Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Dansa


__ADS_3

John : "Sayang, kamu datang?"


Catherin : "Seperti yang kamu lihat sayang, aku ada disini." Ia yang terkejut dengan kehadiran Nicholas segera menyapanya.


Catherin : "Nich."


Nicho : "Kakak."


Mereka saling berpelukan. Catherin mencium kedua pipi Nicholas, sedangkan Raisa bertanya-tanya apa hubungan di antara mereka semua. Kenapa terlihat begitu akrab seperti kakak beradik.


Catherin : "Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu, sekarang kau jadi semakin dewasa ya."


Nicho : "Bagaimana kabar kakak?"


Catherin : "Baik. Eh, itu siapa?"


Nicho : "Perkenalkan, dia teman dekatku."


Catherin mengulurkan tangannya pada Raisa, mereka pun berjabat tangan.


Catherin : "Hai, aku Catherin Aurora."


Raisa : "Saya Raisa Angelina."


Catherin : "Kamu cantik sekali."


Raisa : "Kakak terlalu berlebihan, kakak jauh lebih cantik."

__ADS_1


Catherin : "Tapi kamu memang cantik sekali Raisa." puji Catherin sambil menyikut lengan Nicholas


Alunan musik tiba-tiba berhenti, disusul oleh suara pembawa acara yang memberikan sebuah permainan. Setiap satu lagu dansa mereka di haruskan bertukar tempat dengan pasangan di sebelahnya.


"Ide bagus." celetuk keras dari John yang justru mendapat gerutuan dari pasangannya. "Ini hanya permainan sayang, percayalah cintaku hanya untukmu."


"Ku harap pasanganmu selanjutnya adalah nenek-nenek tua." kesal Catherin


Tawa dari seluruh tamu mendominasi, niat bersikap keren menjadikan pria tersebut sebagai bahan lelucon.


"Baik, semua sudah mengerti aturannya? Putar lagi musiknya dan ayo kita dansa!" suara yang keluar dari speaker membuat kericuhan kembali.


Nich tampak bingung dengan situasi ini, begitu juga Raisa. Pikiran mereka tidak terlintas sampai sejauh ini, yang namanya pesta pasti ada dansa kan. Ini pertama kalinya bagi Raisa menghadiri acara perusahaan yang sekaligus mengadakan pesta dansa.


"Tuan, saya tidak bisa dansa."


Raisa cukup tersentuh, baru kali ini ia mendengar Nicholas bicara dengan begitu lembut padanya. Akhirnya Nicho mengulurkan tangannya, Raisa pun mengulurkan tangannya menyambut telapak tangan Nicholas. Lampu yang semula terang menjadi gelap. Sebuah irama musik lembut mulai mengalun (Lagu India-Tery Galiyan). Di susul dengan lampu warna-warni yang mulai berputar pelan.


Satu persatu pasangan mulai mengikuti irama. Dengan hati-hati Nicho menuntun Raisa untuk mengikuti setiap gerakannya, dan kini Raisa pun mulai sedikit terbiasa. Kini mata keduanya saling bertemu, Raisa tak bisa mengelak jika Nicho memang benar-benar terlihat gagah dan tampan. Alunan musik dansa membuat mereka berdua semakin menikmati setiap gerakan yang tercipta. Tepukan dan langkah lebar hingga kembali pada pasangan dansa, lalu gerak saling berputar dengan pola sederhana masih dalam satu tempat.


Menyadari lagu yang akan berganti, Nicho dengan sengaja mengarah ke sisi pinggir. Satu gerakan tepat pada musik terakhir, ia mengangkat tangan Raisa tinggi tuk membuatnya berputar sejalan dengan terhentinya irama. Dalam diri Raisa, ia merasa begitu takjub oleh sepasang mata hitam kelam yang menangkapnya. Pada saat itu mereka merasakan sebuah gejolak rasa yang begitu menggebu-gebu didalam dada. Apakah itu cinta?


Sedangkan dari kejauhan, sebuah tatapan tajam dari meja. Seseorang memandang mereka dengan cemberut, juga genggaman tangan yang begitu kuat pada gelas seakan ingin meremukkan.



Akhirnya putaran lagu kedua, seorang gadis dari pasangan lain mengajak Nicho untuk berdansa dengannya. Nicho merasa berat meninggalkan Raisa, namun ia juga merasa tak enak untuk menolak ajakan dari wanita tersebut.

__ADS_1


"Mau dansa?" sebuah tangan lebar terulur didepan wajah Raisa


"Temanmu juga berdansa disana, jadi tidak ada alasan untuk menolakku."


Setelah menimbang cukup lama, karena tak biasa mengecewakan orang lain. Raisa mengulurkan tangannya menerima ajakan pria tersebut.


"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, kamu cantik."


Hanya senyuman yang diberikan Raisa, semburat merah tipis menghiasi pipinya. Saat telah sampai pada tengah aula, secara profokatif tangan Raisa menyampir di bahu teman dansanya. Lalu tangan satunya di genggam dengan lembut sembari mulai larut dalam irama yang mengalun. Kaki mereka secara luwes bergerak pelan.


"Perkenalkan, aku Alexander. Bila kamu berkenan saat ini kita jadi teman."


"Entahlah."


"Bukan kata itu yang ingin ku dengar."


Tampilan Raisa yang anggun bak dewi khayangan membangkitkan rasa tertarik, apalagi melihat wajahnya yang polos dengan make up natural.


"Kamu bahkan belum menyebutkan namamu."


"Aku Raisa Angelina."


"Nama yang cantik." jurus terjitu dari seorang Alex telah dimulai


Raisa melihat sorot kecewa dari seorang yang di kenalnya berdiri tak jauh dalam jalan yang mereka lalui. Entah mengapa ia sungguh tak tahu. Tapi pandangan itu cukup mampu membuat gelegar memilukan hadir dalam hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2