
Nicho : "Jadi kamu setuju kan?"
Raisa : "Tentu tuan, tapi.."
Nicho : "Tapi apa?"
Raisa : "Saya tidak punya baju bagus."
Nicho : "Soal itu tidak perlu khawatir, ayo pergi."
Raisa : "Kemana?"
Nicho : "Jangan banyak tanya, ikut saja."
Nicho mengajak Raisa pergi ke suatu tempat di dampingi oleh sekretaris Li. Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju, sebuah Mall mewah. Nicho turun bersama Raisa, sekretaris Li menunggu di dalam mobil.
Raisa : "Tuan, sebenarnya kita mau apa kesini?"
Nicho : "Tentu saja memilih baju untukmu. Memangnya kamu nanti datang kesana mau berpakaian seperti ini?"
Raisa memandang dirinya sendiri, pakaian yang selama ini ia kenakan memang sederhana. Karena ibu tirinya tidak pernah memberinya fasilitas untuk memanjakan dirinya sendiri. Jangankan untuk merawat diri, ia saja tak di beri uang saku. Jika ada keperluan, ia harus minta ijin dulu pada ibu tirinya.
Setelah cukup lama berjalan di dalam Mall, Nicho mengajak Raisa ke tempat butik dan juga salon.
__ADS_1
"Selamat datang tuan.. ada yang bisa kami carikan?" sambut pelayan butik dan juga salon
Viola
"Pilihkan dia baju yang sangat cantik di butik ini, dan juga rias wajahnya." perintah Nicho dan Raisa pun langsung di hampiri oleh para pelayannya
"Nona, silahkan ikuti saya." ucap pelayannya dan menarik tangan Raisa agar mengikutinya
Raisa senang melihat dress-dress cantik di butik itu. Beberapa saat kemudian setelah mencoba banyak pakaian akhirnya Raisa menemukan satu yang cocok dengan gayanya.
Mengapa aku merasa sedang syuting drama? Apakah ini nyata? Ataukah aku sedang bermimpi berada di negeri dongeng?
Setelah Raisa mengenakan dress yang di pilihnya, ia kemudian di rias. Raisa mengikuti pelayan salon dengan patuh, setelah itu ia duduk di depan cermin yang sangat terang. Raisa kaget melihat wajahnya sendiri yang begitu polos tanpa make up.
"Gaun yang nona pakai sungguh indah, aku sudah memburu gaun ini dari kemarin tapi stok sangat terbatas dan dompetku tidak mampu membayarnya." kata Viola salah satu pelayan salon yang di percaya mendandani Raisa
Mendengar dan melihat ekspresi Viola dari cermin membuat Raisa bingung harus berkata apa ia hanya tersenyum tipis
"Baiklah, aku akan mulai merias wajah nona dulu, supaya tidak terlihat pucat begini. Biar tuan Nicho semakin tergila-gila pada nona, hehe."
Viola mempersiapkan semua perlengkapan kosmetik yang berada diatas meja. Mendengar perkataan Viola, Raisa tersenyum lagi dan berpikir kalau Nicholas kan memang sudah gila, jadi tidak perlu susah payah membuatnya menjadi gila lagi.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Viola meminta Raisa duduk dengan tenang dan mulai meriasnya. Beberapa kali Viola menyapukan bedak dan perona pipi pada wajah Raisa. Terakhir saat ia mengoleskan lipstik, Viola langsung melontarkan pujian.
"Nona, ternyata nona cantik sekali kalau sudah dandan he.."
Pujian itu membuat Raisa mengerjapkan mata menatap cermin menikmati bayangannya terpantul pada layar cermin
Oh astaga, benarkah gadis cantik di cermin itu adalah aku?
batin Raisa sambil tersenyum
"Nampaknya ada yang kurang." Viola mengangkat dagu Raisa sedikit. Setelah itu ia menyapukan sikat kecil untuk merapikan ujung alis Raisa, gerakan jemari Viola begitu lincah.
"Terima kasih sudah mendandaniku." kata Raisa sambil berdiri merapikan pinggang gaun yang sedikit kusut
Viola tersenyum dan mengangguk, setelah itu ia merapikan kembali kosmetik yang telah ia gunakan. Lalu mengantar Raisa berjalan keluar menuju mobil mewah, disana Nicho sudah menunggu. Setelah selesai dengan tugasnya Viola kembali ke dalam.
Sedang dari dalam mobil, Nicho tidak bisa memalingkan wajahnya dari Raisa yang terlihat manis dan cantik.
"Sudah ku duga, itik yang buruk rupa bisa berubah menjadi angsa kalau sudah di dandani."
"Terima kasih tuan, saya tahu ada pujian tersembunyi di balik ucapan anda." balas Raisa dengan tersenyum
Sial! Gadis ini
__ADS_1
Apa kau brengsek! Kau pasti terkejut sekali kan dengan ucapanku? haha.
Bersambung