
Bangunan dua lantai di sisi kanan jalan menghadap ke arah selatan begitu terang dengan lampu yang sengaja di tambah untuk mengalahkan gelapnya malam. Ada cukup banyak orang berkililing, sejak pagi tadi berpencar dalam seisi lingkungan tak terkecuali bagian depan maupun belakang. Hingga akhirnya matahari mulai menutup diri menjadi waktu yang begitu tepat untuk mengetahui tempat yang sudah mewah tersebut menjadi lebih mewah.
Petugas kebersihan yang dipanggil untuk membantu pekerjaan para pelayan rumah sudah mulai bersiap tuk kembali pada kantor pelayanan tempat mereka mengambil pekerjaan. Menyisakan seorang nyonya rumah yang cukup merasa puas melihat ruang tamunya begitu bersih sebening ia memandang wajahnya sendiri.
"Kerja bagus." Clara mengangguk-angguk sembari tersenyum. Kepala pelayan di sisinya juga ikut tersenyum sumringah menanggapi bila apa yang di kerjakannya bisa membuat majikannya merasa puas. "Semua sudah sesuai keinginanku. Bagaimana diluar sana?"
"Halaman rumah anda sudah seperti halaman istana kerajaan. Rumput-rumput telah dipotong, semak-semak telah di rapikan, kami juga baru menambahkan bunga warna-warni untuk membuatnya semakin cantik. Dengan sedikit pencahayaan lampu yang temaram, maka akan terlihat sebagai taman pelangi di depan rumah."
"Mengesankan."
"Benar nyonya, masih ada sedikit waktu untuk menunggu tamu anda datang. Anda bisa sedikit beristirahat sebentar."
"Tidak, itu tidak perlu. Masih ada yang harus ku kerjakan. Pergilah, atur semua sesuai rencana. Bila ada masalah, katakan langsung kepadaku."
Wanita yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Xander tersebut meninggalkan Clara yang bernafas lega. Makan malam yang sudah sejak lama ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Sudah berhari-hari ia berpikir bagaimana membuat segalanya bisa begitu sempurna juga membuat tamu istimewa merasa terpesona pada penyambutannya. Suaminya pasti juga sedang bersiap di kamar utama sekarang ini. Jadi sebagai ibu rumah tangga, semua bergantung pada dirinya.
Clara tiba-tiba ingat bila bukan hanya ruang tamu yang harus di prioritaskan. Ia melangkah menaiki tangga menuju lantai dua tempat putra semata wayangnya berbenah untuk melihat kesiapan sesuai yang ia katakan.
"Kau tampan sayang." ujar Clara terkagum. "Bersikaplah dengan sopan, kurangi bicaramu, dan tersenyum manislah sesering mungkin."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena kau memang harus melakukannya." putus Clara final, sampai tidak memperhatikan kerucutan bibir tak suka akan apa yang ia katakan.
Alex jadi merasa malas sekedar menanggapi. Demi Tuhan, ini hanya makan malam biasa. Ia juga sudah berulang kali menghadiri sebuah acara yang sama tiap bulan dalam kehidupannya. Alex merasa sedang akan bertunangan, bila mungkin itu benar, sudah ia pastikan pemberontakan yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sedari tadi ibunya terus mengoceh tentang segala tata krama juga aturan lain seperti cara duduk dan juga cara bicara, itu membuat Alex mengernyit tak suka. Bila ia adalah Nicho maka dengan mudah ia mampu melakukannya, namun ia Alex yang lebih suka menunjukkan ekspresi secara terbuka.
__ADS_1
"Ibu, apa Nicho sudah datang?"
"Oh astaga, aku tidak memperhatikannya. Tapi jangan khawatir, tetap disini dan jangan pergi kemanapun. Ibu akan mencarinya."
Alex mampu sedikit menghela nafas, bisa menggunakan cara halus untuk membuat ceramah yang membuat telinganya terasa panas berhenti sudah ia pelajari. Ini hidupnya, tidak ada yang boleh merecoki meski itu bahkan ibunya sendiri. Hanya Nicho. Benar, hanya Nicho sahabat terbaiknya yang mampu melihat apa yang disukai dan tak disukainya.
Flashback end
Sore hari
Para pelayan menyambut kepulangan Nicho. Nicho kemudian mengajak Raisa ke lantai dua tempat biasa Raisa merapikan dan menyetrika bajunya.
Raisa : "Tuan, mengapa anda mengajak saya kesini?"
Nicho : "Ada yang ingin ku tanyakan."
Nicho : "Kamu ingat seseorang yang menemanimu dansa malam itu?"
Raisa : "Siapa ya namanya, hmm.. Oh iya saya ingat, Alexander."
Mendengar Raisa menyebut nama itu ekspresi Nicho berubah.
Raisa : "Memangnya kenapa tuan?"
Nicho : "Dia adalah teman kampusku. Tapi hubungan kami tidak baik."
Raisa : "Memang ada masalah apa tuan?"
__ADS_1
Nicho : "Ceritanya panjang, kamu tidak perlu tahu. Yang pasti, aku tidak suka melihatmu berdansa bersamanya saat itu."
Raisa : "Kan tuan juga bersama wanita lain.".
Nicho : "Aku terpaksa Raisa."
Raisa : "Begitu juga saya tuan."
Nicho : "Tapi kamu senang kan berdansa dengan Alex?"
Raisa : "Tentu saja, mana mungkin tidak suka. Dia kan tampan dan juga gagah. Dia juga lemah lembut tidak seperti.."
Perkataan Raisa terpotong tatkala Nicho mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Raisa, dan menarik tengkuk Raisa untuk memperdalam ciumannya. Raisa berusaha mendorong tubuh Nicho namun usahanya sia-sia. Tenaga Raisa tak ada artinya bagi Nicho yang saat ini menyandarkan tubuh Raisa ke dinding. Nafas Raisa tersengal-sengal setelah Nicho melepas ciumannya.
Raisa : "Tuan, apa yang kau lakukan?"
Nicho : "Aku tidak suka kamu mengagumi laki-laki lain. Karena kamu adalah milikku."
Raisa : "Tuan, sepertinya anda harus periksa. Mungkin penyakit anda bisa disembuhkan."
Nicho : "Jadi kamu pikir aku ini gila begitu? Baiklah, aku akan menggila sekarang!"
Nicho kembali mencium Raisa, tapi kali ini di lehernya.
"Tuan, tolong jangan lakukan ini. uhh.."
Kecupan Nicho meninggalkan bekas merah di leher Raisa, Raisa pun segera pergi tanpa mengucap sepatah katapun. Entah perasaan marah, benci yang ia rasakan sekarang. Ia tak akan mungkin melampiaskannya pada lelaki yang memang berhak atas dirinya.
__ADS_1
Bersambung