Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Beraksi


__ADS_3

Nicho membanting setir menuju 'Xander Resto', salah satu restoran sahabatnya. Begitu mobil memasuki area parkir, dengan cepat dia melangkahkan kakinya masuk kesana untuk menemui seseorang. Karena itu Nicho terburu-buru datang ke restoran ini selagi baru buka dan belum ada pengunjung yang datang.


"Selamat datang tuan." sambut seorang kepala waitress


"Apa kamu yang menelfonku?" tanya Nicho


"Benar tuan. Perkenalkan, nama saya Selly, teman Raisa."


"Lalu dimana istriku sekarang?"


"Tuan jangan khawatir, dia menginap di rumah saya. Saat ini dia sedang bersantai di rumah."


"Syukurlah."


"Tapi.."


"Tapi apa?"


"Raisa berencana untuk meninggalkan kota ini dan merawat calon bayinya sendirian."


"Apa!!" Nicho membelalak


"Karena itu saya menelfon anda tuan, saya mendapat nomor anda dari ponsel Raisa saat dia tidur."


"Raisa, bagaimana bisa kamu tega mau pergi meninggalkanku." Nicho mengusap ujung kepalanya frustasi


"Kalau begitu sekarang tolong beritahu aku alamat rumahmu, aku akan menyusulnya."


"Jangan dulu tuan, saat ini emosinya belum stabil."


"Ya sudah, aku akan menjemputnya nanti malam. Terima kasih sudah menjaga istriku."


***


Malam hari


Raisa duduk di ruang tamu bersama temannya.


Selly : "Raisa, sebaiknya kamu pulang ya. Tidak baik kamu pergi dari rumah seperti ini, apalagi kamu sudah bersuami."


Raisa : "Rasanya aku menyesal menikah dengannya. Janjinya saja yang manis, nyatanya apa? Hiks.."


Selly : "Tapi kan belum tentu dia melakukannya, bisa saja wanita itu yang mengaku-ngaku. Apalagi suamimu sangat tampan."

__ADS_1


Raisa : "Rasanya perkataanmu semakin membuat aku sedih Selly, karena dia tampan pasti banyak yang menggodanya kan?"


Selly : "Maafkan aku Raisa."


Raisa : "Aku ingin makan manisan."


Selly : "Biar aku yang buat, kebetulan aku tadi beli mangga. Sebentar ya?"


Raisa terdiam di ruang tamu.


***


Setengah jam kemudian mobil Nicho datang. Dia memencet bel, tak lama kemudian Selly membuka pintu.


"Tuan? Mari, silahkan masuk."


Selly mempersilahkan Nicho duduk di ruang tamu, segera dia mencari Raisa di kamar tamu tapi nihil.


"Tuan!!"


"Ada apa?"


"Raisa.. dia pergi."


"Dia pasti belum jauh, pasti masih di sekitar sini. Kamu dimana sayang?"


Nicho melajukan mobilnya pelan-pelan sembari menatap sekeliling. Nicho sudah hampir frustasi, entah berapa lama dia menelusuri jalanan kota namun tak juga menemukan istrinya.


Nicho menghentikan mobilnya, terdengar suara teriakan perempuan meminta tolong. Dia melihat seorang wanita didekati empat preman. Nicho segera keluar dari mobil.


"Hallo cantik.."


"Mau kemana cantik?"


"Malam-malam kok jalan sendirian."


"Ayo ikut kami, kami akan mengajakmu bersenang-senang."


"Mau apa kalian!! Jangan mendekat!!" Raisa melangkah mundur.


Baru saja salah seorang dari mereka menyentuh pipi Raisa..


"Beraninya tangan kotor itu menyentuh istriku!!" Nicho muncul dari belakang mereka.

__ADS_1


Spontan mereka membalik badan menghadap ke arahnya.


"Jadi kamu suaminya?"


"Istrimu sangat cantik."


"Kami ingin bermain dengannya."


"Lagipula hanya satu malam."


"HAHAHA" tawa keempat pria itu bersamaan


"Kalian mau mati?" ancam Nicho dengan tatapan mata menusuk.


Ke empat preman itu langsung maju menyerang Nicho. Mereka saling memukul, menendang, dan saling menghindar. Satu per satu berhasil Nicho lumpuhkan. Hingga akhirnya dua preman itu memegang lengan Nicho dari arah kanan dan kiri, satu preman lain hendak memukulnya dengan cepat Nicho menendang preman itu. Nicho dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari dua preman yang menahan lengannya, kemudian menyikut mereka dan menendang mereka hingga jatuh tersungkur.


"Sepertinya tuan tampan ini tidak takut wajahnya kami rusak."


Nafas Nicho terengah-engah dengan tubuh yang mulai sempoyongan. Keempat preman itu segera mengeluarkan pisau tajam. Nicho masih bersikap tenang, bahkan melihat empat pisau yang di acungkan padanya sama sekali tidak membuat gentar.


"Suamiku!! Cepat lari ke mobil!!"


"Tenanglah istriku sayang. Diam saja disitu sambil menonton suamimu ini beraksi."


Raisa merasa khawatir sekaligus kesal, karena dalam keadaan seperti ini suaminya masih sempat bercanda. Keahlian Nicho dalam beladiri sangat hebat. Karena di masa sekolah dia menjadi ketua dalam kelompok berandalan. Sudah lama Nicho tidak berkelahi, dia merasa senang karena mendapat mainan baru. Dengan lincah Nicho menghindari serangan mereka, lalu dengan jasnya Nicho berhasil membuat pisau yang mereka pegang terlempar jauh.


Raisa yang hanya diam merasa tegang, dalam hatinya terus berdoa semoga suaminya diberi keselamatan. Nicho kemudian teringat istrinya yang pasti sedang gelisah, dengan kecepatan penuh Nicho menyerang. Dia membuat keempat preman itu tak sadarkan diri dan segera memeluk istrinya.


"Aku sangat merindukanmu sayang."


Raisa hanya diam menangis.


"Aku sangat khawatir, aku sudah mencarimu dari kemarin. Jangan pergi lagi dariku."


"Maafkan aku."


"Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu."


Nicho memeluk Raisa erat seraya membelai rambutnya dengan lembut.


"Sekarang ayo kita pulang."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2