Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Momen Spesial


__ADS_3

Malam setelah pesta pernikahan, Steven mengantar Laura pulang ke rumahnya.


Laura : "Sudah malam, pulang sana. Aku akan langsung mengunci pintunya begitu kamu pulang, jadi jangan khawatirkan aku." ia berbalik untuk mengambil kunci tapi Steve menahan lengannya.


Steven : "Aku masih kangen kamu honey."


Laura tersenyum hingga akhirnya ia membuka pintu rumahnya.


"Ayo kita masuk."


Mereka berdiri di ruang tamu. Laura mengerjap beberapa kali. Tatapan Steve turun ke bibir Laura, tapi ia tak melakukan apapun, hanya menunggu.


"Aku... juga menginginkanmu, Steve." ucap Laura akhirnya


Laura memejamkan mata ketika Steve menunduk ke arahnya. Laura agak terkejut ketika Steve menciumnya dengan sangat lembut. Namun, ciuman itu semakin lama semakin dalam, panas, dan menghanyutkan. Laura berpegangan di lengan Steve ketika kakinya terasa lemas.


Steve melepaskan bibir Laura hanya dua detik, sebelum kembali menciumnya. Laura bisa merasakan panas di tubuhnya. Ia tersentak pelan tatkala Steve tiba-tiba mengangkat Laura dalam gendongan. Namun, ia masih mencium Laura.


Ketika akhirnya Steve mengakhiri ciuman mereka, Laura mendapati dirinya sudah berbaring di atas sofa. Di atasnya, Steve membungkuk dengan tatapan tepat ke mata Laura.


"Aku mencintaimu, Laura."


Laura tersenyum. Di sentuhnya wajah Steve, membuatnya memejamkan mata, seolah menahan sesuatu.


"Honey, kurasa aku akan mati jika tak segera menciummu." Steve berbicara dengan suara serak


"Kalau begitu, cium aku." Laura menangkup wajah Steve.


Detik berikutnya, Steve menuruti kata-kata Laura. Ciuman itu membuat Laura seolah melayang. Ia tak bisa memikirkan hal lain selain Steven. Kekasihnya. Cintanya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Perlahan Raisa membuka kedua matanya yang terpejam, di sampingnya ada Nicho yang memeluknya. Raisa hendak bangun dari tempat tidur, tapi di tahan oleh lengan yang masih mendekapnya.


Raisa : "Suamiku, sekarang sudah pagi. Apa kamu tidak bekerja?"


Nicho : "Hmm, apa aku tidak boleh cuti saja sehari? Aku ingin menemani istriku tercinta."


Raisa : "Kamu tidak boleh begitu suamiku, kamu adalah pimpinan perusahaan. Bagaimana bisa ambil cuti seenaknya."


Akhirnya Nicho bangun sambil mengucek matanya.


"Ahh.." Raisa merintih


Nicho : "Ada apa istriku?"


Raisa : "Badanku rasanya sakit semua."


Raisa : "Aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir. Kamu mandi saja duluan."


Nicho : "Aku akan memandikanmu."


Raisa : "Hah! Kenapa?"


Nicho : "Karena kamu pasti tidak bisa berjalan sekarang."


Raisa : "Tidak sampai begitu juga suamiku, aku masih sanggup berjalan."


Nicho mengambil piyama di lemari lalu memakainya.

__ADS_1


Raisa : "Sudah ku bilang aku bisa mandi sendiri."


Nicho : "Tapi kamu masih lemah istriku."


Raisa : "Tapi.."


Tanpa persetujuan Raisa pun Nicho membopongnya ke kamar mandi.


Raisa : "Turunkan aku!"


Nicho : "Jangan bawel. Kamu sudah sering memandikanku, sekarang giliranku memandikanmu."


Raisa : "Memangnya kamu tidak lelah, semalaman kita berdiri menyambut para tamu dan kamu menggendongku semalam."


Nicho : "Aku lebih khawatir pada istriku."


Nicho menyiapkan air hangat dan menuangkan sabun cair beraroma bunga mawar. Lalu ia melepas selimut Raisa dan menggendongnya ke dalam bak mandi.


Nicho : "Kamu tidak perlu malu sayang, aku kan sudah jadi suamimu."


Raisa : "Jangan samakan aku denganmu!"


Memang iya, atau perasaan Raisa saja Nicho tersenyum licik. Saat ini muka Raisa benar-benar merah. Nicho mulai menggosok tubuh istrinya dengan lembut. Raisa diam dan tubuhnya kaku tak bergerak.


Nicho : "Sebenarnya aku sudah kepikiran ini sejak lama, aku ingin memandikanmu dari dulu."


Bisakah kamu jangan terlalu jujur! Ternyata sifatnya tetap saja tidak berubah!


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya😘


__ADS_2