Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Pendekatan


__ADS_3

Alex : "Hari ini dia tidak datang?"


Jimmy : "Iya, sudah tiga hari. Aku jadi khawatir. Masalahnya anak itu sangat disiplin dan pekerja keras. Semisal dia sakit, bukankah dia bisa minta izin. Kan dia dekat dengan Selly."


Alex : "Tidak salah lagi, pasti ada hubungannya dengan si brengs*k itu."


Jimmy : "Lalu apa kau akan mencarinya?"


Alex : "Tidak, di antara kami tidak ada hubungan apa-apa. Dan jika seandainya Raisa kembali bekerja, kau jangan tanyakan alasannya kenapa dia tidak datang."


Jimmy : "Iya, aku mengerti."


Alex yang saat ini sedang duduk bersantai bersama Jimmy, ia menoleh ke arah meja pelanggan yang baru saja datang.


Alex : "Hei Jimmy."


Jimmy : "Ada apa?"


Alex : "Kau lihat gadis yang ada disana?"


Jimmy pun mengikuti arah sorot mata Alex


Alex : "Dia manis sekali, tapi sepertinya aku pernah melihatnya. Hmm aku kesana dulu ya?"


Jimmy : "Kau mulai lagi."


Alex : "Aku sudah lama tidak melakukan ini sejak pertunangan itu. Sekarang sudah saatnya memulai hidup baru. Aku tidak mau terus mengenang masa lalu."


Jimmy : "Akhirnya kau sadar juga."


Alex melangkah menuju ke arah meja pelanggan yang ia maksud tadi



"Hallo nona.. sendirian saja. Bolehkah aku duduk disini?"


"Silahkan."


"Dimana temanmu?"


"Aku datang sendirian."


"Aku kira nona sedang menunggu seseorang. Bolehkah aku berkenalan dengan nona?"


Gadis itu tertawa kecil


"Kenapa nona tertawa? Apa ada yang lucu?"


"Kak Alex."


"Nona tahu namaku."


"Tentu saja. Apa kau lupa, aku kan adik kelasmu. Kita kuliah di universitas yang sama."


"Masa sih?"


"Coba kau ingat dulu."


Alex merenung sesaat


"Oh iya, aku ingat. Sofia?"


"Akhirnya kau ingat juga."


"Aku tidak tahu kalau kamu adik kelasku dulu. Karena sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu Sofi?"


"Baik kak, kakak sendiri?"

__ADS_1


"Aku juga baik."


"Lalu kakak sedang apa disini?"


"Ini adalah restoranku."


"Wah, ternyata ini restoran kak Alex ya."


"Dari dulu sampai sekarang kamu sangat manis Sofi, pasti kamu sudah punya pacar ya?"


"Aku.. jomblo kak."


"Apa! jomblo? Mana mungkin?"


"Aku masih malas punya pacar lagi, karena pacarku dulu selingkuh di belakangku. Aku masih kesal rasanya."


"Cowok itu bodoh sekali menduakan kamu Sofi, padahal dulu banyak sekali yang ingin jadi pacar kamu tapi sangat sulit. Malah si brengs*k itu yang berhasil merebut hatimu."


"Apa?"


"Tidak, bukan apa-apa."


"Apa kakak masih dekat dengan kak Nicho?"


Aku tidak mungkin menceritakan semuanya pada Sofi.


"Kami sekarang sama-sama sibuk, jadi sudah jarang berkomunikasi."


"Oh.."


"Sofi, kalau aku boleh tahu. Awalnya kamu bagaimana bisa pacaran dengan dia?"


"Sebenarnya kak Nicho tidak pernah menembakku. Tapi, aku yang mengejar-ngejar kak Nicho."


"Apa!"


Flashback on


"Kak Nicho.." Sofia menghampiri Nicho yang sedang membaca di perpustakaan


"Sofi?"


"Bolehkah aku duduk di sebelah kakak?"


"Duduklah."


"Aku sangat menyukai kakak, kakak mau tidak jadi pacarku?"


"Sofi, kamu sudah seperti adikku sendiri."


"Tidak apa-apa. Asalkan kakak mau menerimaku menjadi pacar kakak, aku sangat bahagia."


Nicho menutup bukunya


"Baiklah. Tapi, hubungan kita tidak lebih dari sekedar pegangan tangan dan mencium kening."


"Iya kak aku tidak masalah."


"Dasar anak keras kepala."


Nicho mengusap lembut ujung kepala Sofia


Flashback off


"Jadi begitu ceritanya. Hubungan kami hanya bertahan selama beberapa bulan setelah itu kak Nicho lulus."


"Tapi aku yakin kamu akan mendapat yang lebih baik. Masih ada banyak laki-laki di luar sana."

__ADS_1


Contohnya aku


Alex dan Sofia tersenyum sambil mencuri-curi pandang


***


Sementara di rumah Nicholas, Raisa mondar mandir di ruang tamu. Ia membuka tirai jendela, terlihat ada empat orang pria sedang berjaga di luar pintu.


"Kalau begini bagaimana aku bisa kabur."


Tak lama kemudian mobil Nicho sampai di halaman. Kemudian ia masuk ke dalam rumah. Nicho mencari Raisa ke kamarnya tapi tidak ada.


"Eva, tolong aku. Aku pinjam ponselmu ya, aku mau menelfon kakakku."


"Maafkan aku Raisa, bukannya aku tidak mau membantumu. Tapi aku takut."


"Eva, please.."


Terdengar Nicho berteriak memanggil namanya. Raisa pun segera keluar dari dapur lalu menghampiri Nicho yang sedang duduk di meja makan.


"RAISA!!"


"Iya tuan."


"Duduklah, waktunya makan malam."


Kepala pelayan menarik kursi untuk Raisa.


"Tuan, kapan kau akan.."


"Makan dulu."


Selesai menghabiskan makan malam, Nicho mengajak Raisa ke ruang kerjanya.


"Tuan, kenapa kau mengajakku kemari?"


"Aku ingin kamu menemaniku."


"Kalau begitu aku akan ambil kursi."


"Tidak perlu. Duduklah di pangkuanku."


"Apa!"


"Kalau mau mengeluh nanti saja. Sekarang duduklah."


Raisa berusaha mengontrol emosinya, ia pun tidak punya pilihan. Akhirnya mendudukkan dirinya di pangkuan Nicholas yang sedang mengetik komputer.


"Tuan, aku tidak mungkin kan tinggal disini selamanya."


"Kalau mau aku tidak masalah."


"Tapi aku bosan jika tidak melakukan apapun. Kau menyita ponselku. Bahkan internet pun tidak bisa di akses. Percuma kau meninggalkan laptop untukku."


"Aku melakukannya agar kamu tidak bisa kabur."


"Kau sangat jahat."


"Aku anggap itu sebagai pujian."


"Aku mau turun."


"Raisa, jangan bergerak. Kamu membuatku tidak fokus."


Dia tidak tahu apa rasanya jantungku mau meledak sekarang


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2