
Di rumah majikannya, Raisa terus merasa gelisah memikirkan peristiwa yang akan terjadi hari ini. Hingga akhirnya waktu berganti sore, Raisa semakin gelisah. Saat ini dia menunggu kepulangan Nicho di ruang tamu dengan raut cemas.
Semoga kakak mengurungkan niatnya. Tapi kelihatannya kakak marah sekali. Sejak aku mengenalnya, semalam adalah pertama kalinya dia membentakku. Dia sangat seram kalau sedang marah. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Apalagi aku tidak tahu tuan itu orangnya bagaimana. Suasana hatinya selalu berubah-ubah. Aku tidak bisa menebak kepribadian laki-laki itu.
Selang beberapa menit, Nicho pun tiba di rumah. Saat ia melangkah masuk melewati pintu, Raisa sangat syok.
"Ada apa? Kamu seperti melihat hantu."
Para pelayan juga menyambut kepulangan Nicho lalu ia naik ke lantai atas, jantung Raisa semakin berdetak kencang.
***
Sore pun berganti malam.
Sebuah ferrari merah masuk melalui gerbang. Steve akhirnya datang dan kini di sambut oleh salah satu pelayan di ruang tamu. Ia di minta untuk duduk tapi ia tetap berdiri. Kemudian sang pelayan menuju kamar Nicho lalu mengetuk pintu. Nicho pun membuka pintunya.
"Ada apa?"
"Ada seseorang yang mencari anda tuan." jawab pelayannya sambil menunduk
Setelah itu Nicho pun turun, Steve memandangnya dengan sorot tajam dari tempat ia berdiri.
Nicho : "Ada perlu apa ya? Sepertinya aku belum pernah bertemu denganmu."
Steve : "Aku kakak tiri Raisa."
Nicho membelalak
__ADS_1
Nicho : "Kakak tiri Raisa, lantas apa tujuanmu datang kesini?"
Steve : "Aku ingin kau membatalkan perjanjian itu."
Nicho : "Apa? membatalkan. Kenapa aku harus melakukannya?"
Steve : "Aku akan melunasi hutang ayahku. Jadi katakan, berapa uang yang harus ku berikan?"
Nicho : "Tunggu. Kau bisa melunasi hutang ayahmu, tapi kenapa kau tidak menghentikan rencana ayahmu saat menyerahkan putrinya padaku?"
Steve : "Karena aku tidak tahu kalau adikku akan di serahkan pada orang sepertimu! yang ayah katakan padaku, majikannya adalah pria tua, botak dan punya tiga istri."
Nicho : "Haa, bercanda ya?"
Steve : "Sekarang cepat katakan, berapa hutang ayahku?"
Steve menatap tajam sambil mengepalkan tangannya, Nicho menyadari hal itu.
Nicho : "Sekarang kalau sudah tidak ada lagi yang mau di bicarakan, silahkan keluar."
Steve : "Siapa juga yang mau berlama-lama disini!"
Steve melangkahkan kakinya, langkahnya terhenti saat ia menoleh melihat Raisa yang kini berada di lantai atas dan terlihat khawatir.
Setelah Steve pergi, Nicho berdiri terdiam di ruang tamu. Entah apa yang di rasakan pria itu sekarang. Sikapnya sering terlihat tenang, tapi tak ada yang tahu isi hati pria itu.
"RAISA!!"
__ADS_1
Raisa yang masih berdiri di lantai atas terkejut seketika mendengar Nicho berteriak menyebut namanya
"RAISA!!"
Raisa pun segera turun dan mendatangi Nicho.
Raisa : "Iya tuan, ada apa?"
Nicho : "Sekarang jelaskan padaku, kenapa kakakmu bisa datang kesini."
Raisa : "Hmm, hmm."
Nicho : "Jangan sampai aku mengulangi pertanyaanku."
Raisa : "Semalam kakak tidak sengaja menemukan surat perjanjian itu, ayah lupa menyimpannya."
Nicho : "Oh begitu ya."
Raisa : "Tolong maafkan sikap kakak saya tadi tuan. Atas nama kakak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
Nicho : "Maaf? Kakakmu itu menyebalkan sekali tahu."
Raisa terdiam dan menunduk
Terlihat, Nicho sedang mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.
"Hallo, datanglah ke rumahku secepatnya."
__ADS_1
Bersambung