Dokter Rida ya Mbak? itu Dokter bagus lho, banyak yang berhasil berobat sama dia. Anak-anak sahabatku juga berobat sama Dr. Rida Mbak."
__ADS_1
"Nah kamu dengar kan apa kata Tante Ira?"
"Iya Ma, Minggu depan Mas Radit pulang, kami pasti menemui Dokter Rida."
"Bagus kalau begitu."
Mama Radit pun pulang, lalu dia menelepon suaminya dan berkata, "Pa, mudah-mudahan rencana kita akan berhasil!"
"Benarkah Ma?"
"Ira terus memberikan obat itu kepada Keysha dan Dokter Rida juga sudah Mama beritahu, agar apapun nanti hasil pemeriksaannya, dia harus menuliskan di hasil laporan jika Keysha mandul."
"Bagus kalau begitu Ma!"
"Tapi kita jangan senang dulu, Papa juga harus berusaha dong. Kata Key, seminggu lagi Radit pulang. Papa usahakan agar dia terjerat wanita di sana."
"Beres Ma, di sini ada anak teman Papa dan kebetulan Papa lihat dia menyukai Radit. Anaknya juga rada berani, dia nempel terus kemana Radit pergi. Hal ini bisa Papa manfaatkan."
"Siip Pa! Kita pasti berhasil."
Mama tersenyum puas, kali ini mereka harus berhasil menyingkirkan Keysha.
Keysha masih menangis, Ira berusaha menenangkan Keysha.
"Sabar Key, jangan dengarkan omongan mertuamu, dia memang orangnya seperti itu."
"Oh ya, ibu kamu tidak datang hari ini Key?"
"Nggak Tan, ibu pergi ke sekolah adek. Katanya ada pertemuan membicarakan tentang PKL adek."
"Pasti tentang biaya ya?"
"Iya Tan."
"Untung saja kakaknya punya penghasilan, jadi mereka bisa lanjut sekolah, kalau nggak pasti berat ya Key, apalagi ibu kamu tidak bekerja. Mana belum lagi untuk biaya makan."
"Itu rezeki mereka Tan, dulu ayah ibu sudah berjuang untuk menyekolahkan aku, sekarang giliran ku Tan."
"Tapi enak, kamu bisa membelikan ibu kamu rumah, lah anak tante, malah membiarkan Tante kerja kesana kemari biar bisa makan."
"Sabar Tan, Rumah itu juga pemberian Mas Radit. Tapi suatu saat pasti aku ganti kalau tabunganku sudah cukup."
"Oh gitu, memangnya rumah, sawah dan ladang di kampung bukan milik kalian ya?"
"Milik Ibu sih Tan, tapi Mas Radit nggak izinkan itu di jual, padahal kemaren tuh sudah ada yang menawar."
"Mulia sekali hati Radit ya."
"Alhamdulillah Tan, Key beruntung dapat suami seperti Mas Radit. Key mau bersiap dulu ya Tan, sore ini ada kelas."
"Silakan Key, Tante juga mau istirahat. Nanti kamu bawa saja kunci, toh Tante nggak kemana-mana. Paling jika Tante ingin ke warung bisa lewat pintu belakang."
"Iya Tan, Key ke kamar dulu ya Tan!"
__ADS_1
Setelah Keysha masuk ke dalam kamarnya, Ira pun segera menelepon Mama Radit, menceritakan info yang dia dapatkan tadi.
Mama Radit makin benci kepada Keysha dan keluarganya. Dia selalu menganggap Key dan keluarganya adalah benalu bagi putranya.