Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Permohonan


__ADS_3

Raisa : "Tuan, tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja."


Arthur : "Asal kamu tahu, seumur hidup baru kali ini ada yang melempar sandal ke kepalaku. Untungnya sandalmu tidak keras."


Alex : "Sudahlah Arthur, maafkan saja dia. Lagipula kau pantas mendapatkannya."


Jimmy : "Pft."


Arthur : "Kalian berdua dari dulu jahat sekali padaku."


Alex : "Yang benar saja, kau yang suka cari gara-gara."


Arthur : "Hei, itu kan wujud kasih sayangku pada kalian. Dan kamu nona, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja."


Padahal aku baru saja lepas dari kandang singa, sekarang aku masuk ke kandang harimau.


Raisa : "Tuan, tolong ampuni saya."


Arthur : "Aku ingin membuat kesepakatan. Jadilah pacarku."


Semua mata melotot ke arah Arthur.


Raisa : "Apa-apaan."


Arthur : "Jangan salah paham, aku ingin kamu jadi pacar pura-pura saja. Ibu ingin aku segera menikah. Dan itu membuat aku pusing."


Alex : "Kau yakin dengan keputusanmu? Raisa bisa kena masalah nantinya."


Arthur : "Aku yakin tidak apa-apa, lagipula hanya sementara."


Raisa : "Bagaimana kalau saya menolak?"


Arthur : "Kalau kamu menolak, jangan salahkan aku kalau aku akan berbuat nekad."

__ADS_1


Raisa : "Saya tidak mau tuan, titik."


***


Beberapa hari kemudian.


Arthur menunggu Raisa di depan restoran.


Arthur : "Malam nona."


Raisa : "Tuan?"


Arthur : "Mari ku antar nona pulang."


Raisa : "Apa?"


Arthur menarik tangan Raisa dengan paksa dan membawanya masuk ke mobil.


Raisa : "Tuan, kenapa kau melakukan ini?"


Raisa : "Beginikah caramu meminta tolong?"


Arthur : "Nona harus mau menjadi pacarku, hanya perlu menemui ibuku satu kali setelah itu selesai."


Raisa : "Baiklah, saya turuti keinginan tuan. Asal jangan ganggu saya lagi."


Arthur : "Akhirnya, terima kasih nona. Kau menyelamatkanku."


***


"Kenapa kamu perginya lama sekali Arthur?" pertanyaan pertama sang ibu saat melihat Arthur melangkah masuk ke dalam rumah


"Tadi mampir ke mall sebentar ibu, beli keperluan untuk pemotretan besok." alasan Arthur sambil menunjukkan tas belanjaan di tangannya

__ADS_1


"Kamu ini beli baju hampir tiap hari, sepertinya mall sudah jadi rumah keduamu."


"Aku kan tidak mungkin pakai baju yang sama untuk urusan dengan kamera ibu. Ini tuntutan profesi, aku harus selalu tampil keren biar semakin dapat tawaran untuk pemotretan."


"Ibu pusing lihat gaya hidupmu. Mall, spa, salon.. perempuan tulen mungkin tidak serajin kamu untuk perawatan."


"Urusan jaga kebersihan tubuh jangan bawa-bawa perbedaan gender ibu. Zaman sekarang, spa sudah bukan milik wanita saja." debat Arthur seperti biasa, memperjuangkan haknya untuk tetap bisa menikmati perawatan gratis bersama ibunya.


"Haduuh, lama-lama ibu bisa bangkrut menuruti gaya hidupmu."


"Cintailah dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain. Itu artinya ibu, kita harus rajin merawat diri sendiri."


"Apapun bahasamu, ujungnya tetap perawatan gratis kan?"


"Haha, ibu tidak suka punya anak keren seperti bintang film? Di grup arisan cuma ibu yang punya anak paling keren seperti Arthur." ucapan Arthur yang semakin tidak jelas arahnya, antara rayuan dan pujian untuk dirinya sendiri.


"Ibu juga tidak suka dengan pacar barumu itu, ibu bisa merasakan kamu terlalu baik untuk dia."


"Aduh ibu, dia memang cuma cocok untuk jadi pacar bukan istri. Besok mungkin juga sudah putus, kepalaku sudah mau meledak menghadapi kelakuannya yang over protektif itu."


"Bagus! Kamu cari wanita lain yang lebih sopan, pintar, dan berkelas. Pasti ada sosok wanita yang mandiri di luar sana, kamu perlu pasangan seorang wanita yang bisa bersikap lebih dewasa. Kalau kamu tidak bisa cari sendiri, nanti ibu yang carikan. Banyak relasi ayahmu yang punya anak perempuan, pernikahanmu juga akan menguntungkan bisnis ayahmu."


"Ampun deh ibu, hari gini masih mikir perjodohan." tawa Arthur terdengar semakin keras


"Dari pada kamu salah pilih pasangan, lebih baik kamu menerima pilihan orang tua. Tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya dan membuat mereka menderita. Ibu ingin kamu bisa memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia, ibu mau pastikan kamu jangan sampai salah pilih wanita."


"Biarkan aku memilih pasanganku sendiri ibu."


"Ibu sudah bebaskan kamu memilih sendiri tapi sampai sekarang tidak ada yang beres."


"Tenang saja ibu, aku sudah punya pacar. Dan aku jamin, dia tidak akan mengecewakan ibu."


"Benarkah? Ibu pegang ucapanmu."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2