
Setelah malam pertunangan itu, Raisa terlihat sedih dan menangis di dalam kamarnya. Tiba-tiba ia teringat gaun pemberian Nicho yang pernah ia pakai di acara pesta dansa. Ia terbayang oleh sepasang mata hitam kelam yang membuatnya berdebar-debar di kala ia bersamanya malam itu.
"Tuan.."
Tanpa sadar bibirnya bergumam di kala isakannya. Tanpa ia sadari, Steve membuka pintu kamarnya dan mendapati dirinya yang sedang menangis.
"Raisa?"
Spontan ia segera menghapus air matanya. Steve berjalan mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Raisa, kamu kenapa? Bukannya kamu baru bertunangan, lantas kenapa kamu sedih?"
Raisa bergeming dengan muka sembab.
"Ayo ceritakan padaku." Steve melihat gaun yang di pegang Raisa
"Raisa, kamu dapat darimana gaun itu?"
"Gaun ini pemberian tuan, dia pernah mengajakku ke pesta dansa."
"Raisa, sebenarnya apa yang kamu rasakan? Apa kamu menyukainya?"
"Itu tidak mungkin kak."
"Kalau begitu kenapa kamu meratapi kenanganmu bersamanya? Raisa, jangan membohongi perasaanmu sendiri. Atau, kamu akan menyesal kemudian hari."
"Dia terlalu sempurna untukku."
"Raisa, cinta itu tidak memandang status. Selama kamu merasa nyaman bersamanya, mengapa kamu tidak memilihnya? Dan aku merasa dia sangat tulus."
"Tapi sudah terlambat kak, aku sudah terlanjur bertunangan dengan laki-laki lain."
"Kan masih bertunangan, belum menikah kan?"
"Kakak, jika aku memutuskan hubunganku dengan Arthur maka keluarganya pasti marah besar. Ayah dan ibu juga pasti malu."
__ADS_1
"Raisa, selama ini kamu sudah banyak berkorban. Sekarang pikirkanlah dirimu sendiri."
Raisa terdiam sambil menunduk, Steve pun memeluknya dan membelai rambutnya dengan lembut.
"Menangislah sepuasmu, aku tidak akan membiarkanmu menanggung bebanmu sendirian."
"Kakak, maafkan aku."
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena aku sudah menyakiti perasaan kakak."
"Perasaanku murni dari lubuk hatiku yang terdalam. Dan aku akan mencurahkan perasaanku padamu sebagai seorang kakak. Kamu tidak perlu minta maaf Raisa."
Raisa semakin terisak di pelukan Steve.
"Sekarang tidurlah, aku akan menjagamu sampai kamu terlelap."
"Kakak selalu ada untukku."
Raisa berbaring di tempat tidurnya, Steve membelai rambutnya dengan lembut, dan satu tangannya di genggam oleh Raisa dengan erat. Perlahan dia tertidur.
"Selamat malam Raisa." Steve mencium kening Raisa kemudian keluar dari kamarnya
***
3 hari kemudian
Arthur sedang mengendarai mobilnya menuju restoran Alex, sesampai disana dia segera ke ruang manager untuk menemui Jimmy.
Arthur : "Aku ingin kau menjelaskan semuanya padaku."
Jimmy : "Apa maksudmu?"
Arthur : "Ada hubungan apa di antara Nicho dengan Raisa?"
__ADS_1
Jimmy : "Apa maksudmu, aku tidak mengerti."
Arthur : "Jangan berpura-pura, aku yakin pasti kau dan Alex menyembunyikan sesuatu dariku."
Jimmy terlihat resah, di satu sisi ia takut akan mempengaruhi hubungan Raisa dan Arthur. Akhirnya Jimmy terpaksa menjelaskan semuanya pada Arthur, karena ia sebenarnya tahu setelah di beritahu oleh Alex. Ekspresi Arthur berubah setelah mengetahui semuanya. Dia bergegas ke mobil dan melajukan kendaraannya dengan cepat ke rumah keluarga Miller, ayah Raisa.
***
Margareth yang kebetulan berada di ruang tamu membuka pintu setelah mendengar bunyi bel.
"Eh, nak Arthur."
"Bibi, apa Raisa ada di dalam?"
"Sebentar ya, biar bibi panggilkan."
Margareth pergi ke lantai atas, namun Raisa tidak ada di kamarnya.
"Kemana anak itu?"
***
Dengan nafas terengah-engah Raisa berlari menuju ke rumah Nicho setelah dia turun dari taksi.
Raisa memencet bel, seorang pelayan membuka pintu.
"Apa tuan ada di rumah?"
"Tuan Nicho sudah 3 hari tidak pulang."
Raisa terkejut.
"Tiga hari! Kira-kira dia kemana?"
"Aku tidak tahu, dia pergi tanpa memberitahu kami sebelumnya."
__ADS_1
Tuan tidak biasanya seperti ini. Kau ada dimana?
Bersambung