Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Tegar


__ADS_3

Setelah Nicho dan sekretaris Li pergi, Raisa pun bergegas pulang ke rumahnya di antar oleh supir Nicho. Sesampai di rumah, ia segera masuk ke kamarnya. Baru saja ia masuk, terdengar ada yang mengetuk pintu. Raisa membuka pintunya.


"Kakak."


"Raisa, bolehkah aku minta waktumu sebentar?"


"Silahkan masuk kak."


Steve dan Raisa duduk di sisi tempat tidur


"Raisa, aku minta maaf. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai kakak aku tidak bisa melindungimu."


"Kakak, jangan bicara seperti itu. Selama ini kakak selalu menjagaku. Aku bisa bertahan sampai sekarang juga karena kakak. Setiap aku sedih kakak selalu ada untukku. Aku bersyukur memiliki kakak seperti kak Stev."


Steve tersenyum mendengar ucapan Raisa, perlahan tangannya membelai lembut rambut Raisa.


"Raisa, kamu anak yang sangat baik. Tapi kenapa nasibmu sangat buruk. Kalau saja ibu tidak melarangku membantu ayah, ini tidak akan terjadi padamu."


"Semuanya sudah terjadi kak, lagipula majikanku tidak berbuat macam-macam padaku. Jadi kakak tidak perlu khawatir."


Steve menarik tangannya


"Raisa, kamu tidak tahu orang seperti apa dia. Dia sangat tidak berperasaan, dia sudah menghancurkan begitu banyak perusahaan. Tidak banyak informasi yang orang tahu tentang dia, tapi ada satu hal yang di ketahui oleh semua orang, laki-laki itu sangat brutal dan kejam."

__ADS_1


Apa iya, padahal selama ini sikapnya kekanak-kanakan. Jadi apakah selama ini laki-laki yang ku hadapi adalah seorang monster. Jika dengar dari penjelasan kakak dia itu orang yang sangat menakutkan.


"Raisa?"


Steve mengguncang pundak Raisa yang terdiam dalam lamunannya.


"Eh, iya kak?"


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Apa kamu merasa takut?"


Steve melihat tangan Raisa gemetaran, lalu dia memeluk Raisa untuk menenangkannya.


"Kamu jangan takut. Aku yakin dia tidak akan menyakitimu. Kamu kan perempuan, masa dia tega melukaimu."


Oh iya, apa yang di katakan kakak benar. Buktinya sampai sekarang dia tidak pernah menyentuhku. Malah aku sempat merasa nyaman saat berdansa dengannya di pesta itu. Tapi kenapa tiba-tiba aku teringat momen itu.


"Maaf ya kak, aku selalu membuat kakak cemas."


"Kamu ini bicara apa? Tentu saja sebagai kakak aku harus melindungimu. Kita kan sudah dekat sejak kamu berumur 15th."

__ADS_1


"Kakak, aku sayang kakak."


"Aku juga sayang kamu Raisa."


Raisa mencium pipi Stev, Steve pun mencium kening Raisa.


"Sekarang istirahatlah, maaf semalam aku sudah marah-marah."


"Tidak apa-apa kak, aku mengerti kenapa kakak sampai semarah itu."


Steve mengusap kepala Raisa.


"Ya sudah, aku kembali ke kamarku. Selamat malam Raisa."


"Selamat malam juga kakak."


***


Keesokan pagi


Raisa tiba dirumah majikannya, langkahnya terhenti saat sampai di depan teras. Ia menengadah menatap rumah mewah Nicho sambil merenung.


Apapun yang terjadi yang aku lakukan adalah cukup tersenyum. Bagi semua orang bangunan besar ini adalah rumah. Tapi bagiku tempat ini seperti neraka. Sekarang hidupku tergantung dari laki-laki itu. Dia seperti seekor singa, yang bisa menerkamku kapan saja dia mau. Ayah, kenapa kau tega melakukan ini padaku. Hidupku ditukar dengan kemewahan yang kau rasakan bersama istrimu. Aku ingin lari, tapi kemana? Aku masih punya kakak yang sangat menyayangiku, meskipun dia bukan kakak kandungku. Aku masih beruntung di beri tempat tinggal. Mungkin benar kata ayah, aku harus membalas budi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2