
Saat terbangun, Raisa menyadari hari telah berganti pagi. Rupanya, waktu berlalu begitu cepat. Oh, berapa lama dia bergelung dibawah selimut itu dengan sangat nyaman? Benar, sangat nyaman bukan karena selimut yang membungkus tubuhnya, tetapi karena pelukan lengan Nicho yang melingkar di perutnya begitu posesif. Seolah-olah lengan itu melindunginya dan tidak membiarkan dia pergi.
Setelah ini, Raisa tahu, dia tidak akan pernah bisa pergi dari hidup Nicho. Fakta bahwa kini dia tengah mengandung anak Nicho, membuatnya kian terikat dengan pria itu. Raisa tidak mau disebut munafik, tapi dia merasa bahagia saat Nicho akhirnya menemukan keberadaan dirinya. Nicho yang mungkin dengan susah payah mencarinya, membuat rasa cintanya pada pria itu semakin bertambah. Bukankah itu artinya, Nicho tidak bisa jauh-jauh darinya? Oh, tentu saja. Masa bodoh dengan siapa saja yang menyebutnya tidak tahu diri. Sejak dulu, dia memang hanya mencintai Nicho. Tidak ada pria lain selain dirinya.
Raisa meringis saat mengingat tekad bulatnya untuk pergi dari kehidupan Nicho dan hanya hidup berdua saja dengan calon anak mereka. Itu benar-benar keputusan yang sangat konyol. Dan, kekonyolan itu bertambah saat Raisa mengetahui kebenarannya. Kebenaran bahwa selama ini, Nicho tidak pernah selingkuh darinya. Hanya karena sebuah pesan dari wanita itu, membuat dia benar-benar cemburu dan merasa dikhianati.
Sebesar itukah rasa cintamu pada Nicho, Raisa Angelina?
Ya, benar. Memang sebesar itu rasa cintaku pada suamiku. Sebesar gunung atau seluas samudra, bukan keduanya. Rasa cintaku padanya lebih besar dan lebih luas daripada itu.
Dia, Nicholas William.. adalah cinta pertama dan terakhirku. Aku bodoh karena aku cemburu pada wanita itu. Kesalahpahaman yang seharusnya dapat diselesaikan di hari itu, tapi aku memilih tidak mau tahu karena rasa cemburuku yang begitu besar. Aku menyesal karena menuduh suamiku berkhianat dibelakangku. Aku menyesal telah mengeluarkan maki-makian yang seharusnya tidak aku keluarkan untuk pria itu. Nicholas William.. suamiku.. ayah dari anak-anakku, maukah kau memaafkan perempuan bodoh ini? Maafkan aku, sayang. Maafkan ketidaktahuanku selama ini. Maafkan sikap keras kepalaku ini.
Raisa berjanji, setelah aksi kabur konyolnya yang sangat luar biasa gagal, dia tidak akan kabur lagi dari Nicho. Sekuat apapun dia menyangkal, toh dia sangat mencintainya. Kini, tidak ada lagi alasan untuknya pergi dari kehidupan Nicho setelah penjelasan yang dia berikan padanya. Semua ini hanya kesalahpahaman semata.
"Ck! Bodoh sekali kau Raisa." gumamnya lirih sambil meninju bantal tidurnya.
Lalu tiba-tiba, Raisa merasakan rona merah menjalar di pipinya saat mengingat aktifitas apa yang beberapa jam lalu telah ia lakukan bersama Nicho. Dengan jantung berdebar, Raisa meraba dadanya. Bersyukur karena dia masih memakai baju. Tunggu, dia memakai baju? Bukankah dia dan Nicho semalam.. mereka berdua telanjang bulat? Lalu.. jangan katakan jika Nicho yang telah memakaikan baju padanya!
Raisa memejamkan mata untuk sesaat. Nicho semalam benar-benar bergairah, demikian dirinya. Bahkan, dia sempat menyentuh aset berharga milik Nicho. Memainkan aset itu dengan gerakan tangan kikuk yang membuat Nicho berkali-kali menahan geraman. Sebelum akhirnya mereka melanjutkan ke permainan inti. Raisa merasakan pipinya semakin memanas. Dia tidak pernah seberani itu sebelumnya. Apakah itu ada kaitannya dengan hormon kehamilannya?
