Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Ancaman


__ADS_3

Marisa mencuri pandang dan mendapati pria itu sedang sibuk dengan laptopnya. Bahkan dahinya berkerut hingga alis tebal itu bertaut. Dia tampan, namun kini Marisa sangat membencinya. Lihat saja nanti jika dirinya tidak dapat kabur, ia akan meracuni pria sombong ini.


Gerak mobil benar-benar berhenti, dalam keadaan mata terpejam, Marisa membuka kunci pintu mobil tersebut perlahan dan secepat kilat ia mendorongnya.


Cklek! Brak!


"Marisa!!!"


Marisa keluar dari mobil begitu saja, tak mempedulikan teriakan pria itu bagai majikan yang memerintah anjingnya agar menurut, namun ia tak peduli.


"Jangan biarkan dia lepas!!" teriak Nicho terdengar frustasi


Berbeda dengan Marisa yang terus memacu langkah kaki jenjangnya berlari melewati jejeran mobil menyala yang terjebak dalam deretan kemacetan. Marisa benar-benar tak memikirkan apapun selain segera menghilang dari sana, lepas dari jeratan maniak gila yang memuakkan. Tapi ada satu hal yang ia lupakan. Saat melewati mobil sport berwarna hitam pintu itu terbuka dan..


Semua berlangsung dengan cepat, Marisa tidak sempat mengelak, dengan tiba-tiba dua bodyguard tuan muda sialan itu merenggutnya kasar, mengangkatnya, lalu membantingnya di pundak seperti karung beras.


"Akhh." teriakan Marisa sebagai penutup aksi pria tersebut. Dalam sekejab kepalanya terasa pening, dipenuhi darah yang naik ke kepala karena posisi kepalanya terbalik mendadak, ia tersadar bahwa kini ia kembali masuk dalam jeratan Nicholas William.


Sepanjang jalan menuju ke mobil, Marisa memberontak dan berteriak seraya memukul-mukul punggung bodyguard itu dan kakinya yang menendang-nendang keras tanpa kenal rasa takut.


"Lepaskan aku bodoh!! Perutku sakit!!" teriak Marisa hingga lelah memukul tubuh bodyguard itu sekeras mungkin, namun tak bereaksi atas pemberontakannya. Marisa benar-benar lelah sekarang.


"Jika ada satu saja video yang masuk di media online, aku akan menuntut kalian atas perekaman tanpa izin."


Percuma berteriak meminta dilepaskan, tidak akan ada yang berani menolongnya, bahkan menontonnya. Semua orang memilih memandang takjub sosok konglomerat William yang melenggang dengan santai menyambut kedatangan Marisa yang berada di panggulan bodyguardnya dalam keadaan meronta dan berteriak-teriak.


Begitu tubuhnya diturunkan, Marisa kembali berlari sekuat tenaga berusaha menjauh tapi tangan besar itu sudah menahannya.


Marisa : "Sialan!!"


Nicho : "Kamu membuat segalanya menjadi gaduh dan rumit."


Marisa : "Kamu yang rumit b*ngsat!! Lepaskan aku dan biarkan aku pulang!!"


Nicho : "Tadinya aku masih ingin berbaik hati, tapi kamu tidak mendengarkan peringatanku. Ikat dia!!"

__ADS_1


Marisa : "Lepaskan aku!! Dasar gila!!"


***


Marisa berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dia? Jika pria itu benar-benar marah padanya kenapa tidak membunuhnya saja sekalian daripada memaksanya untuk ikut bersama seperti ini. Rasanya benar-benar aneh. Mobil itu kembali melaju dan kembali melambat sebelum kemudian benar-benar berhenti.


"Marisa."


Nicho memanggil namanya.


"Aku akan melepas ikatanmu. Tapi kamu harus berjanji akan bersikap tenang dan tidak memberontak seperti tadi. Kita sudah berada di rumahku. Sedikit informasi untukmu, para pengawal disini tidak semudah yang kau lawan tadi. Ibarat singa lapar, mereka menolak beramah tamah. Kusarankan padamu untuk keluar dengan sikap penurut dan tenang. Karena para bodyguardku akan melukaimu jika kamu bertindak bodoh dan aku tak dapat mencegahnya. Bagaimana? Apakah kamu bisa berjanji untuk bersikap baik? Jika kamu setuju, aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau jika tidak bisa, bearti kamu memilih disekap didalam gudang dalam keadaan terikat dan terbungkus karung?"


"Ke kenapa kamu membawaku kemari?"


"Kamu sudah bermain api. Gara-gara kamu istriku kabur dari rumah, apalagi dia sedang hamil."


Akhirnya Nicho membawa Marisa ke dalam rumahnya. Rumah mewah yang didominasi oleh warna putih.


