Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Dinner


__ADS_3

Sebenarnya siapa wanita itu. Kenapa dia begitu dekat dengan tuan. Kelihatannya mereka sudah sangat akrab. Apa jangan-jangan diantara mereka ada hubungan spesial. Tapi kenapa juga aku memikirkan hal itu. Sama sekali tidak ada hubungannya denganku.


Raisa merenung sambil berjalan di bawah tangga


"Nich, ayolah kumohon. Sekali ini saja."


"Apa sih!"


Langkah Nicho terhenti saat mengetahui Raisa yang sekarang berada di bawah tangga memandang dirinya bersama Elis. Raisa berbalik badan lalu pergi.


Nicho hendak mengejar Raisa tapi dengan cepat Elis melingkarkan tangannya ke lengan Nicho mengajaknya makan malam. Di meja makan, Elis mengambilkan nasi dan lauk untuknya.


"Nich, mau ku suapi?"


"Tidak usah. Aku bisa makan sendiri."


Dari kejauhan Raisa melihat mereka berdua kemudian berlalu.


Setelah selesai makan malam, Nicho pergi buru-buru mencari Raisa tapi terlambat.


Harusnya malam ini aku berdua dengannya. Tapi..


"Nich, dari tadi kamu cari siapa sih?" tanya Elis dari belakang punggung Nicho


"Bukan urusanmu."


"Kamu masih saja ketus. Padahal kan aku baru datang."


"Memangnya siapa juga yang menyuruhmu datang."


"Ini keinginanku sendiri sih, mungkin aku akan menginap selama beberapa hari."


Refleks Nicho langsung memutar badannya menghadap Elis.


"Apa! Menginap?"

__ADS_1


"He'em." Elis mengangguk


"Kenapa kamu nekad sekali sih! Setelah apa yang terjadi dulu."


"Dulu aku masih bersama Alex tapi sekarang kami sudah tidak ada hubungan lagi. Jadi.." Elis melingkarkan lengannya di bahu Nicho


"Aku bisa menjadi milikmu."


"Jangan bermimpi." Nicho melepas lengan Elis dari bahunya


***


Keesokan pagi


Raisa kembali melihat kebersamaan Elis dengan Nicho yang sedang sarapan di meja makan. Dia segera mengalihkan pandangannya kemudian bergegas ke kamarnya untuk ganti baju lalu bekerja.


Entah mengapa rasanya hari ini aku kesal sekali. Perempuan itu kenapa masih disini. Bearti semalam dia menginap. Jangan-jangan.. Eh, apa sih yang ku pikirkan. Kenapa aku sampai berpikir sejauh itu.


Raisa bergumam dalam hati sembari mengelap kaca jendela.


Nicho : "Selesai sarapan pulanglah."


Elis : "Nich, kamu tega sekali menyuruhku pergi."


Nicho : "Tentu saja. Diantara kita tidak ada ikatan, bagaimana bisa kamu menginap di rumahku. Apa kata orang nanti."


Elis : "Iya, aku akan pulang. Meskipun sebentar bersamamu rasanya aku senang. Tapi bukan bearti aku akan melepaskanmu begitu saja."


Setelah menghabiskan sarapannya, Elis pun pergi di jemput oleh supirnya.


Akhirnya wanita siluman itu pergi juga


"Oh iya, di mana Raisa."


Nicho bergegas menyusuri segala ruangan, akhirnya dia menemukan Raisa yang sedang berada di depan rumah. Nicho berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Raisa."


"Tuan."


"Aku ingin minta waktumu sebentar."


"Ada apa tuan?"


"Nanti malam aku ingin mengajakmu dinner."


"Hmm..."


"Kamu harus mau."


"Baiklah."


Nicho menyungging senyuman, seakan dia merasa lega.


"Nanti malam aku akan menjemputmu. Dan aku sudah menyiapkan gaun untukmu. Nanti dipakai ya."


"Iya tuan."


Nicho pun berlalu dengan semburat merah menghiasi pipinya.


Yes! Akhirnya malam ini aku bisa berdua dengan Raisa. Malam ini tidak akan ada yang mengganggu kami lagi.


***


Malam pun tiba


Raisa duduk di meja rias, ia mencoba berdandan sendiri. Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna, dia kembali menatap cermin.


Untung saja, diam-diam aku belajar dandan setelah ke acara pesta waktu itu. Selama ini aku memakai uangku untuk beli make up. Meskipun tidak pernah ku pakai. Aku hanya ingin iseng-iseng saja memakainya di kamar. Ternyata laki-laki itu mengajakku pergi lagi hari ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2