__ADS_1
Pelan-pelan, Raisa menyentuh lengan Nicho. Menjauhkan lengan pria itu yang melingkar di perutnya. Namun, Nicho kembali memeluk perutnya erat. Tapi, tidak menyakitinya.
"Mau kemana?" suara serak Nicho membuat Raisa semakin gugup. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Demi Tuhan.. dia sangat malu, ditambah dengan Nicho yang telah terbangun dari tidurnya, adalah paket komplit yang membuat pipinya semakin merona seperti tomat merah.
Membuka mata, Nicho mengernyit mendapati tingkah aneh istrinya. Lalu dengan jahil, dikecupnya berkali-kali tengkuk istrinya. Membuat Raisa meloloskan erangan dari mulutnya. Membuatnya semakin mengingat dengan jelas aktifitas panasnya bersama Nicho semalam.
"Sayang.. hentikan!" Raisa menutupi tengkuknya dengan sebelah tangannya.
Tanpa diduga, Nicho membalik tubuh Raisa, membuat Raisa terkejut karena gerakan yang tiba-tiba itu.
"Jangan marah lagi sayang, kasihan calon anak kita." Tangan Nicho melingkari pinggang Raisa dan memeluknya.
"Tahu darimana aku hamil?" sekali lagi Nicho mengecup kening istrinya yang bergelung nyaman dalam pelukannya.
"Oh, aku sudah menduganya." Raisa berpikir sejenak
Raisa mendongak dan mendapati Nicho tengah memejamkan mata dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Aku minta maaf karena telah menuduhmu berselingkuh." Raisa bergumam pelan. Tangannya terulur untuk mengusap pipi suami tercintanya. Membuat Nicho membuka mata.
"Maaf atas tindakan konyolku, memilih pergi dari hidupmu." Raisa menghela nafas sejenak sambil tetap mengusap pipi Nicho.
__ADS_1
Raisa ingin menangis. Menangisi kebodohannya selama ini. Dia telah menyakiti hati suaminya. Nicho tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi Raisa sebelum memberikan kecupan di tangannya.
"Kamu tahu sayangku? Disini, aku juga bersalah. Aku pikir, tidak menjadi masalah jika aku tidak menceritakan tentang Marisa kepadamu." Nicho mengaitkan jari tangannya dengan jari tangan Raisa. Lalu, menggenggamnya lembut.
"Dan, untuk kepergianmu sayang.. kamu benar-benar telah melakukan kejahatan pada suamimu sendiri, kamu tahu itu? Kamu benar-benar tega kepadaku."
Lalu meledaklah tangisan Raisa. Raisa melepas genggaman tangan Nicho dan segera melesakkan kepalanya di dada Nicho. Menangis sejadinya di dada pria itu dengan kedua tangan mencengkeram piyama Nicho. Raisa tidak mengerti kenapa dia bisa sebodoh itu sebelumnya. Oh, enyahlah kau pikiran negatif yang selama ini bersemayam didalam tubuhnya.
"Maafkan aku.. maafkan aku.. aku tahu aku salah, sayang.. maafkan aku.." meracau dengan suara teredam dada Nicho.
"Maafkan aku sayang.. aku tidak akan berbuat bodoh lagi.. tolong maafkan aku.."
Nicho menghela nafas sebelum mengusap punggung istrinya yang bergetar. Dia hanya bergurau saat mengatakan jika Raisa kejam padanya. Namun, reaksinya sungguh diluar dugaan.
"Kenapa kamu bertambah cengeng, hmm?" berniat menggoda istrinya supaya berhenti menangis, Nicho justru merutuki hal itu saat Raisa semakin menangis di dadanya.
"Sayang.. hey." Nicho berusaha menjauhkan Raisa dari dadanya. Bukan karena takut piyamanya basah oleh air mata Raisa, toh piyamanya sekarang sudah basah. Namun karena Nicho ingin melihat wajah istrinya itu untuk menyeka air mata yang membasahi pipi dan menenangkannya.
"Come on, sayang.. berhentilah menangis.." Nicho meminta dengan lembut sambil berusaha menjauhkan tubuh Raisa. Namun, Raisa menggeleng kuat dengan kedua tangan masih mencengkram piyamanya.
"Ok, fine. Menangislah kalau begitu."
__ADS_1
Bersambung