
Terlihat jam dinding menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Ibu tiri Raisa terbangun lalu pergi ke kamar Raisa. Dia membuka pintu, melihat Raisa yang masih tertidur pulas, kemudian mendekat ke ranjangnya.
"HEI BANGUN!!"
"RAISA!!"
ibu tirinya menyingkap selimut dan berusaha mengguncang tubuh Raisa, perlahan Raisa terbangun.
"Ibu.." gumam Raisa lirih sambil mengerjapkan mata, lalu segera duduk.
"Ibu, ada apa?" tanya Raisa sambil menguap
"Ada apa!! Kamu tidak lihat sudah jam berapa sekarang!! Cepat bangun dan bersihkan rumah!"
"Tapi ini masih terlalu pagi."
"Apa kamu lupa, sekarang ka.u jadi pelayan di rumah pria kaya itu. Jadi mulai sekarang kamu harus bangun lebih pagi sebelum berangkat kesana!"
"Iya ibu."
"Sebelum bebersih buatkan aku teh."
Raisa mengangguk, ibunya keluar dari kamarnya dan menonton tv di ruang tamu. Raisa segera beranjak dari ranjangnya lalu turun ke bawah, dia mulai menyapu, mengepel, mencuci piring dan memasak.
Hingga jam dinding menunjukkan hampir pukul 6. Ayah Raisa sudah bangun setengah jam yang lalu, dia meminta putrinya untuk membuatkan kopi. Tak lama kemudian, Steve turun dari tangga. Dia menuju ke dapur dan melihat adiknya yang sedang membuatkan kopi untuk ayahnya.
"Raisa, kamu belum siap-siap?"
"Aku baru selesai bersih-bersih kak." jawab Raisa sambil mengaduk kopi
"Kamu harusnya tidak mengerjakan pekerjaan rumah, kamu sudah bekerja di rumah orang lain, kamu bisa kelelahan."
__ADS_1
Raisa terdiam, Steve pergi mencari ibunya yang sedang membaca majalah di depan rumah.
"Ibu.."
"Steve, ada apa?"
"Mengapa ibu masih menyuruh Raisa mengerjakan pekerjaan rumah?"
"Memang kenapa?"
"Ibu, dia bisa sakit kalau terlalu kelelahan. Aku akan mencari asisten rumah tangga."
"Tidak-tidak. Steve, ibu tidak setuju. Biarkan saja anak itu yang melakukannya."
"Ibu benar-benar keterlaluan."
"Dirumah ini ibu yang berkuasa. Kalau kamu tidak setuju dengan keputusan ibu, kamu boleh angkat kaki dari rumah ini."
Steve terdiam
Raisa memanggil kakaknya dari ambang pintu lalu berjalan ke arahnya.
"Kakak, jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa, aku kan sudah terbiasa."
"Tuh, dengar! dia saja tidak keberatan." bentak ibunya sambil meletakkan majalahnya dengan kasar di meja, kemudian masuk ke dalam rumah.
"Raisa, aku takut kamu sakit."
"Aku baik-baik saja kak. Tolong ya kak, jangan melawan ibu lagi, aku tidak mau kakak bertengkar dengan ibu karena aku."
"Raisa.."
__ADS_1
Steve menatap Raisa dengan sendu
"Ya sudah kak, aku mau siap-siap dulu. Jangan sampai majikanku marah karena aku datang terlambat."
Steve mengusap kepala Raisa lalu mencium keningnya.
***
Raisa berangkat ke rumah majikannya dengan ojek online. Sesampai disana, Raisa langsung menuju ke kamarnya kemudian mengenakan seragam tugasnya selama bekerja. Setelan baju celemek dan rok selutut yang berwarna senada. Setelah itu Raisa bergegas ke lantai atas, karena lantai bawah sudah di sapu dan di pel bersih oleh pelayan lainnya. Tuannya memiliki 10 pelayan di tambah dirinya, dan 1 kepala pelayan. Raisa mulai menaiki tangga, tepat melewati depan kamar tuannya pintunya terbuka.
"Kamu sudah datang." ucap Nicho yang masih memakai piyama
"Iya tuan."
"Aku ada tugas untukmu."
Gawat, apa dia memintaku untuk memandikannya lagi?
"Kenapa tiba-tiba kamu tegang? Oh.. aku tahu, pasti kamu ingin memandikanku lagi ya?"
"Hah! ti tidak."
"Ayolah, jangan bohong. Harusnya kamu senang dan berterima kasih padaku, karena kamu adalah wanita pertama yang ku beri kesempatan untuk memandikanku. Tapi sekarang aku ingin sendiri, jadi lain kali saja ya?"
Apa-apaan?
"Sekarang buatkan aku kopi, taruh di ruang tamu."
"Baik tuan."
Raisa menuju ke dapur, dia memasak air sambil terus bergumam.
__ADS_1
"Menyebalkan, siapa juga yang ingin memandikan dia. Rasanya saat itu ingin sekali aku semprot dia dengan air keran. Anggap saja sedang memandikan bayi katanya? iya, aku memang memandikan bayi, bayi besar. Dan sekarang bayi itu ingin minum kopi."
Bersambung