Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Ikatan Yang Putus


__ADS_3

Keesokan harinya


Aku tahu hubungan kami setelah ini akan menjadi renggang. Tapi biarlah begini, mungkin perlahan perasaan dalam hatiku ini akan menghilang jika aku menjauh darinya. Raisa, maaf. Aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu.


Steve yang sedang berdiri di lantai bawah melihat Raisa menuruni tangga, suasana sangat canggung. Dia pun segera berlalu.


***


Entah mengapa hari ini rasanya aku ingin berangkat lebih pagi. Aku ingin melihatnya. Tapi, kenapa juga aku ingin melihat laki-laki itu. Kenapa aku seperti ini?


Raisa menuju kamarnya untuk ganti baju memakai baju pelayan. Setelah itu dia menuju lantai dua, tanpa sadar dia melangkahkan kakinya ke depan kamar Nicho.


Kenapa aku kesini. Aku kan harusnya mengepel lantai bawah.


Raisa tersadar dari lamunannya saat Nicho membuka pintu kamarnya.


"T tuan."


Nicho tak menghiraukan sapaan Raisa dan pergi begitu saja ke lantai bawah.


Dia.. mengabaikanku.


***


1 minggu kemudian


Raisa melihat Nicho yang sedang duduk di sofa ruang tamu sembari menikmati kopinya. Tapi kali ini bukan kopi buatan Raisa, tapi buatan pelayan yang lain. Sejak makan malam itu, sikap Nicho berubah. Dia tidak pernah lagi menyapa Raisa, menjahilinya, dan tidak pernah memanggilnya untuk membuatkan kopi untuknya. Dan satu hal yang sering dia lakukan, yaitu meminta Raisa menyiapkan air saat dia pulang kantor.

__ADS_1


Hingga 2 bulan kemudian


Raisa tampak merenung di dalam kamarnya. Tanpa sadar air mata berlinang membasahi pipinya.


"Kenapa, dia tidak pernah lagi memanggilku. Aku lebih suka sikapnya yang menyebalkan dari pada yang sekarang. Seakan-akan dia menganggapku tidak ada. Aku merasa dia seperti orang asing. Aku merasa tidak berguna lagi disini."


Raisa mengusap air matanya lalu bergegas mencari Nicho yang sekarang berada di ruang tamu sambil menggunakan laptopnya. Raisa melangkah pelan-pelan dengan menunduk.


"Tuan."


"Hmm."


"Bolehkah saya bertanya?"


"Tanya saja, cepat. Aku sedang sibuk."


Mata Nicho melotot, spontan dia meletakkan laptopnya di meja. Lalu berdiri menghadap Raisa.


"Katakan sekali lagi. Tadi kamu tanya apa?"


"Emm, berapa lama saya bekerja untuk anda?"


"Kamu baru dua bulan bekerja di rumahku. Sekarang kamu sudah tanya bekerja untukku berapa lama."


"Ma maafkan saya tuan."


"Kenapa memangnya? Apa karena kamu sudah bosan? Sudah muak melihat wajahku? Wajah lelaki brengsek sepertiku? Baik. Tunggu disini."

__ADS_1


Nicho bergegas ke lantai dua, sementara Raisa bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan. Kemudian Nicho turun dengan membawa selembar kertas.


"Kamu ingin berhenti? Sekarang lihatlah."


Nicho menyobek surat perjanjian antara dirinya dengan ayah Raisa menjadi potongan kecil-kecil lalu melemparkannya di depan Raisa.


Raisa terkejut dan diam mematung.


"Kamu puas?"


Nicho berbalik badan membelakangi Raisa.


"Sekarang pergilah. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku."


Namun Raisa masih diam mematung


"Tunggu apa lagi. Pergilah. Kamu sudah bebas sekarang. PERGIII..!!!"


Raisa tersentak diapun bergegas ke kamarnya, mengganti pakaian dan mengambil tasnya. Dia meletakkan seragamnya di tempat tidur.


Kenapa dadaku sesak. Bukankah harusnya aku senang. Sekarang aku sudah bebas. Laki-laki itu sudah tidak akan menggangguku lagi. Tapi, kenapa hatiku sakit sekali.


Raisa berjalan ke luar, dia melihat Nicholas sudah tidak ada lagi di ruang tamu.


Raisa kembali menghentikan langkahnya saat berdiri di halaman. Dia menatap rumah tempat dia bekerja selama ini, rumah seseorang yang membuatnya kehilangan harga diri. Kenapa sekarang justru dia merasa sesak saat dia sudah berhasil lepas dari ikatan itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2