***


Tubuh langsing itu masih setia bergelut di atas selimut. Perempuan itu lelah semalam suntuk memikirkan caranya untuk melarikan diri. Kamar besar yang di dominasi oleh warna putih itu terlihat begitu luas dengan kekacauan di berbagai sisi, kain-kain bahkan handuk yang bergumul di tengah-tengah kamar tersebut terikat menjadi satu. Barang bukti paling sederhana bahwa Marisa belum kunjung menyerah dan masih berniat untuk kabur. 


"Siapkan air hangat dengan aroma mawar dan daun mint kesukaan tuan muda!" titah kepala pelayan pada dua pelayan disana


-


Derap langkah terdengar lantang, semua orang dapat mengerti suasana hati pria itu sedang jauh dari kata baik. Nicho mendengus kasar memasuki kamarnya, entah malaikat apa yang mengendalikan dirinya untuk tidak menghabisi wanita lancang itu. Memejamkan matanya demi meredam amarah, deritan pintu yang terbuka kini disusul oleh suara bantingan keras pintu.


Menelisik jarum jam pada arlojinya, Nicho memilih bangkit dan membuka lemari handuknya disana, mandi akan menjadi satu hal menyenangkan untuk meredam amarahnya. Tidak, ini tidak hanya sekedar rasa sesak karena marah.


Tangan kokohnya bergerak elegan, menggapai pintu lemari baju yang tersemat pada dinding kamar yang didominasi warna putih. Tubuh proporsionalnya yang terbalut handuk sebatas pinggang benar-benar terlihat seksi dan begitu sempurna.


Mata setajam elang itu mengedar pada deretan kemeja berwarna hitam, putih, abu-abu dan beberapa warna kelam lainnya berjejer rapi disana. Meraih kaleng hitam sebagai pembuka, bunyi kocokan spray disusul oleh riuh suara deodorant. Aroma maskulin menguar dan berkolaborasi dengan aroma khas tubuhnya yang jantan. Berpakaian lengkap dengan kemeja putih bersatu padu bersama celana hitam yang terlihat mendominasi penampilannya.


Marisa yang sedari tadi duduk di meja makan kini sudah mulai merasa tercekik bosan. Kepala pelayan berpesan padanya, pertama jangan lupa berdiri saat tuan rumah datang, kedua membungkuk sopan.

__ADS_1


Saat mata dingin itu bertemu tatap dengannya, untuk beberapa detik Marisa terpaku, pria dengan setelan rapi terlihat begitu tampan dan berkharisma. Dehaman pria itu lantas membuat ia berdiri dari duduknya.


"Nich, mau sampai kapan kamu mengurungku di rumah ini?"


"Sampai istriku kembali."


"Sebenarnya apa rencanamu?"


"Kamu harus menjelaskan kebenarannya."


"Jangan harap aku akan menuruti perintahmu." Marisa tersenyum sinis


Tanpa kata Nicho mengulurkan tangannya menarik rambut Marisa, "Ikut aku!" tegasnya menyeret perempuan lancang nan keras kepala yang kini turut berjalan dengan sedikit meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.


"Nich!! Lepaskan aku!!"


Ketika mereka sampai pada pintu berwarna putih, Nicho sontak mendorongnya dan membawa tubuhnya masuk kesana, menyentakkan tangannya hingga Marisa terhempas dan tersungkur ke lantai. Dengan sigap Nicho mendekat dan memberikan sebuah iPad pada asistennya. Matanya tak lepas menatap Marisa yang benar-benar membuat amarahnya memuncak.


"Bagaimana Li?" ucapnya pada sambungan panggilan video lalu beralih pada asistennya, "Nyalakan proyektor."


Pria kurus tinggi menyalakan sebuah proyektor menyuguhkan sebuah pemandangan yang membuat Marisa membelalak tak percaya.


"Apa yang kamu lakukan pada adikku sialan!" Marisa mengguncang tubuh Nicho yang kini menatapnya rendah.


"Jelaskan padanya Lionel."


"Gadis ini akan dikirim ke luar negeri hari ini." ucap Sekretaris Li pada sambungan video call itu dengan senyum licik di wajahnya.


"Cukup Nich, aku mohon lepaskan dia. Dia tidak tahu apa-apa. Aku berjanji akan bersikap patuh dan berhenti mencari masalah denganmu. Tapi aku mohon lepaskan dia."


"Berlutut dan bersujudlah, aku tak punya banyak waktu." ucap Nicho menatap arlojinya


"Maafkan kesalahan saya tuan, mohon lepaskan adikku dan jangan libatkan siapapun lagi. Saya berjanji sepenuhnya menurut pada anda."


Nicho melangkah pergi begitu saja meninggalkan Marisa yang tengah berlutut. Marisa kini menyadari bahwa dirinya berada pada kondisi yang sangat buruk. Nicholas William bukanlah orang yang bisa ia anggap remeh dan permainkan begitu saja. Kini nasib semua orang yang ia sayangi seakan bergantung pada tingkahnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2