
Nicho muncul dari ruang ganti sudah memakai setelan jas. Rambutnya sudah tersisir dengan rapi. Dia berdiri sambil merapikan dasinya. Bila ada efek blitz, tubuhnya sudah bersinar karena aura sempurnanya.
Nicho menghampiri istrinya yang sedang berdandan di meja rias. Raisa terlihat anggun dengan balutan mini dress. Nicho membelai rambutnya dengan lembut. Sementara itu Raisa tersenyum memandangnya dari pantulan cermin.
Nicho : "Kamu cantik sekali istriku."
Raisa : "Kamu juga sangat tampan suamiku."
Nicho : "Aku pikir saat itu aku akan mati karena kehilanganmu untuk selamanya."
Raisa : "Sampai sekarang aku juga merasa ini seperti mimpi. Padahal rasanya baru kemarin aku menjadi pelayanmu, sekarang aku menjadi istrimu."
Nicho : "Terima kasih karena telah datang dalam hidupku dan membuatku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta."
Nicho tersenyum sembari menunduk ke arah Raisa. Detik ketika bibir Nicho nyaris menyentuh bibir Raisa, tepukan di bahunya menghentikannya.
Raisa : "Ayo kita sarapan."
***
Kepala pelayan menarik kursi utama di meja dan Nicho duduk disana. Raisa duduk di samping suaminya, dia memang sudah sering melayani Nicho dan menyuapinya. Tapi kali ini perannya adalah sebagai istri. Raisa mengambilkan nasi, sayuran, dan sepotong ayam goreng di atas piring di hadapan suaminya.
Raisa : "Silahkan di makan suamiku."
***
"Aku berangkat ya istriku, muach." Nicho mengecup kening Raisa
"Hati-hati suamiku. Daahhh."
Raisa memandang mobil yang di tumpangi Nicho sampai menghilang dari pintu gerbang.
Untung saja, dia mendengarkan kata-kataku. Sebenarnya dia bisa saja cuti kalau dia mau. Dia kan CEO. Tapi kalau dia libur, dia pasti akan menggangguku seharian.
***
Malam hari
Raisa membuat kopi lalu ia letakkan di atas meja ruang tamu, yang saat ini suaminya sedang mengetik laptop.
__ADS_1
Nicho : "Sayang, sepertinya kita harus bulan madu."
Raisa : "Bulan madu?"
Nicho : "Hmm."
Raisa : "Memang kamu ada waktu?"
Nicho : "Jangan khawatir, urusan pekerjaan akan ku serahkan kepada Lionel."
Raisa : "Memangnya kamu sudah punya rencana mau bulan madu kemana."
Nicho : "Kalau aku katakan sekarang, namanya bukan kejutan."
Nicho meraih tangan Raisa dan menggenggam kedua tangannya.
Nicho : "Aku akan membuatmu bahagia, istriku."
Raisa tersenyum, dengan lembut Nicho mencium kedua tangannya.
***
Nicho membawa Raisa dengan jet pribadi ke sebuah rumah pantai mewah miliknya di sebuah pulau kecil di selatan pulau Jawa. Pulau kecil dengan tata kota modern. Sebuah pulau yang sengaja di bangun oleh pihak pemerintah dan swasta untuk kepentingan pariwisata. Di dalamnya terdapat beberapa hotel dan cottage mewah serta apartemen sewaan. Raisa sungguh tersanjung dengan semua perlakuan Nicho. Bahagianya hari itu dia di perlakukan seperti putri raja.
Setibanya di rumah pantai yang berdesain eropa kuno. Di ruangan yang sangat luas itu ada beberapa orang berseragam putih khas asisten yang sedang membereskan meja ruang tamu.
"Kamar kita disana." Nicho menunjuk sebuah kamar
Mereka melangkah memasuki kamar berdesain eropa abad pertengahan yang luar biasa cantik.
⚘⚘⚘
Pada malam hari
Ketika Raisa keluar dari kamar mandi, di lihatnya Nicho sedang mengeringkan rambut dengan handuk di tepi tempat tidur. Raisa naik ke tempat tidur lalu mengambil handuk Nicho dan mengeringkan rambutnya dari belakang.
"Aku ingin menjadi wanita yang pantas untukmu."
"Oh istriku ini. Kamu sempurna untukku. Aku yang beruntung karena bisa mendapatkanmu. Aku bahkan tidak berhak untuk menginginkanmu, tapi kamu bersedia menerimaku. Kamu menyempurnakan hidupku, Raisa." ucap Nicho dengan sepenuh hati
"Aku mencintaimu." bisik Raisa
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu lagi sayang." balas Nicho sebelum ia berbalik menghadap istrinya dan menciumnya dengan penuh cinta
Nicho beranjak dari tempat tidur di ikuti oleh Raisa, kini posisi mereka berdiri saling berhadapan.
"Jika kamu meminta istana, aku akan membangunnya untukmu. Jika kamu meminta kereta kuda, akan ku siapkan itu untukmu. Jika kamu meminta seluruh dunia, percayalah sayang. Kamu sudah memiliki seluruh duniaku, kamulah duniaku."
Tak ada nada menggoda dalam suara Nicho. Hanya ada kesungguhan yang menggetarkan hati Raisa.
"Tetaplah disampingku sayang, apapun yang terjadi. Kamu adalah segalanya untukku." Nicho menunduk ke arahnya, mencium bibir Raisa sekilas, lalu menarik diri.
Saat itulah Raisa merasakan sesuatu di lehernya. Raisa menunduk dan terkesiap melihat kalung yang kini melingkari lehernya. Kalung dengan liontin berbentuk kunci.
"Kamu adalah pemilik kunci hatiku sayang. Aku mencintaimu."
Raisa kembali menatap Nicho dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga mencintaimu."
Raisa mengalungkan lengan di tengkuk Nicho, berjinjit untuk mencium bibirnya. Raisa bersandar sepenuhnya ketika Nicho semakin dalam menciumnya. Ketika Nicho mengakhiri ciumannya, dia menatap Raisa lekat.
"Kamu benar-benar penggoda kecil yang mengerikan sayang."
"Kamu yang mengajariku, siapa yang kamu salahkan?" Raisa tersenyum
Nicho mengerang pelan, lalu menarik Raisa dalam pelukannya. Raisa pun membalas pelukan Nicho.
"Terima kasih suamiku."
"Itu dialogku sayang." ujar Nicho seraya mengecup puncak kepala istrinya
Raisa tersenyum, dalam hati bersyukur atas kehadiran pria ini dalam hidupnya. Cinta sejatinya.
"Aku bisa menjanjikan untukmu sayang, hanya kamu wanita yang ku cinta." janji Nicho
"Dan aku hanya membutuhkanmu di sampingku, selamanya." balas Raisa
Kesempurnaan itu nyata. Dan Raisa lah yang menghadirkan kenyataan itu dalam hidup Nicho. Bersama Raisa, hidup Nicho sempurna. Karena Raisa adalah segalanya. Malam itu menjadi malam yang hangat bagi mereka berdua.
Bersambung
Jangan lupa like & komen ya😉
__ADS_1