Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Pertunangan


__ADS_3

Hari ini, Arthur mengajak Raisa datang ke rumahnya untuk menemui ibunya. Respon ibunya positif, ia sangat menyukai Raisa. Karena sesuai dengan kriterianya untuk di jadikan sebagai menantu.


Suatu kejadian tak terduga, kedua orang tua Arthur datang ke rumah Raisa untuk melamarnya. Tentu saja, Margareth tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan membujuk Alan, ayah Raisa untuk menerima lamaran keluarga Arthur. Mau tidak mau Raisa pun menyetujui keinginan orang tuanya. Meskipun awalnya mereka berdua kebingungan dengan hal ini, tapi Arthur juga tak punya pilihan. Ia harus mengikuti keinginan kedua orang tuanya.


Berita pertunangan Arthur sampai kepada Alex, Arthur juga berniat untuk memberitahu Nicho tapi dia sudah lama tidak berkomunikasi dengan Nicho. Akhirnya dia meminta tolong kepada Alex untuk menyampaikan kabar pertunangannya.


Pada malam harinya, Alex datang ke rumah Nicho. Salah seorang pelayan memintanya untuk menunggu di ruang tamu, tak lama kemudian Nicho turun dari lantai dua. Nicho tampak terkejut dengan kedatangan Alex.


"Alex?"


"Nich."


"Ada apa, tiba-tiba kau datang ke rumahku?"


"Aku tidak tahu harus mulai darimana. Ini, undangan untukmu."


Alex memberikan undangan kepada Nicho.


"Raisa akan bertunangan dengan Arthur! Bagaimana bisa?"


"Awalnya mereka berdua tidak sengaja bertemu di depan restoran. Lalu Arthur minta tolong pada Raisa untuk pura-pura pacaran agar ibunya tidak terus memaksanya menikah. Tapi kejadiannya malah begini."


Nicho terdiam melihat undangan di tangannya.


"Nich, aku akan beritahu anak itu agar dia membatalkan pertunangannya."


"Jangan Alex. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Lagipula Raisa menolakku."


"Nich.."


Alex menepuk pundak Nicho kemudian merangkulnya.


***


Beberapa hari kemudian.


Nicho di dampingi oleh sekretaris Li dalam perjalanan ke sebuah gedung megah tempat di adakannya acara pertunangan Raisa dan Arthur. Mereka tak bicara sepatah katapun. Nicho melemparkan pandangannya keluar jendela. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah ingin keluar dari dadanya yang sejak tadi terus berkecamuk tak bisa tenang. Berulang kali dia melakukan hal yang sama, menarik nafas dalam-dalam lalu dia keluarkan perlahan. Terasa keringat dingin di ujung-ujung jarinya yang semakin basah.


"Tuan muda, anda yakin ingin tetap melanjutkannya?" Li bertanya dengan suara pelan


Pertanyaannya membuat Nicho sedikit tersentak. Rupanya sudah cukup lama dia melamun. Dengan ragu dia mencoba untuk tersenyum.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja."


Akhirnya Nicho sampai di sebuah gedung megah tempat acara pertunangan Raisa berlangsung. Matanya di silaukan oleh gemerlap sinar lampu kristal yang bertaburan menggantung di langit-langit dan beberapa lampu yang tertempel di sudut-sudut lantai ruangan, juga di beberapa sudut panggung.


Aroma parfum mahal bercampur dengan aroma beraneka ragam makanan yang terlihat lezat yang tersusun rapi di atas meja panjang bertaplak kuning cerah yang di letakkan di sepanjang sudut-sudut ruangan.


Dan, Nicho hampir menahan nafas saat ia sadari sebuah kue tar yang sangat besar, tertutup icing putih dengan berhiaskan bunga-bunga sangat indah "James Arthur dan Raisa Angelina"


Nicho segera mengalihkan pandangannya. Seorang pelayan pria, mengenakan dasi kupu-kupu berwarna hitam pada leher kerah bajunya menyambut dengan senyum ramah.


Kemudian Nicho berjalan ke arah panggung, dan kini telah berdiri di atas panggung. Suara-suara yang tadi terdengar hingar bingar, segala macam suara alat musik yang tadi memenuhi ruangan seketika berhenti.


"Selamat malam.. terima kasih untuk semua yang hadir di ruangan ini.. dan selamat berbahagia untuk pasangan yang pada malam ini tengah melangsungkan pertunangannya, Arthur dan Raisa."


Sesaat Nicho berhenti bicara, dia menatap teduh Raisa yang duduk diam di samping Arthur.


"Terkadang, banyak dari kita yang berusaha untuk mengingkari kenangan, menepisnya, menguburnya dalam-dalam, hingga akhirnya melupakannya. Mungkin karena itu adalah kenangan yang menyakitkan. Tapi sebenarnya karena kenangan itulah yang membuat kita mampu bertahan sampai hari ini, karena bersama kenangan selalu ada harapan."


Semua yang hadir terbungkam dalam kata-kata Nicho, dan seakan mereka pun setuju dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Tanpa sengaja, mata Nicho menatap sorot mata yang kosong. Ada banyak kata yang tak sempat di ucapkannya. Namun bibir yang merah itu hanya bisa diam kaku tak bergerak. Kedua matanya menatap lurus ke arah Nicho tanpa ekspresi dari arah tempat duduknya.


"Aku akan mempersembahkan yang spesial, khusus untuk kedua pasangan yang tengah berbahagia malam ini."


Nicho duduk di sebuah kursi dengan tangannya yang sedang memainkan piano. Tidak lama kemudian dia bernyanyi.


(Lagu Korea : oon myung - why)


*sing a song*


Aku sama sekali tidak mengerti tentang cinta


Aku tidak tahu akan datang kepadaku seperti ini


Hatiku tak mau menuruti perintahku saat aku berdiri di hadapan orang yang ku cintai


Andai saja aku tahu akan jadi seperti ini


Seharusnya sejak awal aku tak pernah memulainya


Seperti orang bodoh sekarang

__ADS_1


Aku hanya bisa menyesali semuanya


Aku berharap orang yang ku cintai bukanlah dirimu


Aku benar-benar berharap bukanlah dirimu


Aku telah berkali-kali menipu diriku sendiri dan berkata ini bukanlah cinta


Aku berharap kita hanyalah orang asing yang di pertemukan oleh takdir


Karena setelah kau pergi, rasa sakit itu akan tetap tertinggal dalam hatiku


Tetapi saat aku tahu ini aku tetap serakah


Aku menginginkannya


Kurasa ini sudah salah sejak awal


Aku dengan mudahnya berpikir dan percaya bahwa


Aku pasti bisa membuangmu dengan mudah


Sama seperti aku bisa memanggilmu kapan saja


Sekarang apa yang harus aku lakukan


Dimana letak kesalahannya


Aku seharusnya menghindari jatuh cinta padamu


Tapi aku merindukan segalanya tentangmu


Aku berharap orang yang ku cintai bukanlah dirimu


Aku benar-benar berharap bukanlah dirimu


Sekarang bila bukan dirimu, semuanya tak ada artinya lagi


Sekarang aku tak mampu menahan diriku lagi


Kenyataan bahwa aku harus menghapusmu dari hatiku

__ADS_1


Bahkan hingga hari ini masih menyiksaku


Bersambung


__ADS_2