
Alan menyambut kedatangan teman-temannya, mereka sama merayakan kelulusan dan setelah ini masing-masing akan kembali ke negara asal dan juga ke kota kelahiran bagi yang berwarga negara Malaysia.
Sementara Alan akan kembali ke Indonesia dulu sebelum balik lagi untuk mengambil gelar spesialisnya.
Seperti setiap tahunnya Alan, Radit dan Keysha akan bertemu di tempat biasa yaitu di cafe tongkrongan untuk para remaja, yang terletak tidak jauh dari sekolah mereka dulu.
Setelah acara usai, satu persatu pamit dan Alan beserta keluarganya juga kembali ke rumah dinas yang disediakan oleh pihak kedutaan.
"Kapan kamu berangkat Lan?" tanya Ibu.
"Lusa Bu, karena besok masih ada yang harus Alan urus di kampus."
"Bagaimana menurutmu tentang permintaan Datuk, Lan?" tanya Ayah.
"Saat ini Alan belum ingin memikirkan tentang pernikahan Yah, Alan masih mau fokus mengambil gelar master dulu. Namun agar tidak mengecewakan keluarga Datuk, Alan akan penuhi undangan mereka untuk berkunjung dan berkenalan dengan anak gadisnya.
"Ayah lihat selama ini kamu selalu menjaga jarak dengan para teman wanitamu, memangnya kenapa Lan? Nggak ada salahnya pacaran sambil menuntut ilmu, hitung-hitung saling mengenal untuk persiapan ke tahap selanjutnya. Ayah saja dulu begitu dengan ibu, jadi saat Ayah sudah memiliki penghasilan sendiri, baru lanjut melamar ibumu di hadapan Kakek," ucap Ayah.
"Malas saja Yah, Alan nggak mau dikatakan hanya memberi harapan palsu ke mereka. Jadi, nanti saat Alan sudah siap dan ada wanita yang sreg di hati, ya sat set lanjut meminang, tidak usah pacaran terlalu lama."
"Terserah kamu deh, yang penting jangan sampai anak ayah ini menjadi perjaka tua," ucap Ayah lagi sembari menepuk bahu putranya.
Ibu Alan juga memberikan dukungan, bahwa siapapun wanita pilihan Alan nantinya, selagi bisa membahagiakan putranya itu, pasti ibu setuju. Meski gadis tersebut berasal dari keluarga biasa. Karena, ibu Alan dulunya juga berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi menengah ke bawah."
"Terimakasih Yah, Bu, Alan pasti akan membawa menantu kalian ke rumah, bila sudah saatnya."
Mendengar jawaban Alan, ayah dan ibu pun mengerti jika putranya memang belum siap untuk melakukan pernikahan dalam waktu dekat.
"Pergilah istirahat Nak, kamu pasti lelah," pinta Ibu.
"Iya Bu, Alan pamit dulu."
__ADS_1
Alan pun pergi ke kamarnya, dia menarik nafas lega karena ayah dan ibu tidak memaksanya harus menikah dengan anak gadis Datuk.
Saat Alan hendak rebahan, ada panggilan telepon masuk dari Radit, Alan senang sahabatnya pasti ingat dan ingin menanyakan kapan dirinya akan terbang ke Indonesia.
"Hallo Pak Dokter," sapa Radit, saat Alan menerima panggilan teleponnya.
"Hallo juga Pak Bos, Apa kabar kalian di sana?"
"Kami sehat dan aku ada kabar baik Dok! Kamu orang pertama yang aku beritahu. Ternyata niat baik, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkannya," ucap Radit.
"Memangnya kabar apa Pak Bos? Apa kamu berhasil melebarkan sayap usahamu lagi?" tanya Alan.
"Itu yang pertama, tapi yang ini lebih membahagiakan lagi. Aku berhasil mendapatkan keinginan terbesarku, yang sejak SMA aku tunggu."
Mendengar hal itu, jantung Alan terasa berhenti berdetak, dadanya sesak dan tubuhnya tiba-tiba saja seperti tidak bertenaga dan dia terduduk lemas sembari tangannya gemetar memegang ponsel.
Alan sudah bisa menduga apa yang bakal Radit katakan. Untungnya Radit tidak menggunakan panggilan video, jadi dia tidak bisa melihat keadaan Alan saat ini.
