Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Bukan Milikmu


__ADS_3

Malam hari Nicho pergi di antar oleh sopirnya menuju ke restoran Alex. Kebetulan Alex ada disana. Raut muka Nicho penuh emosi, sampailah mobilnya di depan restoran Alex.


Nicho mulai melangkah masuk ke dalam restoran, dia melihat Raisa yang sedang menghantar pesanan. Saat itu restoran sudah hampir tutup, Nicho sengaja datang untuk menunggu Raisa dan membawanya pergi.


Raisa tidak tahu kalau Nicho berada disana, karena rekannya yang menawarkan pesanan padanya. Nicho hanya memesan minuman. Dia berusaha mengalihkan wajahnya dari Raisa, agar keberadaannya tak di ketahui olehnya.


Akhirnya tiba saatnya Raisa pulang, Alex yang baru berbincang di ruang manager bersama sahabatnya Jimmy. Keluar dari ruangannya lalu menemui Raisa. Pada saat itu amarah Nicho tak tertahankan. Nicho bangun dari duduk dan segera menghampirinya.


"Raisa."


Raisa tersentak mendengar suara itu. Suara yang sering memanggilnya.


"Tuan! Anda sedang apa disini?"


Dahi Alex mengernyit, tapi tak lama kemudian bibirnya tersenyum licik.


"Wah wah wah, seorang presdir William Group menginjakkan kakinya di restoranku."


Mata Nicho menatap tajam Alex, saat ini ia benar-benar berusaha meredam emosinya. Namun seakan-akan Alex memang sengaja memancingnya. Apalagi ia tahu sifat Nicho yang pemarah dan sangat sensitif.


"Raisa, ayo pergi dari sini."


Nicho menarik tangan Raisa, dengan cepat Alex juga menarik tangannya.


Alex : "Hei, mau kau bawa kemana dia?"

__ADS_1


Nicho : "Lepaskan."


Alex : "Dia adalah karyawanku sekarang, dia tidak lagi bekerja untukmu. Jadi aku yang lebih berhak."


"Raisa, kamu harus ikut aku."


Nicho menarik tangan Raisa, Alex juga menarik tangannya. Raisa menatap kedua orang itu bergantian dan merasa bingung dengan keadaan ini.


Jimmy yang mendengar keributan dia pun keluar dari ruangannya dan berusaha melerai mereka tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Karena di antara mereka berdua tak ada yang mau mengalah.


"Tolong lepaskan! tanganku sakit."


Mendengar ucapan Raisa, akhirnya mereka berdua melepas tangannya.


"Raisa, ikutlah denganku. Aku tidak mau kamu bekerja disini." Nicho berbicara dengan lembut sambil menyandarkan tangannya di pundak Raisa


Alex : "Kau dengar itu ha! Lebih baik sekarang kau pergi dari sini. Kau sudah tidak punya hak apapun lagi atas Raisa."


Nicho : "Diam kau brengs*k! Aku ingin sekali memukulmu sekarang."


Alex : "Oh begitu. Kalau begitu ayo kita ke luar. Kita selesaikan secara jantan."


Mereka berdua sudah keluar dari restoran, kini posisi mereka berhadapan. Nicho mengepalkan tangannya, ia masih memiliki kesadaran untuk menjaga etika berhubung statusnya adalah orang yang berpengaruh."


Alex : "Jangan kau pikir aku sama seperti dirimu. Dengan mudahnya menghancurkan persahabatan, merebut tunangan sahabat sendiri."

__ADS_1


Nicho : "Sudah ku bilang berkali-kali kalau aku hanya menemaninya foto waktu itu. Aku tidak tahu kalau media akan meliput kami."


Alex : "Kau masih saja mengelak. Sudah jelas ada bukti foto kalian berciuman."


Nicho : "Saat itu aku tidak mengira kalau Elis akan nekad menciumku."


Alex : "Kau selalu melempar kesalahanmu padanya. Padahal kau sendiri yang memulainya."


Nicho : "Alex, kau tidak bisa melihat kebenarannya karena kau terlalu memujanya. Tidak bisakah kita mengakhiri ini? Dia sendiri yang mengejarku, lalu aku harus bagaimana?"


Alex : "Kau benar. Lebih baik kita akhiri saja permusahan di antara kita. Karena sekarang aku mendapat penggantinya. Kau mendapatkan Elis, dan aku mendapatkan Raisa. Kita bertukar pasangan seperti dalam film."


"Kau.."


Nicho sudah tak bisa menahan dirinya, akhirnya pukulan melayang kepada Alex. Mereka pun berkelahi. Orang-orang di sekitar mereka hanya bisa menonton, tak ada yang bisa memisahkan dua pria itu.


"HENTIKAN!!!"


Kepalan tangan Nicho berhenti yang hampir mengenai Alex. Dia mengalihkan pandangannya ke arah suara tadi. Raisa berjalan mendekat.


"Tuan, kita sudah tidak terikat lagi. Jadi kumohon, berhentilah. Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu ini? Ini yang membuatku tidak nyaman bersamamu. Kau suka memaksakan keinginanmu seenaknya. Mana ada wanita yang suka di kekang. Seakan aku ini adalah mainanmu. Yang bebas kau miliki dan kau buang bila sudah bosan."


"Iya, kau benar. Awalnya aku menganggapmu sebagai mainanku. Aku tidak suka berbagi mainanku kepada orang lain. Dan sekarang, aku akan pergi."


Nicho berlalu meninggalkan Raisa dengan kesedihan yang mendalam. Raisa menatap punggung Nicho sampai dia menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Kenapa ini? Hatiku sakit sekali. Tuan..


Bersambung


__ADS_2