Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Mimpi


__ADS_3

Raisa melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke tempat tidur Nicho. Dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menatap Nicho dengan sendu. Air mata pun mengalir membasahi pipinya. Raisa mengulurkan tangannya mengusap pipi Nicho dengan lembut. Sesaat Nicho bergumam memanggil namanya.


"Tuan, aku disini. Bukalah matamu tuan."


"Raisa.." gumam Nicho lirih


"Aku minta maaf, sudah membuatmu begini. Aku sudah banyak menyakiti perasaanmu. Jika aku bisa memutar waktu, aku pasti akan menerima lamaranmu waktu itu. Aku tidak berpikir kalau kau bersungguh-sungguh. Bagaimana mungkin lelaki sepertimu bisa menyukaiku."


Ya Tuhan, badannya panas sekali.


Raisa keluar dari kamar mengambil baskom berisi air dingin, lalu mengompres dahi Nicho dengan handuk kecil.


"Apa aku buatkan bubur saja untuknya?"


Raisa bergegas ke dapur, dia mulai merebus nasi, dan setelah cukup lama akhirnya bubur pun jadi. Kemudian dia kembali ke kamar Nicho.


"Tuan.. tuan.." Raisa mengguncang tubuh Nicho pelan dan memanggilnya dengan lirih


"Tuan.. bangunlah.."


"Enghh.."


Nicho perlahan membuka kelopak matanya, pandangannya buram melihat seorang gadis yang duduk di sampingnya. Dia berusaha bangkit dengan susah payah, dengan sigap Raisa membantunya untuk duduk dan bersandar di ranjang. Nicho berusaha melihat siapa yang duduk di sampingnya tapi penglihatannya masih samar.


"Kepalaku pusing."


"Tuan, apa kau haus?"


Raisa mengambilkan segelas air putih, membantu Nicho meminumnya. Setelah itu ia letakkan kembali ke nakas.

__ADS_1


"Tuan, aku membuat bubur untukmu. Makan dulu ya, setelah itu minum obat."


Raisa mengambil semangkuk bubur, kebetulan masih panas ia meniupnya terlebih dahulu kemudian ia suapkan ke Nicho.


"Tuan, sekarang minum obatnya ya."


"Tidak usah."


"Kenapa tuan?"


"Percuma aku minum obat. Obat itu tidak akan bisa menyembuhkanku."


Raisa terdiam mendengar ucapannya.


"Apa yang kamu lakukan disini, Raisa?"


"Sa saya.."


"Tidak tuan, ini benar-benar aku."


"Raisa?"


"Eva menelfonku, dia bilang tuan sakit. Jadi aku datang kesini, aku sangat khawatir tuan."


"Memang apa urusannya denganmu? Kenapa juga kamu khawatir."


Karena kau sakit gara-gara aku kan?


"Setelah anda sembuh, saya akan pulang."

__ADS_1


"Apa maksudmu, setelah aku sembuh kamu akan pulang?"


"Saya akan merawat tuan sampai tuan sembuh."


"Kamu tidak perlu merawatku, ada banyak pelayan yang akan merawatku."


"Tapi ini keinginan saya sendiri tuan, saya akan tetap disini sampai anda sembuh."


"Sudah ku bilang, pulanglah."


"Tidak. Lebih baik sekarang tuan minum saja obatnya."


Setelah meminum obat, Nicho kembali bersandar.


"Tuan, kalau boleh, izinkan saya untuk tidur di samping tuan malam ini."


"Raisa, kamu sudah gila ya?"


"Tolong izinkan saya tuan, setidaknya sampai kondisi anda membaik."


Nicho menatap cincin yang melingkar di jari manis Raisa, seketika raut mukanya berubah dan mengalihkan pandangannya dari Raisa.


Tuan, pandangan matanya tidak tajam dan cerah seperti biasanya. Dia terlihat frustasi dan putus asa. Apa aku harus mengatakan kalau aku dan Arthur membatalkan hubungan kami. Tapi semuanya masih belum pasti. Sampai sekarang Arthur juga belum menghubungiku.


Raisa pun memeluk Nicho dengan erat.


"Raisa, apa yang kamu lakukan?"


"Kalau mau menangis, menangis saja. Kau tidak perlu menutupi kelemahanmu dariku tuan."

__ADS_1


Raisa, aku takut. Semua ini hanya mimpi. Disaat aku bangun besok, kamu tidak ada di sampingku.


Bersambung


__ADS_2