
...WARNING : INI HANYALAH CERITA FIKSI DAN HANYA UNTUK HIBURAN SEMATA...
...***...
Raisa Angelina adalah seorang gadis rumahan biasa. Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya sudah menikah lagi, dan pernikahan keduanya tidak di karuniai anak.
Raisa memiliki kakak tiri yang begitu lembut padanya, dia sangat menyayanginya. Berbeda dengan ibu tirinya, Raisa justru mendapat perlakuan buruk darinya. Jika kakak tirinya ada di rumah, dia selalu berusaha membela Raisa.
Hal itu membuat ibunya murka, kenapa putra semata wayangnya begitu membela adik tirinya. Ayahnya tak terlalu peduli, dia hanya sibuk dengan urusan pekerjaan.
Suatu hari saat kerugian besar datang di perusahaan ayahnya, sampai pada kondisi perusahaan hampir bangkrut. Raisa harus rela dijual sebagai gadis penebus hutang. Dia bekerja pada pria kaya yang telah menolong perusahaan ayahnya.
Nicholas William
Orang kaya yang bisa melakukan apa saja dan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Fisik dan rupanya yang tampan banyak membuat wanita tergila-gila padanya. Namun sulit untuk menjalin hubungan dengannya lebih dalam karena sikapnya yang dingin.
Suatu hari, seorang pria menyedihkan datang bersimpuh memohon pertolongan padanya. Lelaki itu bertanya dengan angkuh.
"Apa yang bisa kau berikan padaku agar aku tertarik untuk menolongmu?"
Pria tak berdaya itu akan memberikan apapun termasuk anak gadisnya. Nicholas tersenyum sinis, dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan.
Sekretaris Li disampingnya, yang sedari tadi diam menyerahkan ponsel menunjukkan sebuah foto. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang lurus bergelombang, hitam kecoklatan. Nicholas menyeringai, seperti memiliki rencana licik.
"Baiklah, berikan padaku putrimu. Dia akan ku jadikan pelayan, dan aku akan menyelamatkan perusahaanmu."
"Terima kasih tuan, terima kasih."
Raisa Angelina
Nicholas William
Steven Marcelino
Alan Miller (Ayah Raisa)
Margaretha (Ibu tiri Raisa)
Awal Mula
"Raisa, mulai besok kau harus menjadi pelayan tuan Nicho. Dia bersedia menolong ayah."
"Tapi ayah.."
"Tidak ada tapi-tapian. Apa kau mau perusahaan ayah bangkrut?"
Raisa menunduk menahan air mata.
__ADS_1
"Raisa, selama ini kami sudah membesarkanmu. Ayahmu telah bekerja keras untuk menghidupi keluarga kita. Ibu rasa sekarang sudah saatnya untuk membalas budi."
"Apa yang di katakan ibumu benar. Kalau kau tahu balas budi, tentu kau mau mematuhi keinginan ayah. Atau kau mau ayah usir?"
"Iya, aku akan patuh." Raisa pasrah seiring air mata yang jatuh di pipinya
***
Keesokan Pagi
Raisa menatap keluar jendela kamarnya, dia tampak gelisah dan merasa putus asa dengan keadaan ini. Lalu terdengar suara kakaknya menyebut namanya dari ambang pintu.
"Raisa.."
Namun yang dipanggil tak menjawab, Raisa terus menatap keluar jendela. Kakaknya pun berjalan mendekatinya.
"Hei.." Steve menepuk bahu adik kesayangannya.
"Raisa, kamu pasti tertekan ya?"
Raisa pun memandangnya.
"Kakak, kenapa ini terjadi padaku?"
"Aku minta maaf, aku bisa saja membantu ayah. Tapi ibu tidak mengizinkan."
"Iya kak, aku mengerti. Mungkin ini memang sudah takdirku."
"Mulai hari ini kamu akan bekerja disana?"
"Kalau begitu semangat ya Raisa, hanya itu yang bisa ku katakan."
"Terima kasih kak, itu saja sudah cukup."
Raisa memeluk kakaknya, Steve pun memeluk Raisa dan membelai lembut rambutnya.
"Di dunia ini hanya kakak yang peduli padaku."
"Aku akan selalu ada untukmu. kalau kamu membutuhkanku, kamu bisa menghubungiku ."
"Kakak memang yang terbaik."
***
Akhirnya Raisa sampai di kediaman majikannya, dia di antar oleh ayahnya.
"Ingat, kau harus membuatnya senang."
Raisa tidak mengerti apa maksud ucapan ayahnya, hanya itu yang di sampaikan kemudian ayahnya berlalu.
Raisa pun segera menuju ke rumah calon majikannya. Dia mulai melangkah masuk, langkahnya terhenti saat dia melihat seorang pria sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menggunakan laptop. Pria itu pun menghentikan aktifitasnya, lalu berjalan mendekati Raisa.
"Apa kamu yang bernama Raisa?"
"I iya tuan."
Raisa menjawab dengan gugup. Pria itu memandang Raisa dari ujung kaki sampai kepala. Raisa hanya menunduk dan jantungnya berdetak cepat.
__ADS_1
"Siapa nama lengkapmu?"
"Raisa Angelina."
"Nama yang bagus."
"Terima kasih tuan."
"Mulai hari ini kamu bekerja untukku, tugasmu hanya bersih-bersih. Untuk memasak dikerjakan oleh pelayanku yang lain."
"Baik tuan."
"Dan satu hal lagi, jangan masuk ke kamarku. Kamarku ada di lantai atas."
"Saya akan ingat pesan anda."
"Bagus, sekarang siapkan kopi untukku. Gulanya sedikit saja."
"Baik tuan."
***
Raisa mulai memasak air dan membuatkan kopi untuk majikannya didapur. Setelah selesai, dia segera menuju ke ruang tamu dan memberikannya pada tuannya. Dia letakkan secangkir kopi hitam itu diatas meja, lalu hendak kembali ke dapur.
"Tunggu!"
Raisa berbalik badan.
"Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan?"
"Duduklah disini, aku ingin kamu menemaniku."
"Ta tapi.."
"Kamu menolak?" tanya majikannya dengan nada tinggi
"Ti tidak tuan."
Raisa segera mendekat dan duduk di lantai.
"Apa yang kamu lakukan? Aku memintamu duduk di sebelahku, bukan di lantai."
Raisa terdiam.
"Raisa!"
"I iya."
Raisa berdiri dari lantai dan duduk di sebelah majikannya dengan gugup.
Sebenarnya apa sih yang di inginkan pria ini. Kenapa dia menyuruhku tetap disini.
Nicho tetap mengetik laptopnya tanpa mempedulikan Raisa yang duduk di sampingnya. Setelah selesai dengan kegiatannya, dia pergi begitu saja meninggalkan Raisa. Raisa pun pergi ke dapur dan bergumam kesal
"Ugh! Dia menyuruhku duduk bersamanya dan aku diam saja seperti orang bodoh! Dasar menyebalkan!"
Bersambung
__ADS_1