
Tubuh seksi berbalut dress merah itu menggeliat dalam tidurnya, tidak ini bukan tidur lelap yang menyenangkan. Seketika sebuah kejadian sebelum matanya terpejam terputar ulang, Marisa tersentak bangun dari tidurnya.
Dirinya berada di tengah-tengah ranjang besar, didalam ruangan kamar yang gelap, hanya terdapat bias cahaya dari luar yang menembus dinding kaca itu, seluruh ruangan ini di dominasi oleh kaca yang menyuguhkan pemandangan ibukota dari atas.
Dahinya berkerut saat menangkap siluet tubuh pria berdiri diam menatap keluar, beringsut sedikit ke sudut ranjang seraya memeluk erat selimut yang membalut tubuhnya, Marisa berusaha waspada terhadap pria asing yang membelakanginya itu.
"Si siapa kamu? Dimana ini?" tanya Marisa bersusah payah menghilangkan getaran takut yang ikut keluar bersama suaranya.
Pria itu tetap bergeming, bahkan tak menunjukkan pergerakan yang berarti. Menghela nafas lelah, Marisa berdiri dari duduknya, melompat turun dari ranjang, dan menghampiri pria tersebut.
Menepuk punggung pria itu kasar, "Hei tuli! Kamu siapa dan dimana ini!" tanya Marisa lantang.
Nicho menghela nafas lelah, membalik tubuhnya menghadap gadis itu, menghujamnya dengan tatapan kelam.
"Ka kamu?" Marisa melangkah mundur, Nicho hanya berkedip datar.
"Mengapa aku bisa berada disini?" Marisa kembali memekik lantang.
Nicho maju selangkah, Marisa kembali melangkah mundur, saat Nicho kembali melangkah lebih lebar, Marisa melangkah mundur hingga terduduk di ranjang saat betisnya menubruk sisi ranjang.
Marisa kembali tercekat saat Nicho kini menaikkan lututnya pada pinggiran ranjang, seraya mendorong tubuhnya hingga berbaring. "A apa yang ingin kamu lakukan?" Marisa menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dada.
"Berhenti berteriak dan bertanya." tegas Nicho tajam
"Aku harus tahu aku dimana dan aku harus pulang!" Marisa berusaha menolak tubuh Nicho
__ADS_1
Nicho memejamkan matanya meredam amarah, mencekik leher gadis lancang tersebut.
"Akhh. Lep.. Lepaskan.. Akhh." Marisa berusaha melepaskan cekikan di lehernya yang semakin kuat. Kini dirinya hanya dapat memejamkan matanya pasrah saat ia merasa oksigen tak dapat lagi ia hirup.
"Berhenti berteriak dan bersikaplah hormat padaku. Jika kamu berani melawan, kamu akan mati ditanganku."
Desis Nicho seraya melepaskan cekikannya, membuat Marisa kembali membuka mata. Matanya spontan berkedip saat melihat pria itu berjalan menjauh, keluar dari pintu disudut sana tanpa kata.
Apa yang telah terjadi?
Ada apa ini?
Bisakah seseorang menjelaskan padaku ini dimana?
"Kamu jangan macam-macam Marisa"
Pesan Vera terputar di ingatannya, tapi apa yang ia lakukan kemarin, dirinya malah menggoda CEO tampan itu. Marisa sangat menyesal memberikan tatapan menggodanya pada pria sialan itu. Jelas saja pria itu tertarik dengan wanita secantik dirinya, kekeh Marisa penuh percaya diri dengan pikirannya.
"Tuan Nicho berterima kasih banyak karena kamu telah membawakan wanita yang dia inginkan."
Perkataan sekretaris misterius itupun turut berputar di kepalanya, wanita yang dia inginkan?
"Tuhan! Kepalaku rasanya ingin pecah!"
Ctak! Krieeet!...
__ADS_1
Pintu besar itu terbuka, Marisa beringsut ke sudut ranjang, mengantisipasi terjadi hal buruk padanya. Pria dengan setelan jas hitam yang ia temui di pesta tadi membungkuk sopan padanya. Senyumnya itu entah apa artinya, yang jelas Marisa membenci senyuman licik tersebut.
"Nona Marisa sekarang waktunya kita pulang." ucapnya penuh kesopanan
Marisa bersedekap, "Aku bukan nona mu! Kita? Pulang saja sendiri ke neraka." ucapnya ketus seraya berdiri meninggalkan ranjang berjalan santai keluar dari kamar tersebut. Kepalanya masih berputar menyusun rencana untuk lari, sampai pria itu bersuara dan mengingatkannya dengan sebuah moto awal saat mereka bertemu.
"Anjing yang baik harus patuh pada majikannya." ucap pria itu penuh peringatan.
Marisa mundur selangkah, mengangkat tangan kanannya melengkung seperti anjing. "Tuan anjing yang baik selalu jalan lebih dahulu dan membersihkan kotoran anjingnya." cibirnya seraya menatap mata pria itu penuh tantangan, meskipun sebenarnya terselip rasa takut.
"Baiklah, walaupun aku bukan tuanmu, mari ikuti langkahku nona." Marisa mendengus mengikuti langkah pria itu, tidak kini dirinya kesal saat menyadari ada dua bodyguard tinggi besar mengawal langkah mereka. Bagaimana caranya lari?
"Hei kemana temanmu tadi? Apakah tangannya patah?" kelakar Marisa terkekeh geli. Kedua bodyguard itu tak menanggapinya.
"Cih! Kalian semua benar-benar manusia robot! Kalian takut dengan si bodoh pemaksa itu?" tanya Marisa berbuah meneguk ludahnya sendiri mengingat pria itu mencekik lehernya.
Jalan menuju keluar Penthouse Hotel mewah tersebut terasa sangat panjang, mereka sudah dua kali keluar masuk lift dan sekarang lift terbuka. Marisa menyadari mereka berada di basement parkir hotel itu dengan sebuah mobil coupe empat pintu berlambang Mercedes datang menyambut.
"Silahkan masuk." ucap pria itu membuka pintu mobil untuknya, Marisa menurut, dan pria itu kembali bersuara. "Ini pertama kali tuan Nicho membawa peliharaannya ke rumah."
"Apa peduliku sialan!" Marisa terkejut melihat pria sekretaris itu memasuki mobil lain dan disaat yang bersamaan, pintu mobil di sebelah sana terbuka, pria menyeramkan itu turut masuk langsung memilih duduk di sebelahnya.
Marisa memilih bersikap baik, seraya memikirkan cara untuk kabur. Matanya terus menatap ke arah jalanan karena tak berani menatap Nicho di sebelahnya, entah mengapa aura pria ini membuat persendian tubuhnya serasa sakit semua.
Bersambung
__ADS_1