Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Masa Lalu (4)


__ADS_3

Alex : "Nich, aku akan melanjutkan kuliah di London mungkin selama satu tahun."


Nicho : "Lalu bagaimana dengan tunanganmu?"


Alex : "Aku sudah mencoba bicara dengannya, syukurlah dia mau mengerti. Lagipula kami masih bisa chating. Aku juga bisa lihat aktivitasnya di media sosial. Kau tahu sendiri kan dia seorang model, pasti dia akan sering unggah foto."


Nicho : "Iya, kau benar."


Alex : "Ku pikir malam itu hanya makan malam biasa, ternyata ibu menjodohkanku dengan putri atasan ayahku. Ternyata aku langsung jatuh hati padanya."


Nicho : "Iya, kau sangat beruntung. Aku ikut bahagia bila sahabatku bahagia."


Alex : "Terima kasih Nicho, kau memang sahabatku yang terbaik. Lalu kapan kau juga punya pacar?"


"Entahlah. Aku belum memikirkan hal itu. Aku anak tunggal Alex, aku sibuk menghabiskan waktu untuk belajar, aku tidak mau kedua orang tuaku kecewa. Aku harus selalu menjadi yang terbaik." sahut Nicho lirih menjelaskan kehidupannya, seakan memberikan gambaran sebuah kehidupan yang membosankan.


"Apa kau tidak pernah merasa bosan selalu jadi yang terbaik? Dari jaman sekolah, kau selalu juara 1. Sepertinya hidupmu akan lebih seru kalau jaman sekolah dulu kau bisa merasakan jadi orang paling bodoh di kelas walau hanya untuk sekali. Mengikuti prinsip roda kehidupan, kadang di atas dan kadang di bawah haha...! goda Alex melihat gaya Nicho yang menurutnya terlalu serius menjalani kehidupannya.

__ADS_1


"Haha... ayahku bisa langsung pingsan kalau gelar juara 1 sampai lepas dari tanganku! Setiap orang punya peran masing-masing, dan sudah menjadi tugas kita untuk memainkan peran itu dengan berusaha melakukan yang terbaik." jelas Nicho dengan tatapan mata jauh menerawang, mencoba menebak misteri akhir kisah di ujung perjalanan kehidupannya.


"Orang-orang sepertimu, biasanya tidak bisa menikmati setiap alur cerita. Terlihat memiliki kehidupan yang sempurna tapi sebenarnya miskin kebahagiaan hahaha.." sindir Alex sambil membayangkan semua jadwal yang terpasang di dinding kehidupan Nicho, beragam tuntutan yang tanpa dia sadari telah memasung kebebasannya untuk menikmati masa muda.


"Sebagai anak tunggal, aku tidak punya pilihan." komentar singkat Nicho yang menyadari keindahan masa muda telah lama menghilang dari catatan kehidupannya. Berganti dengan beragam jadwal kesibukan sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis ayahnya.


"Suatu saat nanti kau akan menemukan cinta yang bisa memahami dan menerima dirimu seutuhnya. Cinta tanpa syarat." hibur Alex tersenyum melirik Nicho yang duduk di sampingnya.


"Semoga.. Aku juga ingin memiliki satu cinta yang bisa membawa kedamaian biar hidupku bisa tenang."


Selama lebih dari 45 menit Nicho berjalan mengelilingi mall dan memasuki beberapa butik yang menjual barang-barang bermerk, Elis bisa merasakan banyaknya tatapan mata wanita usia belia yang tertuju pada Nicho. Penampilan Nicho dengan postur tinggi atletis memang sangat layak untuk di jadikan idola. Sementara Elis di sampingnya, terlihat santai sambil sesekali tersenyum untuk penggemarnya dengan gaya khas layaknya seorang artis.


"Lokasi fotonya dimana?" pertanyaan Nicho membuyarkan semua senyum di wajah Elis yang terlihat sedang menikmati kekaguman dari wanita-wanita yang melintasi mereka.


"Di pantai, momen sunrise." jawab Elis cepat sambil mengikuti langkah Nicho.


"Bagaimana kalau kamu pakai baju dan celana ini? Cocok buat suasana pantai, santai tapi tetap kelihatan elegan." usul Elis sambil menunjukkan baju kemeja putih lengan pendek dan celana pendek selutut yang juga berwarna putih dari bahan linen.

__ADS_1


"Boleh juga." balas Nicho setelah menempelkan baju kemeja berwarna putih pilihan Elis di tubuhnya dan melihat penampilannya sekilas di cermin.


"Mungkin kamu bisa membuka beberapa kancing bagian atas biar fotonya kelihatan lebih santai." usul Elis sambil membayangkan penampilan Nicho.


"Aku malah lebih suka membuka semua kancing bajunya, kelihatan lebih macho haha..!" sahut Nicho yang percaya diri dengan postur tubuhnya.


Elis : "Haha... foto di pantai jangan pakai sepatu maupun sandal, lebih bagus pose berjalan tanpa alas kaki biar kelihatan alami. Jalan di antara ombak dan pantai pasir, pasti hasil foto kita keren sekali."


Nicho : "Pilihannya oke semua."


Elis : "Hmm.. dari tadi banyak cewek yang melirik kita berdua, sepertinya kamu benar-benar sudah memiliki penggemar disini."


"Oh, aku pikir cewek-cewek itu cemburu dengan kecantikanmu. Bukan aku yang jadi pusat perhatian disini." bisik Nicho menebak pikiran orang-orang yang mengawasi sejak kedatangan mereka berdua di mall. Kecantikan Elis memang berhasil membuat orang melirik dengan sejuta tatapan misterius.


Nicho bergegas melangkah ke kasir dan membayar semua pilihan Elis untuknya. Sifat usil Nicho kambuh dengan menarik tangan Elis dalam genggamannya, sementara Elis hanya tersenyum dan membiarkan Nicho yang mulai berakting seolah-olah mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata yang penuh kebencian sudah mengamati mereka berdua sejak mobil Nicho memasuki parkiran mall.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2