"Eh...iya Dit. Maaf, aku sambil mengotak atik laptop, ada berkas yang harus aku persiapkan untuk pengajuan bekerja di rumah sakit," ucap Alan terpaksa berbohong.
"Oh, kamu sedang repot, kalau begitu, besok saja kita lanjut ngobrol."
"Tidak Dit, lanjutkan saja. Pekerjaan ku juga sudah hampir selesai, hanya tinggal print."
"Kamu masih ingat apa harapan terbesarku saat di SMA?"
"Iya, aku ingat. Kamu ingin menjadi pacar Keysha," ucap Alan sembari mengatur nafasnya agar tidak semakin sesak.
Harapannya benar pupus saat ini, Alan telah kehilangan wanita impiannya, sebelum dia sempat memberitahukan tentang perasaannya itu.
"Hahaha, ternyata sahabatku ini memang patut diacungi jempol, kamu masih mengingatnya dengan baik Lan!"
__ADS_1
"Heemm, aku ingat semua tentang kita bertiga dan itu tidak akan pernah aku lupakan sampai mati," ucap Alan sambil memegangi dadanya yang masih belum stabil.
"Aku beruntung memiliki sahabat seperti mu Lan! Oh ya, kamu pasti tidak menduga, ini lebih dari yang aku harapkan."
"Keysha bukan hanya menerimaku sebagai pacar, dia menerima lamaran ku. Kemaren malam aku tembak dia dengan memberinya kejutan dalam acara makan malam yang telah kurancang seromantis mungkin," ucap Radit.
"Selamat ya Dit, aku ikut senang. Semoga kalian segera dipersatukan dalam ikatan perkawinan."
"Belum semulus itu Lan, memang saat ini Keysha sudah menerima cincin dari ku sebagai bukti komitmen kami, tapi dia mengajukan persyaratan yang belum aku penuhi."
"Memangnya apa persyaratan dari Keysha Dit?" tanya Alan penasaran.
"Aku harus mengantongi persetujuan dari orangtuaku dulu, baru Keysha mau menerimaku dan mengajakku untuk menemui keluarganya di kampung."
"Kalau hanya itu apa sulitnya, kamu tinggal bilang dan ajak papa dan mamamu untuk melamar Keysha secara resmi di hadapan keluarganya. Lagipula, apa yang harus di tunggu lagi, kamu sudah menjadi pengusaha muda dan Key juga aku yakin pengajuannya untuk menjadi dosen pasti sebentar lagi diterima. Tidak ada Universitas yang bakal menolak lulusan terbaik dan berpotensi seperti Keysha," ucap Alan.
Saat ini terbayang wajah Keysha sedang tersenyum, wajah yang tidak bisa hilang dari hati dan pikiran Alan, meski dirinya sudah pergi jauh menyeberangi lautan.
"Lan, kamu masih mendengarku?" tanya Radit.
"Iya Dit. Jadi kamu belum mengatakan kepada keluargamu tentang hal ini?"
"Aku kan sudah bilang Lan, kamu orang pertama yang aku beritahu tentang kabar ini. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersama sahabat sejati ku dulu, barulah orang lain ku beritahu."
"Jangan menunda-nunda hal baik Dit, apa kamu tidak takut jika Keysha berubah pikiran atau direbut oleh pria lain?"
"Eh, jangan. Aku bisa mati Lan, jika sampai kehilangan dia. Bertahun-tahun aku telah berjuang dengan terus berada disisinya, menentang setiap masalah yang datang, masa sudah mendapat lampu hijau aku sia-sia kan," ucap Radit.
"Baguslah kalau begitu. Ingat Dit! Jangan sekalipun kamu sia-siakan dia, yang sudah susah payah kamu dapatkan. Aku sebagai teman kalian berdua, memohon bahagiakanlah Keysha. Kamu tahu kan, berapa banyak pria yang patah hatinya bila sampai mendengar berita ini?"
"Iya Lan, aku tahu. Ada banyak pria baik yang menanti jawaban cinta dari Keysha. Aku, lelaki yang paling beruntung dan aku janji akan membuat hidup Key bahagia dan aku tidak akan pernah melepaskan dia, kecuali Keysha sudah tidak bahagia bersama ku dan juga hanya karena maut yang memisahkan."
__ADS_1
Walau hati Alan saat ini sakit, tapi setidaknya dia bersyukur, Key jatuh ke tangan pria yang tepat. Radit pria baik, penyayang dan yang utama bertanggungjawab serta sangat mencintai Keysha.