Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Raisa Hilang


__ADS_3

"Belakangan ini kenapa ya, perutku mual-mual, kepalaku pusing. Aku juga tidak mendapat tamu bulanan. Apalagi aku suka makan yang asam-asam."


Raisa melihat dua garis dari benda yang dia pegang di dalam kamar mandi.


***


Nicho tampak sudah rapi dengan setelan jasnya dan siap berangkat ke kantor.


"Istriku.. aku minta Eva membawakan sarapan untukmu, aku berangkat ya." ucap Nicho di depan kamar


Raisa bergeming di dalam kamar mandi dengan terisak.


Padahal aku mau pergi darinya, tapi kenapa..


***


Sore hari, sepulang dari kantor Nicho mengetuk pintu kamarnya.


"Istriku.. sayang.. tolong buka pintunya.. aku mau jelaskan semuanya."


Nicho terkejut pintu kamarnya terbuka sedikit, dia membuka pintu seraya mengedarkan pandangannya. Namun dia tak mendapati istrinya. Lalu dia mencari di kamar mandi, dia menemukan tespeck di samping pintu, di lihatnya ada dua garis merah di alat itu.


"Raisa hamil?"


Segera Nicho mencari Raisa di seluruh ruangan rumahnya tapi nihil, kemudian dia mencari informasi di rumah keluarga Raisa namun dia juga tidak ada disana. Akhirnya dia frustasi ketika tahu istrinya kabur dari rumah.


"Dasar bodoh!! Bagaimana kalian bisa membiarkan istriku pergi sendirian!!" bentak Nicho pada para pengawalnya di depan rumah


"Maafkan kami tuan muda, nona muda katanya ingin pergi sendiri jadi.."

__ADS_1


"Dasar kalian semua tidak berguna!!"


Para bodyguard itu menunduk ketakutan. Akhirnya Nicho mengerahkan beberapa pengawalnya untuk mencari Raisa.


***


Diamond Hotel



Ketukan sepatu pria berbaur dengan ketukan sepatu wanita, dengan elegan mereka berjalan di lorong hotel mewah berdesain Eropa klasik itu, dipandu oleh seorang pelayan yang akan menunjukkan mereka dimana pesta itu berlangsung. Marisa sangat memahami pesta ini, pesta jamuan para pengusaha muda. Pesta yang akan berujung pada pesta ranjang para pria kaya nan lajang dengan wanita pilihan mereka.


Pembukaan pesta telah berlangsung di meja makan panjang nan mewah itu, sungguh jamuan yang tidak bisa dibilang biasa-biasa saja. Marisa dapat melihat pria penuh kharisma yang duduk disisi depan sedang berbicara tentang bagaimana dia mengsyukuri perkembangan perusahaan mereka hingga mengadakan pesta mewah ini dengan suka cita.


"Selamat menikmati jamuan makan malam ini dan selamat menikmati pesta ini sampai akhir." ucap pria itu mengangkat gelas sampanye di ikuti semua tamu yang berada dalam jamuan tersebut.


Mereka pun serempak meneguknya kala pria itu memulai terlebih dahulu. Saat netra tajam itu menangkap hadirnya, Marisa menatap pria itu seraya meletakkan telapak tangannya dibalik rambut mengusap leher jenjangnya dengan gerakan sensual.


"Kamu benar, aku takjub dengan jamuan makan malam ini. Rasanya berlebihan." Marisa tersenyum tipis


"Pesta sesungguhnya akan ada setelah sesi makan malam ini selesai dan kamu tidak akan ku izinkan menerima tawaran pria lain, kamu milikku malam ini." Thomas terkekeh pelan


"Tidak ada yang ku inginkan selain dirimu." ucap Marisa mengusap paha pria itu bahkan sengaja menyentuh sedikit bagian sensitif disana.


"Aahh baby.."


Hampir sebagian orang yang berada di meja makan itu sudah beranjak pergi bersama pasangannya. Hingga pintu besar kembali terbuka, seorang pelayan datang bersama seorang pria berjas hitam yang terlihat begitu dingin dan tampan. Marisa seperti pernah melihatnya, tapi sayang dia sedikit lupa.


"Selamat malam Tuan Thomas." ucap pria itu setelah membungkukkan tubuhnya sopan

__ADS_1


"Apa yang membawamu datang kemari sekretaris Li?" tanya Thomas dengan alis yang terangkat sebelah


Pria tampan itu tak menjawab, seiring dengan pelayan yang meletakkan sebuah koper berisi uang tepat di hadapan Thomas. Marisa dan Thomas serempak mengerutkan dahinya. Baru saja Thomas berdiri hendak bertanya, sekretaris Li bersuara.


"Ini hadiah pemberian tuan Nicho untuk anda."


"Hadiah untuk apa ini?" tanya Thomas


"Tuan Nicho berterima kasih banyak karena kau telah membawakan wanita yang dia inginkan."


"A apa maksudmu?" tanya Marisa tergagap


Thomas terdiam sejenak. "Jadi aku tak bisa membawa gadisku untuk pergi ke Maldives malam ini?"


"Maaf anda hanya bisa memilih salah satunya, wanitamu atau hadiah tuan Nicho. Tapi jika anda menolak, kemungkinan saat rapat di kuartal pertama nanti, anda kehilangan separuh saham dan William Group akan mencabut penanaman modal untuk proyekmu, karena anda ketahuan menggelapkan sedikit modal untuk bersenang-senang ke Hawai tahun kemarin." ucap Li tenang, namun membuat Thomas menelan ludahnya dengan kasar.


Marisa berdiri dari duduk. "Maaf, aku tidak bisa menerima pergantian klien begitu saja."


"Aku telah membayar begitu besar untukmu, anda tidak bisa melakukan apapun selain tetap disini dan layani tuan Nicho dengan baik." Thomas berdecak kesal


Saat mata Lionel menangkap Marisa, wanita yang sudah berdiri itu lantas hendak pergi. Namun entah datang darimana, tiga pria bertubuh besar datang mendekat. Marisa mendengus sebal. Apa dirinya terjebak? Semua ini jelas terasa seperti sebuah jebakan.


"Anjing yang baik harus patuh pada majikannya." ucap Lionel dengan sudut bibirnya yang tertarik, entah itu sebuah senyuman atau seringai peringatan.


Marisa mulai waspada saat pria berbadan besar itu semakin maju mendekat, saat pria itu menarik tangannya, dengan spontan Marisa bergerak menarik tangan pria besar itu dan membanting tubuhnya.


Dua pria disana sedikit waspada untuk mendekat, wanita yang mereka hadapi bukan wanita lemah yang akan berlutut dan menangis pada mereka.


Tanpa dia sadari, Li disana perlahan berjalan mendekatinya dan membekap mulut Marisa dari belakang, dalam sekejab dia kehilangan kesadaran. Semuanya menjadi begitu gelap.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2