Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Tanda Merah


__ADS_3

Raisa lari ke kamarnya setelah di cium oleh Nicho. Dia memandang dirinya di depan cermin. Terlihat bekas ciuman yang memerah pada lehernya.


"Keterlaluan! Kenapa dia menciumku seenaknya. Nanti bagaimana kalau orang lain melihat memar ini. Aaaa!! Aku lama-lama bisa gila di rumah ini!"


***


Sepulang di rumah


"Raisa, kamu sudah pulang." tanya Steve yang tidak sengaja berpapasan dengan Raisa di lantai 2


"Kakak." Raisa merasa canggung sambil menyentuh lehernya


"Raisa, kenapa kamu pakai syal? Kamu sakit? Padahal udaranya tidak dingin."


"Iya kak, aku agak tidak enak badan."


Steve langsung khawatir, kemudian menyentuh kening Raisa.


"Tidak apa-apa. Keningmu tidak panas."


"Hmm, aku masuk ya kak."


Raisa meninggalkan Steve begitu saja, hal itu membuat Steve curiga dengan sikapnya yang aneh.


***


Keesokan pagi


Steve kembali memastikan keadaan Raisa. Kebetulan Raisa lupa memakai syalnya. Steve terkejut saat ia melihat bekas memar di leher Raisa.


Steve : "Raisa, titik merah apa itu di lehermu?"


Raisa : "Oh, ini. Kemarin aku di gigit kecoa kak saat aku bersih-bersih."


Steve : "Kecoa, masa sih? Bagaimana bisa ada kecoa di rumah majikanmu."


Raisa : "Aku membersihkan gudang kemarin."


Setelah memberikan jawabannya, Raisa kembali ke dapur untuk memasak.


***


Sepuluh menit setelah Raisa berangkat kerja, Steve menemui ayahnya yang sedang bersantai di ruang tamu sembari menyesap kopi.


"Ayah."


"Steve, duduklah."

__ADS_1


Steve pun duduk


"Ada apa? Sepertinya ada hal yang ingin kau bicarakan."


"Aku langsung ke intinya. Apa ayah tidak bisa menghentikan perjanjian itu?"


Ayah Raisa mengalihkan pandangannya


"Ayah, jawab aku."


"Steve, dengarkan ayah. Perjanjian itu bukanlah perjanjian sembarangan. Apalagi ayah berurusan dengan pemuda itu. Bukankah kau tahu sendiri rumor tentangnya."


"Ayah tidak perlu takut perusahaan ayah bangkrut. Ayah bisa merintis lagi. Bagaimana bisa ayah lebih memilih menyerahkan Raisa kepada laki-laki itu."


"Kau mudah mengatakannya. Bayangkan saja memulai semuanya dari nol. Lagi pula apa yang di katakan ibumu ada benarnya."


"Apa? Memangnya ibu mengatakan apa?"


Ayah Raisa terdiam


"Ayah?"


"Kau tidak perlu tahu. Urus saja masalahmu sendiri." setelah mengatakan itu ayah Raisa berlalu


Steve menghela nafas panjang dan bergumam menyebut nama Raisa.


***


"Eva?"


"Raisa?"


"Ini syal yang ku pinjam kemarin, terima kasih ya."


"Loh kok sudah di kembalikan."


"Eva, ada yang ingin ku tanyakan. Sebenarnya aku penasaran dengan pemilik rumah ini."


"Apa maksudmu?"


"Sejak aku kesini aku tidak pernah melihat keluarganya. Apa dia tidak punya keluarga?"


"Kalau soal itu lebih baik kamu tanya saja kepada kepala pelayan di rumah ini. Karena aku juga belum lama bekerja disini. Kalau kamu ingin bertemu, dia ada di dapur sekarang."


"Baiklah, aku kesana sekarang."


***

__ADS_1


Raisa bergegas ke dapur, sesampai di dapur ia melihat seorang pria paruh baya memiliki kumis tipis. Ia terlihat tegas dengan raut datar. Raisa berjalan mendekatinya pelan-pelan.


"Permisi."


Pria itu menoleh ke arahnya


"Nona, apa kau memanggilku?


"Benar paman, ada yang ingin saya tanyakan kepada anda."


"Maaf?"


"Tentang tuan Nicho."


Raut muka pria itu berubah, ia sedikit terkejut mendengar jawaban Raisa.


"Silahkan, saya akan menjawab apa yang saya ketahui. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Sam."


"Saya Raisa Angelina."


"Jadi nona ingin bertanya apa?"


"Tuan Nicho itu orangnya bagaimana? Dan kenapa saya tidak pernah melihat keluarganya."


"Tuan muda sudah lama tinggal terpisah dari kedua orang tuanya, jauh sebelum nona datang kesini. Dan tentang sikap tuan muda saya minta maaf, saya tidak bisa memberitahu nona. Karena itu urusan pribadi."


"Oh begitu ya, terima kasih paman. Kalau begitu saya kembali bekerja."


***


Sore hari


Raisa menunggu kepulangan Nicho, tapi dia tak kunjung pulang. Hal itu membuat Raisa cemas, tidak seperti biasanya dia seperti ini. Hingga sore berganti malam, Nicho belum pulang juga. Raisa semakin khawatir.


Laki-laki itu kenapa belum pulang juga. Dimana dia? Tapi kenapa aku jadi khawatir begini.


Setelah Raisa bergumam dalam hati sambil mondar-mandir di ruang tamu akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


Sementara, Nicho sedang dalam perjalanan pulang ke rumah sekretarisnya .


"Tuan muda, apa anda tidak ingin pulang?"


"Malas."


Sepertinya ini menyangkut gadis itu, kalau begitu lebih baik aku diam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2