
"Li, hari ini kita pulang ke rumah."
"Apa tuan muda tidak ingin menemui bibi dulu?"
"Aku belum siap, aku tidak tahu harus bagaimana saat bertemu dengannya. Kami sudah lama berpisah, bertahun-tahun."
Li tak melanjutkan, dia kembali fokus menyetir.
***
Sementara Raisa melamun didalam kamar, terdengar ponselnya berdering.
Raisa : "Hallo?"
Arthur : "Bisakah kita bertemu, ada yang mau ku bicarakan denganmu."
Raisa : "Maaf, saya tidak bisa."
Arthur : "Ini penting."
Raisa : "Baiklah, ketemu dimana?"
***
Mobil Arthur sampai di gerbang rumah Raisa. Tak lama kemudian Raisa muncul dari ambang pintu. Mereka bergegas pergi ke taman.
"Tuan, mengapa kau mengajakku kesini?"
"Aku ingin tanya, kau ada hubungan apa dengan Nicho?"
__ADS_1
"....."
"Kalian saling menyukai kan? Kenapa kamu tidak bilang dari awal saja Raisa, dengan begitu pertunangan ini tidak akan terjadi."
"Kau menyalahkanku?"
"Aku bukan menyalahkanmu, tapi aku juga bingung harus bagaimana. Ibu tiba-tiba datang ke rumahmu tanpa sepengetahuanku. Kalau mau, kita bisa batalkan hubungan kita. Lagipula kita kan tidak saling menyukai, kita saja baru saling kenal."
Raisa terdiam dengan raut cemas.
"Jangan khawatir, masalah ibuku biar aku yang atur. Aku akan katakan yang sebenarnya, bahwa kita tidak saling mencintai. Dan aku sudah membohongi ibu tentang hubungan kita. Dengan begitu masalah selesai."
Raisa menatap dengan sorot mata kesal.
"Raisa, aku minta maaf."
"Terserah anda tuan, yang pasti aku tidak mau di salahkan. Semua yang terjadi karena ulahmu."
***
Mobil sekretaris Li sampai di halaman rumah, Li turun membuka pintu untuk Nicho.
"Tuan muda, sepertinya anda sakit."
"Aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan. Pulanglah."
Li sebenarnya berat untuk meninggalkan Nicho, karena wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya lemas.
Nicho masuk ke kamarnya, sekelebat ingatan muncul ketika dia tidur bersama Raisa malam itu.
__ADS_1
"Raisa, aku merasa kamu ada dimana-mana."
Nicho pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tak lama kemudian dia terlelap.
***
Malam harinya, para pelayan merasa cemas dan gelisah karena sudah sejak pagi sampai sekarang Nicho belum keluar juga dari kamarnya. Para pelayan itu merasa takut untuk membuka pintu. Namun karena mereka khawatir, salah satu di antara mereka memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Nicholas.
Mereka semua terkejut, mendapati Nicho yang sedang tidur dengan wajah pucat. Akhirnya mereka memanggil dokter pribadi untuk datang dan memeriksa kondisinya. Kata dokter, Nicho hanya demam biasa. Dokter sudah memberi obat, para pelayan itu mengikuti saran dokter untuk memberi Nicho obat itu. Tapi sudah beberapa hari, kondisi Nicho tak ada perubahan.
Pada keesokan harinya, salah seorang pelayan mengecek kondisi Nicho dan mendengarnya bergumam menyebut nama Raisa.
***
Raisa yang sedang berada di rumah, sudah berhari-hari dia merenung dan melamun dalam kamarnya tiba-tiba mendengar ponselnya berdering.
"Eva, ada apa?"
"Tuan Nicho sakit."
"Apa! Tuan sakit."
"Raisa, dia terus bergumam menyebut namamu. Sepertinya dia sangat membutuhkanmu sekarang."
"Aku akan segera kesana."
Raisa mengambil tas lalu menuruni tangga dengan buru-buru. Di luar rumahnya, sudah ada taksi online yang menunggu.
Sesampai disana, Raisa mempercepat langkahnya memasuki rumah Nicho. Dia menapaki anak tangga, lalu sampailah dia didepan kamarnya. Perlahan Raisa membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Raisa diam terpaku. Tanpa ia sadari, dia telah menahan nafas selama beberapa detik. Matanya menatap hampir tak berkedip, melihat laki-laki yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah pucat dan mata terpejam.
__ADS_1
Bersambung