Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Lamaran


__ADS_3

Raisa tersipu dan Nicho mengehela nafas lega. Semua sudah jelas sekarang. Mereka menginginkan satu sama lain dan saling menerima.


"Besok aku akan menemui orang tuamu." Nicho pun menutup percakapan. Malam itu menjadi malam terjalinnya hati mereka.


***


Malam keesokan harinya, Nicho beserta keluarganya datang ke rumah Raisa. Mereka ingin melihat, bagaimana pria seperti Nicho melamar seorang wanita.


Nicho terlihat gugup saat berhadapan dengan ayah Raisa. Semengagumkan apapun Nicho, dia tetaplah seorang lelaki yang meminta putri dari seorang ayah agar bisa hidup dengan sang putri serta mengambil alih tugas seorang ayah. Semua yang ada dalam diri Raisa akan menjadi tanggung jawabnya.


"Maksud kedatangan kami kesini untuk meminta restu dan izin meminang putri anda yang bernama Raisa Angelina." ucap paman Nicho


"Saya sebagai orang tua setuju saja, semua keputusan saya serahkan kepada putri kami. Bagaimana Raisa?"


"Aku bersedia ayah."


Semua orang tersenyum lega. Sedangkan Raisa dan Nicho saling mencuri pandang dengan tersipu malu.

__ADS_1


Setelah lamaran itu, Nicho meminta izin untuk mengajak Raisa pergi ke taman. Raisa bisa merasakan ada perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Antara bahagia dan sedih yang ia rasakan. Meskipun Nicho berusaha untuk tetap tenang di depannya.


"Raisa, ada yang ingin aku katakan. Tentang kisah hidupku. Mengapa aku bisa menjadi orang yang kejam." Nicho mengatakannya sambil menunduk


"Katakan saja tuan." Raisa memegang tangan Nicho


"Ayah dan ibuku sudah lama berpisah sejak aku berumur 13 tahun. Ibuku pergi meninggalkanku lalu menjalani hidup baru bersama kekasihnya. Sejak saat itu dia tidak pernah menemuiku. Aku pikir dia sudah melupakanku, ternyata selama ini ayah yang melarang ibu untuk menemuiku. Aku baru saja menyadari hal itu di hari pertunanganmu dengan Arthur. Bukankah aku harus meminta restu pada ibu. Tapi aku tidak punya keberanian."


"Tuan, apa kau melupakanku? Aku akan menemanimu."


"Benarkah? Kamu mau menemaniku Raisa?"


"Aku minta maaf, di hari bahagia kita aku justru menceritakan kesedihanku."


"Tuan bicara apa? Aku akan menjadi istrimu. Apapun masalah yang kau hadapi, kita harus menghadapinya bersama."


"Raisa, terima kasih banyak."

__ADS_1


Nicho memeluk Raisa dengan terisak.


***


Keesokan Hari.


Emily



Nicho mengajak Raisa pergi mengunjungi Emily. Wanita paruh baya itu sedang duduk bersantai di teras. Emily tidak mengenal putranya, karena mereka sudah berpisah selama 13 tahun sejak perceraiannya dengan Evander. Nicho pun memeluk ibunya, dan berkata "Aku anakmu ibu. Ini aku, Nicho."


Seketika air mata Emily tumpah dan memeluk Nicho dengan erat. Ia sungguh tak percaya, tiba-tiba putra kesayangannya datang dan memeluknya. Di tambah, ia membawa kabar gembira pernikahannya yang akan di laksanakan tidak lama lagi. Yang Emily tahu, Nicho adalah anak laki-laki berumur 13 tahun, sekarang dia menjadi pria dewasa.


Selama ini, Emily sering memandang foto Nicho jika ia merasa rindu. Sedangkan Nicho, bila ia merindukan ibunya. Ia akan memutar video yang ia simpan dalam ponselnya, sebuah video acara ulang tahun saat dirinya masih kecil. Dalam video itu, terlihat ada ayah, ibu beserta keluarganya merayakan acara ulang tahunnya.


Pada saat Raisa mendapati Nicho yang sedang menonton video itu dalam kamarnya, tepat hari itu adalah hari ulang tahunnya yang ke 25. Evander pun pergi bukan karena bisnis, namun untuk menghindari Emily yang selalu datang menanyakan keberadaan putranya.

__ADS_1


Emily memandang Raisa, lalu memeluknya. Ia memperlakukan Raisa seperti putrinya sendiri. Emily pun di karuniai dua orang putri dari pernikahannya yang kedua.


Bersambung


__ADS_2