
"Raisa, kenapa kamu terus datang di ingatanku. Katakan, aku harus bagaimana. Agar bisa membuang jauh-jauh perasaan ini. Kenapa harus kamu Raisa. Laki-laki itu, ingin sekali aku membunuhnya. Beraninya dia menyentuhmu."
Sudah lewat tengah malam, entah berapa teguk Steve minum alkohol yang jelas saat ini benar-benar mabuk lalu tertidur di klub malam. Steve pulang pada pagi hari dengan keadaan rambut acak-acakan. Setiba di rumah, dia di sambut oleh ibunya yang tampak khawatir.
"Steve, kamu kemana saja semalam? Kenapa tidak pulang?"
"Kepalaku pusing. Aku mau ke kamar."
"Steve, kamu mabuk?"
Steve bergeming
"Steve, ibu sudah pernah memperingatkanmu jangan minum-minum lagi. Tapi kenapa kamu melakukannya lagi Steve?"
"Ibu, aku merasa pusing sekarang, nanti saja kita bicara."
Steve tak menghiraukan ibunya, ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Saat melewati kamar Raisa, ia memberanikan diri membuka pintunya. Ia melihat Raisa yang sedang bermain ponsel. Mata Steve berkaca-kaca lalu kembali menutup pintu.
Apa aku egois bila aku menginginkanmu. Aku ingin kamu jadi milikku Raisa.
batinnya sambil bersandar di samping pintu
Tiba-tiba pintu terbuka, Raisa mendapati Steve yang sedang berdiri di depan kamarnya.
"Kakak?"
Steve menatap Raisa dalam kemudian memeluknya dengan erat
"Kakak kenapa tiba-tiba.."
"Raisa, aku..."
__ADS_1
Steve tak menghiraukan pertanyaan Raisa, pelukannya semakin erat hingga membuat Raisa sulit bernafas.
"Kak, nafasku sesak."
Steve akhirnya melepas pelukannya
"Maafkan aku."
Setelah itu ia pergi ke kamarnya
"Sebenarnya kakak kenapa."
Didalam kamarnya, Steve berulang kali mengacak rambutnya. Rasa bersalah, sedih, patah hati, semua menjadi satu.
"Rasanya ingin sekali aku membenturkan kepalaku ke dinding sekarang. Lama-lama aku tidak bisa mengendalikan diriku. Raisa, katakan, apa yang harus aku lakukan."
***
Raisa menyapu rumah Nicho, sesaat kemudian sebuah mobil sampai di halaman. Seorang pelayan meminta Raisa untuk menyambutnya.
Laki-laki aneh itu akhirnya pulang juga. Tapi kenapa cuma aku yang harus menyambutnya.
Walaupun merasa kesal, tapi Raisa tetap menurut. Sekretaris Li keluar lalu bergegas membuka pintu belakang.
"Raisa, mendekatlah ke arah mobil." kata pelayan itu
"Apa! Aku?" Raisa menunjuk dirinya, pelayan itu menganggukkan kepala."
Raisa berjalan mendekat ke arah majikannya, tapi dia hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa.
"Kamu datang menyambutku." tangan Nicho menyentuh dagu Raisa, membuatnya mendongak. Namun segera ia mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Iya tuan."
Raisa mengikuti langkah kaki Nicho dan Sekretaris Li.
***
"Nona, bisakah anda mengganti pakaian tuan muda?"
Raisa yang sedang melepaskan sepatu Nicho tersentak. Dia menatap Li. Bagaimana dia bisa menyuruhnya mengganti pakaian laki-laki angkuh ini.
"Saya ambilkan bajunya sebentar, tapi tolong Sekretaris Li saja yang melakukan."
"Kamu berani melawan?" Nicho menatap Raisa dengan tajam
"Baik tuan." Raisa terkejut
Li membungkukan badannya sebelum menghilang di balik pintu yang terbuka. Kemudian Raisa menuju ruang ganti bersama Nicho. Dia mulai membantu memakaikan setelan jas ke tubuhnya.
"Apa kamu marah?"
Raisa terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari bibirnya
"Saya.."
"Tapi jangan harap aku akan minta maaf."
Raisa semakin terkejut. Setelah selesai Nicho keluar dari ruang ganti. Sedangkan Raisa masih berdiri di tempatnya.
Bagaimana laki-laki itu bisa menyeramkan sekaligus menyebalkan begini.
"Hei buatkan aku kopi!" teriak Nicho dari luar ruangan
__ADS_1
"Iya tuan!"
Bersambung