Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Masa Lalu (3)


__ADS_3

Ingatan 5 tahun lalu


Pertandingan balap mobil di jalanan sepi


Tangan kekar yang mencengkram kemudi di balut Jaket Army dengan aksen hijau tua di lengkapi warna hitam pada bagian bahu membuatnya tampak luar biasa. Pada bagian pinggang ia memakai sebuah jeans hitam yang ketat membalut paha hingga tumit. Tak lupa sepasang sepatu kets dengan tali putih melindungi kaki dari ketidaknyamanan menginjak gas juga perseneling yang cukup panas.


"Kau pergi di waktu yang tidak tepat kali ini."


"Sebentar." pria pemilik Lykan Hypersport tersebut mengatur sepasang Heands Free yang menggelayuti telinga. Ia cukup sadar baru melewati sebuah jalan berlubang hingga membuat cukup goncangan sampai pembicaraannya terpotong dengan salah satu kawan sepermainannya itu. "Kau mengatakan apa tadi?"


"Lykan Hypersport sedang memimpin, wow, aku tidak percaya ini." ucap di seberang sana begitu keras. Sampai-sampai secara refleks dahi Nicho mengernyit


"Kau pasti sedang bercanda, aku yang akan memimpin."


"Itu salahmu yang langsung pergi seenaknya. Bila tidak, mobil barumu akan menjadi yang terdepan memasuki finish."

__ADS_1


Tergelak yang ia yakini cukup mampu di dengar lawan bicaranya, ia juga tak menurunkan fokus pada jalanan. "Maaf, aku sudah mengatakan berkali-kali bila aku ada janji. Lagipula ini hanya balapan biasa, tidak cukup menegangkan untukku."


"Selamat datang di dunia kesombongan tuan William." sarkastis, namun ia begitu tahu bila ekspresi sesungguhnya adalah sebuah kekesalan karena kalah di babak awal. "Aku menarik kata-kataku sendiri. Mesin mobilmu lebih unggul hanya karena itu mesin baru. Tapi coba saja kau lewati tikungan tajam dengan kecepatan tinggi, aku yakin mobilmu hanya tinggal sebuah nama."


"Omong kosong, sama saja kau mendoakanku meninggal bodoh."


"Itu pantas untukmu."


Nicho menanggapi dengan senyum geli. Ia berkesempatan untuk menang mengingat mesin mobilnya yang memang di khususkan untuk sebuah balapan juga dengan kemampuan menyetirnya yang sedikit urakan.


Namun ia juga masih ingat akan batasan norma juga janji yang membuatnya melihat pergelangan tangan. "Sial, aku bisa terlambat."


"Aku ini tidak seperti dirimu, tidak akan membawa gadis yang berbeda tiap harus berkencan. Belum ada gadis yang mampu membuatku tertarik, tidak sampai saat ini."


"Huuuu.. ini namanya kebebasan ekspresi Nicho." tanggapannya hanya berupa decakan sembari memutar mata. "Tapi jangan khawatir, aku berdoa pada Tuhan bila suatu saat akan ada seorang gadis yang membuatmu takhluk hingga kau akan menangis mengejarnya."

__ADS_1


"Kau bicara omong kosong lagi, urus saja gadis yang ada di sisimu."


"Doa orang yang bahagia juga di dengar oleh Tuhan Nicho, dan aku merasa bila..."


"Iya-iya, aku mengerti." potong Nicho jengah. "Aku juga akan membantumu mendoakanku. Jadi dengarkan baik-baik."


"Hey, gadis yang akan membuatku jatuh cinta, AKU DATANG....!"


Flashback done


"Tuan, ini kopinya." Raisa meletakkan secangkir kopi di atas meja


"Hmm." jawab Nicho singkat


Setelah itu Raisa kembali bekerja. Menyapu lantai dan membersihkan ruangan di lantai dua. Tanpa ia sadari, Nicho diam-diam memperhatikannya secara sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


Astaga. Kenapa tiba-tiba aku jadi teringat ucapan konyol anak itu. Apakah yang dia katakan benar. Tapi tidak tahu kenapa aku merasa selalu ingin berada di dekatnya. Raisa..


Bersambung


__ADS_2