
Sore hari
Raisa masuk ke kamarnya, ia mengambil gaun yang ia pakai semalam yang ia simpan di lemari.
Gaun ini ku apakan ya? Gaun ini pasti harganya mahal. Sebenarnya aku suka, tapi.. kalau aku cicil dengan gajiku apa cukup, aku saja tidak tahu berapa harganya.
***
Tak lama kemudian Nicho pulang, sang supir membukakan pintu untuknya. Sang kepala pelayan memberi kode dengan membunyikan bel, semua pelayan bergegas menuju depan pintu menyambut kepulangan majikannya.
"Selamat sore tuan.." ucap para pelayan serempak
"Hmm."
Salah seorang pelayan melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu. Lalu ada yang mengambil tas dan membawakannya ke dalam.
Nicho melihat Raisa yang diam berdiri, ia kelihatan resah dan memikirkan sesuatu. Ia pun mendekatinya.
"Raisa, ayo ke atas."
Mendengar ucapannya, Raisa terkejut.
"I iya tuan."
Mereka naik ke lantai atas
"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu tidak perlu menyiapkan air, aku mau mandi pakai shower."
Perasaan ujung-ujungnya selalu kesana ya
"Sepertinya ada yang kamu pikirkan." tanya Nicho sambil melepas dasinya
Raisa tampak resah untuk menjawab ia mengedarkan pandangannya sambil menunduk
Nicho : "Raisa, aku bertanya padamu."
__ADS_1
Raisa : "Tuan, gaun yang semalam saya pakai. Saya tidak tahu harus saya apakan."
Nicho : "Gaun? Oh, ku kira apa."
Nicho melangkah menuju kamarnya
Raisa : "Tuan!"
Nicho : "Ada apa lagi?" Nicho menghentikan langkahnya
Raisa : "Saya bingung gaun itu harus saya apakan."
Nicho : "Tentu saja dipakai."
Raisa : "Maksud saya.."
Nicho : "Gaun itu untukmu."
Raisa : "Apa, untuk saya?"
Mereka terdiam dan saling menatap cukup lama
"Jangan pikirkan masalah harganya. Kamu sudah berjasa menemaniku semalam. Jadi, terima kasih."
Raisa tercengang, untuk pertama kalinya ia mendengar dari bibir sosok laki-laki yang di kenal dingin dan angkuh mengucap terima kasih padanya. Setelah itu Nicholas mengalihkan pandangannya dari gadis mungil itu, dan kini pipinya merona lalu ia masuk ke kamar.
Dia bilang apa tadi?
***
Jam 7 malam, Raisa tiba di rumahnya. Begitu membuka pintu, ia di sambut oleh kakaknya.
"Raisa, semalam kamu kemana? Kenapa kamu tidak pulang? Aku sangat mencemaskanmu."
"Kakak, semalam aku.."
"Raisa, kamu sudah pulang sayang?"
__ADS_1
baru saja ia ingin menjelaskan, tiba-tiba ibu tirinya datang menghampiri.
"Raisa, kamu pasti sangat lelah. Steve, adikmu baru saja pulang. Tapi kamu sambut dengan banyak pertanyaan." ibunya mulai berkata manis sambil merangkul pundak Raisa
"Ibu, aku sangat khawatir. Dia tidak pulang semalam."
"Ibu minta maaf, semalam Raisa bantu-bantu di rumah majikannya. Kamu tahu sendiri kan, majikannya orang penting. Dia mengadakan pesta di rumahnya, jadi Raisa harus melayani sampai acaranya selesai. Iya kan Raisa?" tanya ibu Steve sambil sedikit mencengkram pundak Raisa
"Iya kak, yang di katakan ibu benar. Aku minta maaf, aku tidak sempat mengabari kakak." menyadari kode sang ibu Raisa mengerti ia harus berbohong
"Syukurlah, aku kira kenapa." Steve menghela nafas lega
"Kalau begitu aku ke kamarku ibu, Raisa."
Sang ibu melihat putranya yang sudah naik ke lantai atas, sikapnya pun berubah. Ia melepas rangkulannya dari pundak Raisa.
"Jangan ceritakan yang sebenarnya pada putraku."
"Memangnya kenapa ibu?"
"Kamu tidak perlu tahu alasannya. Dari pada itu, apa kamu ingin melihatku bertengkar lagi dengan putraku?"
"Tidak ibu."
"Kalau begitu simpan rahasia ini rapat-rapat. Tentang semua yang kamu lakukan dengan majikanmu, jangan sampai putraku tahu. Mengerti?"
"Iya, aku mengerti." Raisa menganggukkan kepalanya
***
Raisa masuk ke kamarnya, ia kembali mengambil gaun pemberian Nicho dan memeluknya, sambil mengenang saat ia berdansa bersama tuannya semalam. Saat gerakan memutar lalu saat Nicho menangkapnya, ia juga mengenang ketika sepasang mata hitam kelam itu menatapnya begitu dalam.
Kenapa aku jadi memikirkan dia, perasaan apa ini? Entah mengapa saat itu aku merasa nyaman bersamanya
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like & komen ya💗
__ADS_1